Dalam perspektif ini, tauhid tidak sekadar doktrin teologis, tetapi proyek peradaban yang menuntut integrasi antara iman, ilmu, dan amal.
Kesalehan tidak lagi cukup diukur dari intensitas ibadah, tetapi dari sejauh mana ia menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan ekonomi, dan kemajuan kolektif.
BACA JUGA:Mencegah Terjadi Second Disaster dari Bencana melalui Perbaikan Penanganan Kesehatan Kebencanaan
BACA JUGA: Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Salah Satu yang Memenuhi Kriteria Ideal Rais Aam
Muhammadiyah memiliki warisan kuat untuk itu, tetapi warisan saja tidak cukup tanpa pembaruan berkelanjutan.
Pertanyaannya, apakah Muhammadiyah siap melampaui zona nyaman sebagai gerakan besar, dan benar-benar menjadi motor utama peradaban yang menghubungkan spiritualitas dengan kemajuan dunia nyata?
Prof Jamhari Makruf, Ph.D. (Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII))