Tidak lagi mencari perhatian hanya di lingkungan sekitar. Mereka mencari perhatian melalui jutaan mata.
BACA JUGA:Dilema Pengusaha: Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tidak Berkembang (2)
Tidak lagi sekadar ingin dianggap gagah. Mereka ingin terlihat sukses, menarik, bahagia, produktif, dan sempurna.
Tetapi persoalan dasarnya tetap sama: ingin diakui.
Maka mungkin yang perlu kita tafsirkan kembali bukan hanya “Darah Muda”, tetapi juga “darah manusia”.
Sebab ketika manusia terlalu sibuk membuktikan dirinya kepada dunia, ia bisa lupa bertanya kepada dirinya sendiri:
Siapa sebenarnya aku ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat sufistik.
Sebab di situlah perjalanan manusia dari luar menuju ke dalam dimulai.
BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption
Dari likes menuju kesadaran.
Dari popularitas menuju keheningan.
Dari pencitraan menuju kejujuran.
Dari ego menuju kerendahan hati.
Dan dari merasa paling hebat menuju kesadaran bahwa di hadapan Tuhan, kita semua hanyalah manusia.
Jadi, jangan padamkan darah muda.