BACA JUGA:8 Manfaat Konsumsi Blewah saat Buka Puasa, Jadi Sumber Energi hingga Bantu Jaga Berat Badan!
Hindari Diet Ekstrem
Belakangan ini, banyak orang, terutama generasi muda, mencoba program detoks atau diet ekstrem setelah Lebaran.
Namun, Witaningrum memperingatkan bahwa diet ekstrem memiliki risiko besar jika dilakukan tanpa pengawasan medis.
Diet rendah karbohidrat, rendah lemak, atau sangat rendah kalori dapat menyebabkan efek samping seperti penurunan massa tulang, peningkatan asam urat, dan kekurangan mikronutrien.
Dalam jangka panjang, diet tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker akibat meningkatnya peradangan.
Ia menegaskan bahwa individu sehat tidak seharusnya menjalani diet seperti itu tanpa indikasi medis.
Bahkan suplemen vitamin yang sering dianggap sebagai solusi cepat juga bisa menimbulkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan.
BACA JUGA:Pekan Kesadaran Penyakit Radang Usus: Awalnya Diare, Demam, Berat Badan Turun
Daripada mengikuti tren, Witaningrum menyarankan untuk menjalani gaya hidup sehat yang konsisten dan berbasis bukti.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan menjaga kesehatan jauh lebih terjangkau dibandingkan mengobati penyakit di kemudian hari,” ujarnya.
Gaya hidup sehat seharusnya tidak terasa membebani. Ia mendorong masyarakat untuk menjalaninya dengan percaya diri, gembira, dan tenang tanpa terjebak tren sesaat atau FOMO (fear of missing out).
BACA JUGA:Kemenkes dan BGN Sepakat: Ukur Tinggi dan Berat Badan Penerima MBG Setiap 6 Bulan Sekali
Hidrasi dan Tidur Cukup
Terakhir, ia menekankan bahwa hidup sehat bukan hanya soal makanan, tetapi juga mencakup kecukupan cairan, olahraga teratur, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres yang baik.
Dengan langkah kecil namun konsisten, pemulihan pola makan setelah Lebaran dapat menjadi titik awal menuju kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.
Setelah hidangan perayaan dan saling memaafkan, kini saatnya berdamai dengan tubuh, memberi kesempatan untuk pulih, dan menguatkannya untuk hari-hari ke depan.