Lakum dīnukum wa liya dīn.
Untukmu agamamu, untukku agamaku.
BACA JUGA:Berhentilah Memprovokasi Negeri
Bukan berarti kita harus hidup tanpa peduli kepada orang lain.
Justru sebaliknya.
Kita menghormati orang lain karena kita sadar bahwa kehidupan bersama membutuhkan ruang bagi perbedaan.
Aku boleh yakin bahwa agamaku benar.
Tetapi keyakinanku tidak memberiku hak untuk mencabut hak orang lain.
Aku boleh teguh dalam iman.
Tetapi keteguhan iman tidak mengharuskanku membenci tetangga.
BACA JUGA:RDPU atau Deposito, Lebih Baik Parkir Dana Dimana?
Dan mungkin di situlah inti peradaban:
bukan ketika semua manusia mempunyai keyakinan yang sama, melainkan ketika manusia yang berbeda keyakinan masih mampu duduk bersama, makan bersama, bekerja bersama, saling menolong, dan pulang ke rumah masing-masing tanpa rasa takut.
Sebab pada akhirnya, yang diuji bukan hanya seberapa kuat seseorang memegang agamanya.
Yang diuji adalah:
seberapa mampu agama itu membuatnya tetap menjadi manusia.