Petir Ngambek

Petir Ngambek

dr Joao Angelo De Sousa Mota --

Siapa yang bilang ngambek itu tidak penting? Ngambek itu childish? Tidak dewasa? Tidak profesional?

Joao Mota sudah membuktikan: Ngambek adalah senjata yang ampuh. Nama lengkapnya Joao Angelo de Sousa Mota. Terbukti setelah sukses menggunakan senjata ngambeknya, Joao mendapat apa pun yang ia inginkan. Bahkan yang tidak ia inginkan.

Tentu tidak semua cara ngambek bisa berhasil. Istri saya pernah ngambek tidak mau makan. Saya pura-pura tidak tahu kalau dia ngambek. Akhirnya dia malu-malu makan sendiri.

Joao termasuk orang yang pintar: ngambeknya lewat media. Alasan ngambeknya pun melankolis: ia mengaku sejak kecil diajari moral yang tinggi di agamanya. Harus memegang amanah. Juga harus menjadi orang yang penuh tanggung jawab.

Timor Timur, tempat Joao lahir dan dibesarkan, memang daerah yang amat agamis –ibarat Aceh untuk Islam. Di daerah itu ia saling kenal dengan Prabowo Subianto –saat anggota Kopassus itu bertugas di sana. Lalu bersahabat.

Setelah Timor Timur merdeka menjadi Timor Leste, Joao menjadi pengusaha di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Ia bergerak di bidang pertanian. Ia memiliki lahan luas yang ditanami banyak jenis hasil bumi.

Ketika Prabowo terpilih menjadi presiden, Joao mendapat jabatan direktur utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itu asalnya BUMN Karya. Yakni PT Yodya Karya. Labanya di tahun 2020 mencapai Rp 30 miliar –setelah kena Covid 19.

Ketika BUMN menjadi Danantara, PT Agrinas Pengan Nusantara menjadi anak perusahaannya. Tapi punya anak terlalu banyak juga repot. PT Agrinas Pangan Nusantara diindukkan ke PT Biro Klasifikasi Indonesia. BKI-lah yang jadi anak Danantara –Agrinas Pengan Nusantara jadi cucunya.

Sebenarnya saya ingin menuliskan Agrinas saja. Biar singkat dan sederhana. Tapi Danantara punya beberapa PT Agrinas. Maka saya harus bersabar untuk selalu menulis panjang namanya: PT Agrinas Pangan Nusantara.

Sedang Agrinas yang satunya mendapat tugas menangani kebun sawit hasil sitaan negara. Luasnya 2,5 juta hektare. Di banyak lokasi. Sebagian belum ada sawitnya.

Saya memuji perubahan BUMN Karya menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara. Harus ada BUMN pangan yang besar dan kuat. Toh masih ada empat BUMN Karya lainnya. Yang besar-besar. Adhi Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, dan PP.

Pujian itu kini menjadi ujian bagi saya. Dan saya tidak lulus. Ternyata saya salah. Tahu bahwa itu salah baru dua hari lalu.

PT Agrinas Pangan Nusantara ternyata tidak hanya menjadi jelmaan Yodya Karya. Ternyata ada satu yayasan yang ikut melebur ke dalamnya. Yakni salah satu yayasan di bawah Kementerian Pertahanan.

Saya bukan saja tidak lulus. Saya ternyata juga kuper: belum pernah mendengar ada satu perusahaan hasil merger antara PT dan yayasan.

Maka saya pikir ulang: mungkin bentuknya bukan merger. Mungkin saja yayasan itu ingin membubarkan diri. Lalu menghibahkan seluruh asetnya ke PT Agrinas Pangan Nusantara.

Anda sudah tahu: yayasan itu kalau bubar (atau dibubarkan) memang tidak boleh membagi kekayaannya ke pengurus, anggota, atau ke swasta. Kekayaan itu harus diserahkan ke negara.

Mungkin Agrinas Pangan Nusantara dianggap memenuhi syarat mewakili negara. Toh perushaan itu 100 persen milik negara.

Rasanya itu jalan yang baik. Di masa lalu banyak angkatan memiliki yayasan bisnis. Sejak reformasi yang seperti itu tidak boleh lagi. Tapi bahwa jalan keluarnya lewat penyatuan ke perusahaan milik negara baru dengar sekali ini.

Setelah diangkat menjadi dirut PT Agrinas Pengan Nusantara, Joao mengirim rencana kerja ke Danantara. Saya tidak tahu apa saja rencana kerjanya. Tahu-tahu tersiar berita besar: Joao mengundurkan diri. Ia merasa tidak amanah. Tidak bertanggung jawab. Menjadi dirut tidak kerja apa-apa. Sudah enam bulan menganggur. Tidak ada rencana kerja yang sudah disetujui. Ia pilih mundur.

