"Kerjasama pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan masyarakat khususnya petani," kata M. Faiz.
Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni menyampaikan bahwa keberhasilan panen kali ini adalah hasil dari gotong royong dan kolaborasi semua pihak baik pemerintah, akademisi, badan usaha, dan masyarakat.
BACA JUGA:Hasil MotoGP Austria 2026: Pedro Acosta Menang, Jorge Martin Rebut Puncak Klasemen dari Marc Marquez
Secara khusus dia mengucapkan apresiasi kepada para petani yang gigih dan mau berjalan bersama mengaplikasi hasil rekayasa teknologi ini menjadi manfaat nyata buat masyarakat dan ketahanan pangan Batang.
Bangun Ekosistem Pesisir Berkelanjutan
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan pengembangan Padi Biosalin merupakan bagian dari komitmen PGN menjalankan program tanggung jawab sosial CSR dan lingkungan yang menciptakan manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.
Menurut Fajriyah, panen di Batang menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan membuka lapangan kerja melalui inovasi dan kolaborasi.
Program Padi Biosalin di Batang merupakan bagian dari kerja sama PGN dan BRIN yang telah dikembangkan di sejumlah wilayah pesisir.
Sejak Desember 2024 hingga saat ini, pengembangannya telah mencapai sekitar 232 hektare di Semarang, Jepara, dan Batang.
BACA JUGA:Fortune Indonesia 100 2026, Astra Masuk Peringkat Ke-4 dengan Lebih dari 190.000 Karyawan
Di Semarang, pengembangan dimulai pada Desember 2024 di wilayah pesisir Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu. Dari tahap awal seluas 20 hektare, pengembangan mandiri terus berjalan sampai mencapai sekitar 180 hektare.
Sementara di Jepara, pengembangan dimulai pada September 2025 dengan penanaman 400 kilogram benih pada lahan awal seluas 5 hektare.
Luasan kemudian diperluas menjadi sekitar 20 hektare dan telah mencapai panen pada lahan sekitar 22 hektare dengan produktivitas 6–8 ton per hektare.
Model tersebut juga mulai direplikasi di wilayah lain. Bibit Padi Biosalin 1 yang dikembangkan di Semarang telah diperluas ke Kabupaten Kendal dengan luasan sekitar 353 hektare.
BACA JUGA:30 Contoh Soal AKGTK Madrasah 2026 Guru MI dan Jawabannya, Persiapan sebelum Berkompetisi!
Langkah mitigasi terhadap tantangan perubahan iklim juga dilakukan PGN melalui penguatan ketahanan pangan pesisir dengan upaya menjaga ekosistem.