Serius Tangani Banjir, DKI Gelontorkan Rp2,62 Triliun

Rabu 02-09-2026,14:36 WIB
Reporter : Cahyono
Editor : Tri Broto

BACA JUGA:Pemprov DKI Ajukan APBD Perubahan Rp79,59 Triliun, Ada Rp4,41 Triliun dari Utang

Dengan pendekatan itu, Jaktirta tidak bertumpu pada satu jenis infrastruktur. Sistem tersebut menggabungkan penampungan dan pengaliran air, pompa, peningkatan kapasitas sungai, serta perlindungan kawasan pesisir.

Tujuannya bukan sekadar mengurangi genangan, melainkan membangun sistem pengendalian air yang lebih terintegrasi untuk menghadapi risiko banjir dan rob di Jakarta.

12 Sistem Polder Disiapkan

Dinas SDA DKI dalam laman resminya menjelaskan, salah satu komponen utama Jaktirta adalah pembangunan sistem polder. Sebanyak 12 lokasi masuk dalam rencana pembangunan sistem polder, yaitu:

  1. Pompa Bulak Cabe
  2. Pompa Pegangsaan Dua
  3. Pompa Cilincing KBN
  4. Pompa Warung Jengkol
  5. Pompa Kampung Sawah, Rawa Terate
  6. Pompa Kayu Putih, Rawa Terate
  7. Pompa Ancol
  8. Pompa IKIP
  9. Pompa Cempaka Putih
  10. Pompa Cengkareng
  11. Pompa Mangga Raya Greenville
  12. Pompa Daan Mogot yang meliputi Depag, Km 13, dan Km 13,5

Sistem polder tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kawasan dalam mengendalikan genangan, terutama di wilayah yang menghadapi persoalan elevasi dan drainase.

BACA JUGA:DLH DKI Sanksi Tegas 11 Perusahaan Angkutan Sampah: Terancam Dicabut Izin Usaha

Sistem itu tetap beroperasi secara bersamaan dengan jaringan drainase, saluran penghubung, sungai, serta tampungan air agar pengendalian banjir berjalan sebagai satu sistem.

Selain sistem polder, Jaktirta juga menyasar peningkatan kapasitas kali dan sungai. Ada delapan lokasi yang masuk dalam rencana pembangunan, yakni Saluran Penghubung (PHB) Layar, Kali Cakung Lama, Kali Jatikramat, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Cideng Atas, serta Kali Sodetan Sekretaris dan Waduk Tomang.

Penanganan pada sektor ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aliran sekaligus menata kawasan bantaran sungai. Langkah tersebut penting karena persoalan banjir Jakarta tidak hanya berkaitan dengan curah hujan.

Kapasitas sungai, kondisi saluran, sedimentasi, drainase, hingga hubungan antara kawasan hulu dan hilir turut menentukan kemampuan sistem air dalam menampung debit hujan.

BACA JUGA:Dishub DKI Tegaskan Tak Ada Kenaikan Tarif Parkir: Fokus Benahi Tata Kelola dan Parkir Liar

Selain itu, ada pula pembangunan embung dan waduk sebagai tampungan air sekaligus membantu mengurangi debit puncak yang masuk ke sistem sungai. Tiga lokasi yang disiapkan adalah Embung Pondok Labu (Cilandak Marinir), Embung Kebagusan, dan Waduk Sunter Hulu.

Dengan adanya tampungan, air hujan dapat dikelola sebelum masuk ke jaringan aliran utama. Konsep ini membuat pengendalian banjir dilakukan secara berlapis, mulai dari menampung air, mengalirkannya, memompa kawasan yang membutuhkan, hingga meningkatkan kapasitas sungai.

Ruang Peradaban Baru

Ika mengatakan infrastruktur air dalam program Jaktirta tak sekadar dibangun untuk mengendalikan banjir.

Kategori :