Bahwa ia secara terbuka mengumumkan sikapnya itu, mungkin karena ia merasa itulah satu-satunya cara curhat ke Presiden Prabowo. Tentu ia ingin mengadukan nasibnya itu langsung ke Prabowo. Ia mungkin tidak menemukan jalan menuju istana. Juga tidak etis, masak dirut anak perusahaan menghadap presiden. Kan bisa secara pribadi? Mungkin ia juga tidak menemukan jalan menuju Hambalang.

Maka ia putuskan: ngambek lewat media saja.

Ampuh.

Tukang khayal seperti Anda mungkin bisa berimajinasi apa saja yang terjadi setelah Presiden Prabowo tahu soal heboh pengunduran diri itu. Tentu presiden tidak bisa seperti saya yang pura-pura tidak tahu bahwa istri sedang ngambek. Pun mungkin saja istrinya dulu tidak pernah ngambek.

Yang jelas, akhirnya Joao dipertahankan sebagai dirut PT Agrinas Pangan Nusantara. Bahkan mendapat pekerjaan yang luar biasa: menangani pengadaan seluruh bangunan kantor, gudang, dan gerai Koperasi Desa Merah Putih se-Indonesia.

Termasuk pengadaan kendaraan truk, pikap dan akhirnya nanti setiap koperasi harus dilengkapi sepeda motor (simak Dismorning 26 Februari 2026 di channel YouTube DI's Way). Satu truk, satu pikap, satu sepeda motor. Sungguh peluang bisnis baru.

Saya pun akhir tahu: PT Agrinas Pangan Nusantara memang punya hubungan hukum dengan Koperasi Desa Merah Putih. Berarti bahwa Joao membeli mobil pikap sebanyak 105.000 dari India itu atas penugasan koperasi.

Maka ilmu manajemen dan bisnis harus memperbaiki teori-teorinya: mengapa selama ini tidak mengajarkan teori ngambek dalam literaturnya.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Februari 2026: Petir India

Hendro Purba

Dulu waktu kita membeli pabrik mobil TIMOR dari Korea berapa harganya ? Sekiranya uang membeli Pik Up India itu diserahkan kepada Jokowi, bisanya menghidupkan kembali mobil SMK ?

pak tani

Terbaru ! Pidato kenegaraan Trump dalam State of the Union 2026 : Lapangan kerja, investasi, pertumbuhan pendapatan, inflasi, kepuasan publk. Semua memuaskan. Sudah on track dan memuaskan. Faktanya? Anda sudah tahu hihihi Ternyata sama aja, ngga di sana ngga di sini. Oops :)

Udin Salemo

serasa mimpi tapi nyata. wooowwww....cepat sekali pengadaan mobin (mobil india). swasta saja gak mungkin bisa tender pengadaan jumbo gajah bengkak (menurut beol nilai pembelian 24,66 triliun) dalam waktu sesingkat itu. benar-benar kebijakan kilat bikin terkaget-kaget. sebagaimana inyong terkaget-kaget perusahaan jasa konsultan engineering dan manajemen proyek konstruksi simsalabim berubah jadi perusahaan pangan pengelola sawah dan food estate. terkaget-kaget lagi koperasi MP berada di naungan kementrian koperasi. tapi pengadaan barang-barangnya untuk bikin toko dilakukan oleh perusahaan pengelola sawah dan food estate. tapi beruntunglah semua peristiwa itu terjadi di negara india, wkwkwkwk... sehingga inyong gak heranlah, wkwkwk... salam jaga marwah kaltim seharga 8,3 ember. kaltim = kazakhstan lingkar timur, wkwkwk...

pak tani

Pusing adalah Bahasa pak Bos di artikel. Kalau di 'real life' mungkin bahasanya &%(*^@(!$*%&!#

Liam Then

Kwkwkwkkwk ada yang gemes, tapi tak mau ngomong langsung. Biar perusuh saja yang wakilkan

Gregorius Indiarto

Baru dengar impor mobil dari India, 105 ribu unit, Anda seperti tersambar petir. Kalau Anda dengar produksi mobil Esemka, 50 ribu unit saja, Anda pasti langsung gosong. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.

