Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya menjadi simbol negara. Ia harus menjadi etika hidup bersama.
Jangan sampai Indonesia belajar dari api
Melihat Nepal, Indonesia sebenarnya sedang melihat dirinya sendiri dari kejauhan.
Kita mempunyai masyarakat yang sangat majemuk. Agama, suku, bahasa, adat dan tradisi hidup berdampingan.
Dalam keadaan seperti itu, yang kita perlukan bukan masyarakat yang semuanya berpikir sama.
Kita justru membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling membenci.
BACA JUGA:Gus Yusuf, Darah Segar bagi NU
Sebab kerukunan tidak pernah berarti tidak adanya perbedaan.
Kerukunan berarti perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Inilah pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai.
Apalagi di zaman media sosial, sebuah video pendek dapat menjadi bensin bagi konflik. Sebuah potongan suara dapat dipisahkan dari konteks.
Sebuah simbol dapat diberi tafsir provokatif. Sebuah kabar bohong dapat berlari lebih cepat daripada klarifikasi.
Maka, selain toleransi, kita membutuhkan kedewasaan komunikasi.
BACA JUGA:Navigating Crisis Through Brand Awareness: Reputasi, Aset Tak Berwujud Penjaga Eksistensi Bisnis
Jangan setiap perbedaan segera diberi label ancaman.
Jangan setiap simbol agama dianggap sebagai provokasi.