Di Balik Dinding

Kamis 30-07-2026,09:32 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

BACA JUGA:Taxman di Era Modern: Saat Semua Aktivitas Terasa Berbayar

Tetapi tidak ada dinding yang cukup tebal untuk menyembunyikan hati nurani selamanya.

Cepat atau lambat, bukan palu yang merobohkannya.

Melainkan waktu.

Karena waktu adalah penyidik yang tidak pernah cuti.

Ia tidak mengenal hari libur.

Ia tidak menerima amplop.

Ia tidak bisa dinegosiasikan.

BACA JUGA:Kesehatan Mental Menjadi Pondasi Penting dalam Uncertainty Era

Dan ia selalu tahu, di balik dinding mana sebuah cerita sedang menunggu untuk ditemukan.

Maka, sebelum sibuk memperkuat tembok rumah, mungkin kita lebih perlu memperkuat tembok nurani.

Sebab tembok yang terakhir itu tidak pernah membutuhkan semen, tidak memerlukan arsitek, dan tidak bisa dibongkar oleh siapa pun—kecuali oleh pemiliknya sendiri.

Esai ini dapat dibuat lebih "menggigit" lagi dengan gaya satir yang lebih kental ala Gus Dur dan Iwan Fals—lebih banyak permainan ironi, dialog imajiner, serta metafora yang mengundang tawa sekaligus membuat pembaca merenung.

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

Tags : #dinding
Kategori :