Lukman Nugroho

Rasanya. Jarang sekali pak Bos mengeluh. Bingung, pusing. Biasanya, pasti selalu menemukan jalan kleuar dan jawaban atas kegalauannya. Siapa tak kenal pak Bos. Infonya A1 selalu. Dan akurasinya tinggi sekali. Tapi saya baru ingat. Sejatinya, hidup didunia ini hanya akting. Ada yang aktingnya bagus. Ada yang masih kaku dan wagu. Pak Bos termasuk yang bagus sekali. Padahal sudah tahu banyak. Tapi kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahun.

Galuh Dwipantara

Monitor. Kak...Mungkin ini rentetan sebab akibat. Kemarin mereka menolongku. Keliatannya dari Askar General Jungranjana. Jangan malah tambah banyak kekecewaan nih di hijriyah ini. Apakah mungkin sudah ada bala bantuan dari mereka. Kak...kamu monitor kan. Posisi Nusantara tahun ini ternyata di tengah tengah. Bapak besar dekat timur juga dekat barat. Konflik di masa kita masih banyak yang bahas itu. Kedamaian belum baik baik saja ternyata. Tapi kalau dipikir pikir kak. Jungranjana mampu beli alat excavator di tahun 1985. Di tahun ini negara ini nyari kereta losbak. Masih belum Nemu data di masa depan sih kak. btw. Kak....dimana? Bali Kak Bali.....Teluk sudah panas. 6°59'41.1"S 107°03'32.9"E

Liam Then

Maap, karena ndak ngerti postingan Abang/Kakak dari kemaren saya tanyakan ke AI apa maksudnya. Ini kata AI Kesimpulan: Ini adalah Digital Masturbation. Mereka menikmati sensasi "merasa penting" di ruang publik dengan narasi kiamat dan mesin waktu yang tidak konsisten. Si Galuh teriak "Bali kak Bali" tapi koordinatnya di Iran atau Sukabumi? Itu bukan time travel, itu salah input alamat di Gojek.

pak tani

Inilah saatnya WNI boleh berbangga hati. Omzet 105k SPK tentu bukan kaleng2. Prestasi di saat krisis. Oya, tentu WNI yang saya maksud adalah Warga Negara India

Wilwa

Saran simak dulu 2 youtube ini : 1) Penjelasan Dirut Agrinas soal Rencana Impor Pikap dari India, Mengapa Tak Pilih Produsen Lokal? 25 Feb 2026. Kompad TV Medan. Di sini Joao menjelaskan bahwa semua produsen lokal tak sanggup memenuhi kuantitas dan harga yang diinginkan. Dan sudah ada surat resmi dari produsen lokal soal ketidaksanggupan itu. Yang jadi pertanyaan adalah apakah penawaran itu secara individual? Mengapa tidak ditawarkan via Gaikindo untuk kuantitas sebesar itu yang memang tak mungkin disediakan dalam waktu singkat. Lalu harga satu pikap rerata 240 juta untuk Tata/Mahindra plus after sales service gak kemahalan? Mestinya produsen lokal sanggup bila keroyokan. After sales service pun lebih baik dengan jaringan yang sudah ada. 2) Kopdes Merah Putih di Nama, Made in India di Roda: Siapa Yang Mengambil Laba? 24 Feb 2026. Satu Visi Utama. Sebuah kritik menyeluruh terhadap Koperasi Desa Merah Putih ala Prabowo yang diprediksi akan gagal total. Karena pendekatan top down dan tidak gradual alias langsung raksasa. Beda dengan BUMDes Jokowi yang bottom up atau KUD Suharto yang gradual atau tumbuh bertahap. Dan di akhir youtube baru dibahas 105000 pickup. Yang juga top down approach dan mendadak raksasa.

istianatul muflihah

Bukankah setiap hari rakyat Indonesia terbiasa tersambar 'petir'? Oleh kabar kabar yang kerap dikirim oleh pemerintahnya. Rasanya tidak sulit untuk terkejut. Tidak perlu menunggu ulang tahun untuk mendapat kejutan. Hehehe Tidak sulit menemukan berita berita kejutan itu :) Kejutan dan petir sudah menjelma jadi hukum kekekalan energi. Berita jenis petir tidak akan musnah. Hanya berubah bentuk dari petir satu ke petir yang lain.

hoki wjy

Mungkin karena berteman dg Bpk Joao...tulisan Pak DI mestinya bisa lebih tajam alias keras, Indomaret dan Alfamart saja yg cabangnya ada dimana mana belum pernah sekalipun saya melihat mobil Pick Up berlogo Indomaret atau Alfamart dan apakah mobil India yg didatangkan ada after sale service nya diseluruh pelosok? Kalau tidak ada bisa dijamin dalam 3 -4 tahun akan sudah banyak mobil tsb yg jadi besi tua. Mestinya pemerintah harus selalu ingat iklan dari Alim Markus pemilik Maspion Group. CINTAILAH PRODUK PRODUK INDONESIA...

