Rupiah Anjlok, IHSG Kembali Ditutup Melemah di Level 5.846
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026 ini secara resmi telah mengakhiri sesi perdagangannya dengan kembali terkoreksi di zona merah.-Foto: Bianca/Disway.id-
JAKARTA, DISWAY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026 ini secara resmi telah mengakhiri sesi perdagangannya dengan kembali terkoreksi di zona merah.
Berdasarkan hasil pantauan Disway, IHSG Kamis 4 Juni 2026 sore ini ditutup dengan terkoreksi sebanyak 94,23 poin, atau setara dengan 1,59 persen ke level 5.846,84.
BACA JUGA:IHSG Sesi Siang Makin Berdarah-Darah, Melemah 3% Ikuti Jejak Rupiah
Jumlah tersebut diketahui sedikit lebih besar apabila jika dibandingkan dengan penutupan sesi I perdagangan siang ini, yang ditutup dengan melemah tajam sebanyak 204,94 poin, atau setara dengan 3,45 persen ke level 5.736,13.
Di sisi lain, pelemahan serupa juga terjadi kepada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang juga ikut turun mendekati penutupan.
Dalam hal ini, Indeks LQ45 terkoreksi sebanyak 8,08 poin, atau turun sebesar 1,37 persen ke level 580,92.
BACA JUGA:IHSG Kena Batunya Buntut Pelemahan Rupiah ke Level Rp17.900, Analis Singgung Rating Danantara
Pelemahan Rupiah
Sebelumnya, hasil analisis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk menilai bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah yang tengah menimpa Indonesia sendiri dinilai menjadi faktor utama dibalik pelemahan pergerakan IHSG.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada.
Dalam penuturannya, dirinya menyampaikan bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah hingga di kisaran angka Rp 18.000 telah menjadi alasan utama dibalik sentimen negatif pasar modal.
"Sentimen negatif disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh level Rp 17.900 per dolar AS dan," jelas Priyambada kepada Disway.
BACA JUGA:Nyaris Hijau saat Ditutup, IHSG Merosot Tipis ke Level 6.127
Dalam upaya untuk mengantisipasi dampak dari pelemahan Rupiah ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan bahwa BI akan tetap selalu meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
Selain itu, BI juga turut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: