BACA JUGA:At-Takatsur di Negeri Pamer
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Rumusan itu sederhana, tetapi secara filosofis sangat dalam.
Negara mengakui dimensi ketuhanan, tetapi negara tidak boleh menghapus keberagaman manusia dalam menjalankan keyakinannya.
Indonesia terdiri atas Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta berbagai tradisi kepercayaan. Semua hidup dalam ruang sosial yang sama.
Karena itu Pancasila seharusnya tidak hanya dibaca sebagai hafalan lima sila di dinding sekolah.
Pancasila harus menjadi kesepakatan moral untuk hidup bersama.
BACA JUGA:Dana Asing dan IHSG
Sila pertama mengingatkan kita bahwa manusia mempunyai hubungan dengan Tuhan.
Sila kedua mengingatkan bahwa manusia harus diperlakukan secara adil dan beradab.
Dan sila ketiga mengingatkan bahwa perbedaan itu tidak boleh menghancurkan persatuan.
Dengan demikian, ketiganya sesungguhnya mempunyai hubungan yang sangat erat:
Ketuhanan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi fanatisme.
Kemanusiaan tanpa keadilan dapat berubah menjadi slogan.
BACA JUGA:Memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Persatuan tanpa penghormatan terhadap perbedaan dapat berubah menjadi penyeragaman.