Selfie Dulu, Tuhan Nanti

Senin 06-07-2026,08:36 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

JAKARTA, DISWAY.ID - Di zaman sekarang, barangkali yang paling cepat bangun bukan manusia, melainkan kamera depan.

Bahkan sebelum mata sepenuhnya terbuka, tangan sudah lebih dulu mencari smartphone, memastikan satu hal penting: apakah wajah ini layak untuk dunia hari ini? Jika ya, maka hari bisa dimulai.

Jika tidak, ya… filter diciptakan untuk menyelamatkan peradaban.

BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Konon, menurut Sigmund Freud, narsisme adalah soal cinta diri yang berlebihan, sebuah kondisi ketika seseorang terlalu terpesona oleh dirinya sendiri.

Tapi Freud mungkin tak pernah membayangkan bahwa di abad ke-21, cinta diri bisa diproduksi massal, diberi caption, lalu diunggah dengan harapan mendapat validasi dari ratusan bahkan ribuan jempol digital.

Kalau dulu orang bercermin di kaca, kini orang bercermin di algoritma.

Kita hidup di masa ketika Narcissus tidak lagi tenggelam di kolam, melainkan berenang bahagia di lautan likes, views, dan followers.

Ia tidak mati karena mencintai bayangannya sendiri, tapi hidup abadi dalam story highlight.

BACA JUGA:Optimalisasi Kampus sebagai Hub Dunia Global, Dunia Usaha, dan Dunia Industri

Fenomena ini menjadi menarik ketika narsisme tidak lagi dianggap sebagai gangguan, tetapi gaya hidup.

Orang tidak lagi bertanya “apakah ini baik?” melainkan “apakah ini estetik?” Aktivitas sehari-hari berubah fungsi: makan bukan untuk kenyang, tapi untuk konten; olahraga bukan untuk sehat, tapi untuk progress post; bahkan ibadah pun kadang terasa seperti sesi dokumentasi spiritual dengan resolusi tinggi.

Dalam bahasa agama, apa yang oleh psikologi disebut narsisme, oleh tradisi Islam dikenal sebagai ujub, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri.

Bedanya, kalau dalam psikologi ia didiagnosis, dalam agama ia diwaspadai. Sebab ujub bukan sekadar soal mencintai diri, tapi lupa bahwa diri itu bukan milik sendiri.

Di sinilah tragedi kecil itu terjadi setiap hari.

Kategori :