Kalimat itu terasa seperti kritik halus terhadap cara berpikir kita selama ini.
Kita terlalu sibuk bicara luas lahan sebelum mulai bertani. Padahal banyak lahan tidur di sekitar kita yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.
Anis membayangkan setiap kompleks perumahan memiliki area hidroponik sendiri di lahan fasilitas sosialnya. Warga bisa menghasilkan sayuran segar dari lingkungannya sendiri.
Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi menjadi aktivitas produktif yang bisa mengurangi pengangguran.
Ia lalu memberi contoh sederhana.
BACA JUGA:Ketika Dampak Menjadi Mantra Baru
Tahun 2017, harga pakcoy di pasar tradisional sekitar Rp5 ribu per kilogram.
Sementara hasil hidroponik bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram.
Sekarang pun selisihnya masih jauh. Sayur biasa di pasar tradisional sekitar Rp15 ribu per kilogram. Sedangkan hidroponik miliknya dijual Rp15 ribu per 150 gram.
Pasarnya ada. Nilai ekonominya juga nyata.
Karena itu Anis ingin menciptakan petani-petani futuristik. Tidak dibatasi usia. Tidak harus muda. Tidak harus punya sawah luas.
Yang penting mau belajar.
Petani yang punya masa depan. Bukan petani yang sekadar punya kegiatan.
By Mashudi, Direktur Operasional, Pemberitaan, dan Jaringan Disway.id