Kini hidroponik Anis berkembang pesat. Yang awalnya sekadar aktivitas menjaga kesehatan setelah pensiun, berubah menjadi sumber ekonomi yang serius. Betul-betul jadi cuan.
Hasil kebunnya sudah masuk pasar modern di Kota Serang dan Kota Cilegon.
BACA JUGA:Yang Saya Dengar dari Timor Leste
Bahkan ia mulai membutuhkan lebih banyak petani hidroponik untuk memenuhi permintaan pasar.
“Kalau sendiri tidak cukup,” ujarnya.
Pasar sayur hidroponik memang punya segmen tersendiri. Konsumen kelas menengah ke atas yang ingin sayuran segar, sehat, dan higienis.
Untuk menjaga kualitas, air pencuci sayur yang digunakan pun sudah melalui uji laboratorium. Sambil menjelaskan, Anis menunjuk beberapa kran air di area kebunnya.
Sejak 2018, ia juga mulai membuka pelatihan hidroponik bagi masyarakat umum.
BACA JUGA:Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
Banyak peserta berasal dari kalangan pekerja yang memasuki masa persiapan pensiun.
Di Graha Hydroponik bahkan sudah tersedia ruang pelatihan khusus dengan kapasitas sekitar 25 orang. Tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya.
Anis ingin semakin banyak orang menjadi petani hidroponik.
Menurutnya, pertanian modern tidak harus identik dengan lumpur, panas, dan kerja fisik berat.
Ia menyebut hidroponik sebagai pertanian futuristik.
“Tidak perlu lahan luas. Yang penting kemauan,” katanya.
BACA JUGA:Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak