Ia pun menuruti permintaan abang-abangannya itu, ternyata JS diajak ke Jalan Biak di Kawasan Roxy, Jakarta Pusat. Ternyata senior JS di tongkrongan itu membeli satu lempeng tramadol.
Pengedar Tramadol di Jalanan Tanah Abang Sasar Usia Produktif-Humas Polres Jakpus-
Dari situlah JS penasaran akan obat tersebut. Ia mulai mencobanya ketika duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP).
"Nenggak satu butir gak kerasa. Minimal 3-4 baru enak, dicampur kopi biasanya cepet naik (tinggi)," kata dia kepada Disway, Minggu, 5 April 2026.
Pria yang sekarang dikaruniai dua anak itu mengemukakan, puncak ketergantungannya pada tramadol terjadi ketika dirinya tidak naik kelas. Merasa frustasi. Akhirnya tm jadi pelarian.
"Kusut dulu waktu nggak naik kelas, akhirnya buat pelariannya nenggak tm. Yaudah gajelas," imbuhnya.
Ia mengatakan, pola tersebut terus menghantuinya. Ketika stress, patah hati dan kesipan--tramadol selalu menjadi teman setianya.
"Sampai badan pada gatal-gatal kalau nggak tm," urainya.
Kebiasaannya buruknya itu mulai berkurang kala JS merasa menggigil. Seperti badannya membutuhkan barang tersebut, namun dirinya menolak.
"Greges badan, kaya pada kuning-kuning gitu," ungkapnya.
Dari situlah ia sadar, akhirnya perlahan meninggalkan barang haram tersebut. Sampai akhirnya dia mempersunting masa lajang dan menemukan dambaan hatinya.
Sementara itu, pria berinisial DAP, juga menceritakan masa kelamnya saat terjerumus akibat tramadol. Bagi dia, tm adalah dopping untuk bekerja.
Semua berawal ketika dirinya bekerja di pergudangan kawasan Kalideres, Jakarta Barat. DAP berposisi sebagai kuli panggul barang-barang.
Suatu saat, ia melihat temannya bekerja tidak pernah letih dan selalu bersemangat menjalani hari. Gaya bicaranya pun gacor seperti burung.
Setelah berkomunikasi dengan temannya itu, DAP diajari untuk mengkonsumsi tramadol. Dari situlah ia mengenal barang jahanam tersebut.
"Awalnya cuma ikut-ikutan teman, katanya biar kuat kerja. Lama-lama malah jadi kebiasaan," kata DAP kepada Disway, Minggu malam.