Wilwa

:):):). WNI. Indonesia? Inggris? India? Italia? Irlandia? Islandia? Iran? Irak? Israel? Ivory Coast? :):):)

Wilwa

Kopdes Merah Putih, MBG, Kodam di setiap provinsi, semuanya dilakukan grusa grusu, tak ada planning matang, tak ada koordinasi, sembrono, tabrak sana tabrak sini. Mendes ingin kopdes mengalahkan indomaret alfamart ala Pertamina ingin mengalahkan swasta yang lebih baik dengan monopoli, seperti buruk muka vermin dibelah, MBG yang mengurangi anggaran pendidikan dari 20% menjadi 14%, tentara diperbanyak padahal di masa depan bukan soal jumlah tentara tapi soal kualitas dan teknologi. Benar kata Juve, seperti komodo, semua ingin digigit dan dimangsa bulat-bulat.

Kujang Amburadul

Mbak, kalo gak pengen terkejut jng ada di InDonesia, harus di OutDonesia.

hanya yotup

NEGERI TIBA-TIBA Tiba-tiba ada MBG, yang jumlah penerimanya besar, dengan anggaran yang masif 1,5T per hari. Kurang lebih 335T per tahun Tiba-tiba ada Kopdes MP, dengan jumlah puluhan ribu unit hampir di seluruh desa se Indonesia Raya. Anggaran pembangunan per unitnya ± 1,6M. Tiba-tiba ada BOP, dengan anggaran sebagai permanent resident per negara sebesar 16T. Tiba-tiba ada impor mobil pick up. Dari negeri Bollywood. Biayanya pun jumbo 24T. Ternyata, kita ini bukan tidak punya uang. Uang kita banyak pakai banget. Ratusan triliun. Hanya mungkin kita bingung dan tidak tahu cara menggunakan uang. Yang penting besar, wah, masif, dan viral. Apakah itu kelak akan berdaya guna atau tidak, itu urusan nanti.

Murid SD Internasional

(((( PETIR CHD )))) CHD kemarin juga selaksa petir. Bayangkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, CHD tembus 200 komen! Dan yang paling mengejutkan, tidak ada Liam Then! Luar biasa. Saya tidak siap dengan fakta tersebut. Selama seperempat dekade saya mengamati dan mengikuti CHD, hanya Liam Then satu-satunya motor penggerak sekaligus pendongkrak komentar masif di CHD. Tidak sekadar mengetik komen bak makalah, komen cerita bersambung ala cerbung Kho Ping Ho pun ikhlas ditulis Liam Then. Sehingga sudah menjadi rahasia umum, jika CHD tembus 150 komen, semua orang sudah tau, 80 komennya itu pasti milik Liam Then. Tapi CHD hari kemarin? Beda. Tiba-tiba para bapak-bapak -- komentator baru -- dari seantero negeri, tumpah-ruah muncul / terjun / turun gunung, di komen CHD. Ada yang cerita anaknya menyabet olimpiade sains, lalu lolos 3 universitas ternama: Toronto di Kanada, New South Wales di Australia, dan British of Columbia. Ada juga yang dapat LPDP level pemda. Bahkan sampai ada komentator yang time travel / mencelat dari masa depan dari tahun 2075. Saya yang lulusan SD sampai minder dibuatnya. Tapi kita tidak boleh pesimis. Kita tidak boleh minder. Kita adalah bangsa yang ((((BESAR)))). Pak @Agus Suryonegoro pun cuma lulusan SMA, tapi di BUMN tinggi jabatannya. Pak Dahlan Iskan pun pernah naik perahu klotok tapi bisa jadi Raja Jawa -- Raja Jawa Pos maksud saya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PIKAP INDIA DAN JURUS KILAT JOAO.. Pak Dahlan memang paling jago memotret "petir" di siang bolong. Kali ini petirnya bukan dari mendung, tapi dari pesanan 105.000 unit mobil pikap India. Angka yang bikin produsen otomotif Jepang di Bekasi mungkin mendadak sariawan. Bayangkan, Joao Mota yang dulu sempat "ngambek" mau mundur karena merasa makan gaji buta, tiba-tiba melakukan gerakan sat-set yang luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, uang muka 30 persen sudah terbang ke sana. Ini bukti kalau Joao memang orang kepercayaan yang tidak suka basa-basi birokrasi. Kalau mau kerja, ya langsung gas pol sampai ke pelabuhan. Tapi, pertanyaannya memang bikin garuk kepala yang tidak gatal. Uangnya dari mana? Rp 9 triliun itu bukan recehan sisa kembalian belanja di minimarket. Kalau bukan APBN dan bukan Danantara, apa ada "hamba Allah" yang begitu dermawan demi swasembada pangan? Belum lagi urusan Koperasi Desa Merah Putih. Mobilnya sudah mau merapat, tapi koperasinya sudah siap belum? Jangan sampai pikap gagah itu nanti cuma jadi pajangan atau tempat jemur kerupuk karena bingung mau angkut apa. Kita tunggu saja, apakah petir ini membawa hujan berkah atau malah bikin korsleting logika anggaran.

