BACA JUGA:Di Balik Dinding
Ia harus mengunggah setiap menu makan siang, setiap kursi pesawat kelas bisnis, setiap kamar hotel, setiap kopi pagi di kota yang berbeda.
Seolah dunia tidak percaya bahwa kebahagiaan itu ada jika tidak disertai foto. Yang lebih menarik lagi adalah munculnya profesi baru: keluarga pejabat yang menjadi influencer kemewahan.
Mereka tidak sedang berbicara tentang pelayanan publik. Tidak sedang menjelaskan bagaimana memperbaiki sekolah. Tidak sedang menawarkan solusi bagi petani. Yang tampil justru tas baru.
Sepatu baru. Liburan baru. Mobil baru. Restoran baru. Seakan-akan jabatan adalah paket wisata premium.
Padahal rakyat mengetahui satu kenyataan sederhana. Gaji pejabat negara memiliki angka. Anggaran negara memiliki catatan. Laporan kekayaan memiliki kolom.
BACA JUGA:Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama
Karena itu ketika gaya hidup melonjak jauh melampaui logika, pertanyaan publik pun ikut naik kelas. Bukan lagi, "Mobilnya apa?" Melainkan, "Dari mana?"
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan lahir dari kebencian. Ia lahir dari akal sehat.
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia berkali-kali dikejutkan oleh berbagai perkara korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, pejabat kementerian, kepala daerah, pimpinan lembaga, hingga berbagai institusi lain.
Ada operasi tangkap tangan, penyitaan uang dalam jumlah fantastis, brankas yang menyimpan miliaran rupiah, aset yang nilainya sulit dibayangkan masyarakat biasa, serta berbagai perkara yang membuat publik bertanya-tanya: sebenarnya berapa harga sebuah jabatan?
Nama lembaga boleh berganti. Nama pelaku boleh berubah. Modus boleh berkembang.
BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Tetapi polanya hampir selalu sama. Keserakahan selalu merasa kurang. Di sinilah Surah At-Takatsur menjadi sangat relevan.
Ia tidak sedang mengecam kekayaan.
Islam tidak pernah memusuhi orang kaya. Yang dipersoalkan adalah ketika kekayaan menjadi pusat gravitasi hidup sehingga manusia kehilangan rasa cukup, kehilangan rasa malu, kehilangan empati, bahkan kehilangan kemampuan membedakan mana amanah dan mana kesempatan.