Dalam ajaran Islam, umat Muslim juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib, yaitu makanan yang tidak hanya diperbolehkan secara syariat, tetapi juga baik, bersih, sehat, dan aman bagi tubuh.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd ayat 11:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Pesan dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa tawakal perlu disertai dengan usaha nyata.
Seorang Muslim tidak cukup hanya memanjatkan doa, tetapi juga perlu mengambil langkah yang dapat mendukung kebaikan dan keselamatan dirinya.