Berani diam ketika semua orang sedang berisik.
BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama
Dan yang paling sulit: berani hidup tanpa selalu membutuhkan tepuk tangan manusia.
Dalam sufisme, perjalanan semacam itu adalah perjalanan dari dominasi nafs menuju pengendalian diri. Manusia perlahan belajar bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.
Dunia tidak wajib mengikuti keinginannya.
Orang lain tidak wajib menyukainya.
Dan tidak semua perdebatan harus dimenangkannya.
Ada saatnya manusia berkata:
“Biarlah saya tidak menang di mata manusia, asal tidak kalah di hadapan Tuhan.”
BACA JUGA:Penyeragaman Warna Kemasan dan Ilusi Keberhasilan Pengendalian Tembakau
Mungkin kalimat seperti itulah yang diperlukan oleh darah muda hari ini.
Penutup: Jangan Sampai Darah Muda Menjadi Darah Viral
Rhoma Irama menulis “Darah Muda” ketika dunia belum mengenal TikTok, Instagram, influencer, dan algoritma.
Tetapi ia sudah memahami sesuatu yang jauh lebih tua daripada teknologi: ego manusia.
Itulah sebabnya lagu ini masih berbicara.
Anak muda sekarang mungkin tidak lagi berkelahi di jalan karena persoalan yang sama. Mereka mungkin berdebat melalui layar.