BACA JUGA:Negara Kuat Butuh Hukum Kuat: Tantangan di Balik Komitmen Presiden
Anis lalu mengangkat satu pakcoy yang disisihkan. “Kalau seperti ini tidak bisa dijual,” katanya sambil menunjukkan daun yang berlubang dimakan ulat.
“Kami jual yang betul-betul bagus, bersih, dan sudah dicuci.”
Standarnya tinggi. Tidak sekadar menanam lalu menjual.
Anis bercerita, awalnya ia hanya ingin punya aktivitas setelah pensiun. Ingin sehat. Itu saja.
Dokter yang memeriksanya mengingatkan bahwa ia punya riwayat keluarga diabetes melitus yang kuat. Ayahnya, ibunya, kakaknya, hingga adiknya meninggal akibat penyakit gula.
BACA JUGA:Republik Curiga: Semua Menuduh, Tak Ada yang Membuktikan
Ia diminta mencari aktivitas fisik yang menyenangkan.
Dokternya kemudian menyarankan belajar hidroponik. Bahkan diarahkan untuk melihat langsung praktik hidroponik di Bandung sebelum memutuskan terjun lebih jauh.
Anis tertarik. Lalu belajar.
Awalnya sederhana. Hanya untuk kesehatan. Tidak ada niat bisnis. Ia mulai membuat kebun hidroponik kecil di halaman rumah. Sambil praktik, sambil terus belajar.
“Saya kuliah lagi di Politeknik YouTube Indonesia,” katanya sambil tertawa.
BACA JUGA:Partisipasi Semesta, atau Sekadar Slogan Semesta?
Kalimat itu terdengar ringan, tapi justru di situ menariknya.
Seorang doktor keuangan tidak gengsi belajar dari YouTube.
Tidak merasa ilmunya selesai hanya karena gelar akademiknya panjang.