Korupsi pada dasarnya bukan persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan spiritual. Seseorang yang memiliki rumah lima masih ingin rumah keenam.
Memiliki mobil sepuluh masih ingin yang kesebelas. Memiliki rekening yang tak habis tujuh turunan masih merasa miskin. Yang kosong ternyata bukan rekeningnya. Yang kosong adalah ruang batinnya.
BACA JUGA:Penundaisme Maximus
Ada ironi lain yang lebih halus. Koruptor hampir selalu berbicara atas nama kesejahteraan rakyat.
Mereka meresmikan jalan. Mereka memotong pita. Mereka berpidato tentang integritas. Mereka menghadiri seminar antikorupsi. Mereka bahkan tersenyum di depan kamera dengan slogan "melayani sepenuh hati."
Barangkali kamera memang mampu menangkap senyuman. Tetapi kamera tidak pernah mampu memotret hati nurani. Hanya waktu yang bisa. Dan waktu memiliki kebiasaan buruk bagi para pelaku kebohongan.
Ia tidak pernah lupa.
At-Takatsur mengingatkan, "Sampai kamu masuk ke dalam kubur." Kalimat itu luar biasa pendek. Tetapi sangat menakutkan.
Karena kubur adalah tempat pertama di mana semua gelar berhenti bekerja. Tidak ada lagi Yang Mulia. Tidak ada lagi Bapak Pejabat. Tidak ada lagi Direktur Utama. Tidak ada lagi Kepala Badan.
BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama
Tidak ada lagi Jaksa Agung Muda. Tidak ada lagi Kepala Daerah. Tidak ada lagi pengawalan. Tidak ada lagi sirene. Tidak ada lagi ajudan. Yang ikut hanyalah amal.
Kubur adalah ruang paling demokratis di dunia. Semua orang masuk sendirian. Ayat berikutnya bahkan lebih tajam. Allah menyatakan bahwa manusia kelak benar-benar akan melihat neraka.
Bukan membaca berita tentangnya. Bukan mendengar ceramah tentangnya. Tetapi melihatnya sendiri. Lalu manusia akan ditanya tentang seluruh nikmat yang pernah diterima. Betapa menggetarkan.
Bukan hanya harta yang haram yang dipertanyakan. Nikmat yang halal pun akan dimintai pertanggungjawaban.
Lalu bagaimana dengan harta yang berasal dari hak rakyat? Bagaimana dengan sekolah yang batal dibangun? Jembatan yang roboh sebelum waktunya? Rumah sakit yang kekurangan alat? Anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar? Petani yang kehilangan irigasi? Nelayan yang kehilangan pelabuhan?
BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption