Bertahan Hadapi El Nino dan Lahan Salin, BRIN-PGN-Pemkab Batang Panen Raya 166,5 Ton Padi Biosalin

Minggu 20-09-2026,21:32 WIB
Reporter: Hariri |
Bertahan Hadapi El Nino dan Lahan Salin, BRIN-PGN-Pemkab Batang Panen Raya 166,5 Ton Padi Biosalin

PGN berharap Padi Biosalin dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.-Istimewa-

BATANG, DISWAY.ID-- Tantangan El Niño dan kondisi lahan pesisir yang memiliki kadar garam (salinitas) tinggi tidak menghalangi produktivitas pertanian di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemerintah Kabupaten Batang berhasil menghasilkan sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dari budidaya Padi Biosalin dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,3 miliar.

BACA JUGA:Lirik Lagu Rollerblade Part Two - no na Lengkap Makna dan Terjemahan, Jenenge Sopo

Hasil tersebut dipanen dalam Panen Raya Padi Biosalin di Kabupaten Batang, Jumat (18/9), melalui program CSR Pengembangan dan Budidaya Varietas Padi Biosalin dan Minapadi Salin pada Kawasan Salinitas Tinggi.

Capaian tersebut menjadi relevan di tengah kondisi iklim yang menantang. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 tercatat 2,6 atau berada pada kategori El Niño sangat kuat. 

Hingga Dasarian I September, sekitar 80,7 persen Zona Musim di Indonesia juga telah memasuki musim kemarau. 

BACA JUGA:MLSC Jakarta Raya dan Yogyakarta Seri 1 2026-2027 Tuntas, Empat Sekolah Raih Gelar Juara

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sektor pertanian, terutama di kawasan pesisir yang memiliki keterbatasan air dan menghadapi salinitas akibat pengaruh air laut maupun rob. 

Di Batang, kondisi tersebut sebelumnya membuat sebagian lahan pesisir tidak produktif selama 6 tahun.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan perubahan iklim, abrasi, dan rob menjadi tantangan bagi keberlanjutan lahan pertanian pesisir. 

Menurutnya, diperlukan langkah adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi, termasuk melalui inovasi pertanian yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan salin.

Ia menilai pengembangan Padi Biosalin dan mina salin di Batang menunjukkan bahwa lahan dengan tingkat salinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif melalui penerapan inovasi dan teknologi. 

BACA JUGA:Syarat Dapat Tiket Gratis Shinkansen Jepang untuk Wisatawan Mancanegara, Indonesia Termasuk?

"Integrasi padi dan ikan juga rumput laut juga berpotensi menjadi model yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah," ujar Hanif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait