At-Takatsur di Negeri Pamer

Kamis 20-08-2026,07:15 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Semua itu mungkin tidak muncul dalam laporan keuangan. Tetapi tidak ada satu pun yang hilang dari catatan Tuhan.

Satir terbesar negeri ini mungkin bukan tentang koruptor yang tertangkap. Melainkan tentang masyarakat yang perlahan mengagumi kemewahan tanpa lagi bertanya asal-usulnya.

Kita terlalu mudah bertepuk tangan kepada orang yang datang dengan mobil paling mahal. Terlalu cepat kagum kepada rumah paling besar. Terlalu mudah memberi hormat kepada orang yang paling kaya.

Seolah ukuran kehormatan identik dengan ukuran garasi. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa sebagian kemewahan dibangun bukan di atas kerja keras, melainkan di atas penderitaan yang tidak terlihat.

Mungkin inilah saatnya kita kembali membaca At-Takatsur, bukan sebagai bacaan pemakaman, melainkan sebagai cermin kehidupan. Sebab surat yang hanya delapan ayat itu sesungguhnya sedang berbicara kepada setiap generasi.

BACA JUGA:Selfie Dulu, Tuhan Nanti

Ia bertanya kepada kita semua: Berapa banyak yang sebenarnya kita perlukan? Berapa banyak yang sekadar ingin dipamerkan? Dan berapa banyak yang sedang kita kumpulkan hanya agar orang lain berkata, "Wah"?

Pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu lama mengingat siapa yang memiliki rumah terbesar. Sejarah lebih setia mengingat siapa yang menjaga amanah.

Sebab harta yang dipamerkan akan lapuk dimakan waktu. Jabatan akan berakhir oleh masa pensiun. Popularitas akan tenggelam oleh algoritma berikutnya. Tetapi hati nurani mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada usia manusia.

Dan ketika seluruh lampu sorot telah padam, seluruh kamera telah mati, seluruh media telah beralih kepada berita baru, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan yang tidak dapat disuap, tidak dapat dinegosiasikan, dan tidak dapat ditunda: "Bagaimana engkau menggunakan nikmat yang pernah Aku titipkan?"

Di hadapan pertanyaan itu, lemari pakaian bermerek tidak dapat menjawab. Garasi mobil mewah tidak dapat memberi kesaksian yang meringankan. Paspor yang penuh stempel perjalanan tidak mampu menjadi pembela.

BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Yang berbicara hanyalah amal, integritas, dan hati yang tidak pernah menjadikan kemewahan sebagai tuhan baru. Mungkin itulah inti Surah At-Takatsur: bukan larangan memiliki, melainkan larangan dimiliki oleh apa yang kita miliki.

By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

Tags :
Kategori :

Terkait