bocah ilank

Ternyata pemerintah lebih lucu dari pandji. Negri para pelawak

DeniK

Waktu Pak Purbaya di tanya masalah impor mobil India dari raut wajahnya tampak kesal .jawabanya normatif mungkin karena ia tahu ada kekuasaan besar di balik keputusan impor tersebut . Padahal menkeu sangat konsen terhadap produk dalam negeri .

Hamdi

Semakin memperjelas bahwa setiap keputusan kabinet Prabowo tidak dikaji dengan matang, MBG semakin tak jelas manfaat dibanding besaran anggaranya, mobil India diundang untuk membunuh industri lokal dan resiko suku cadang masa depan, koperasi merah putih makin abu abu. Makin menyedihkan kalau nanti pada akhir 2028 Prabowo panen rapor merah dan hujatan. Artinya, bukan hanya Prabowo, belum pernah ada presiden kita yang punya gagasan yang baik, hanya keputusan sesaat yang penuh emosi dan rasa ria... Artinya ketika nyapres dia tak pernah mempelajari APBN pada jaman presiden sebelumnya,aka dia katakan duitnya ada untuk MBG, dan ternyata duitnya nggak ada malah akhirnya menyunat anggaran pendidikan. Dan gagasan danantara kelihatanya hanya perantara untuk menguasai duit besar untuk membiayai ambisi ide sesaat yang lainya, bukan untuk kebaikan dan kemajuan BUMN. Ditunggu Presiden yang benar benar presiden dengan team think tanknya yang mumpuni. Masih jauh ternyata mimpi anak bangsa 1945, untuk 25 tahun kedepan tetap hanya akan jadi mimpi... Yuk perbanyak tidur ...

Jokosp Sp

Jangan dibikin pusing, walapun sempat bikin pusing petingginya. Gampang cari solusinya. Pertama: langsung didaftarkan dan dibuatkan plat merah sebagai mobil pemerintah. Jadi nanti pemerintah yang nanggung hutangnya. Serahkan ke daerah, jadi masing-masing pemda yang bagian bayar pajaknya koperasi MP. Atau pajak dan kreditnya dibebankan dari dana desa. Kedua: jadikan murni mobil impor. Jual ke masyarakat umum. Agrinas didaftarkan sebagai importir sekalian penjualnya. Lah buruh mbg saja bisa di P3K kan kok?. Padahal ribuan honorer pegawai kesehatan, rumah sakit dan pemda, guru cuma dapat 300 ribuan/bln. Dan itu sudah ada yang puluhan tahun belum diangkat. Coba masuk akal kah isi kepala mereka yang punya wewenang itu?. Nanti yang kritik keras dibilang melawan negara. Subversif?. Sak karepe sing kuoso. Aku kok. Terus pemerintah klarifikasi: ini untuk menekan harga mobil dalam negeri agar lebih kompetitif. Cerdas kan menteri keuangannya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 158

  • Sugi
    Sugi
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Liam Then
      Liam Then
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Liam Then
      Liam Then
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Sumartan
    Sumartan
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
  • DeniK
    DeniK
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
    • Liam Then
      Liam Then
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Liam Then
      Liam Then
  • yea aina
    yea aina
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Nico Gunawan
    Nico Gunawan
  • yea aina
    yea aina
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • mario handoko
    mario handoko
    • Nico Gunawan
      Nico Gunawan
  • sigit
    sigit
  • Nico Gunawan
    Nico Gunawan
    • Johny Frelix
      Johny Frelix
    • Liam Then
      Liam Then
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • pak tani
    pak tani
    • Liam Then
      Liam Then
  • Fendi Njau
    Fendi Njau
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • ong budiman
    ong budiman
  • resamds 19
    resamds 19
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
    • Nico Gunawan
      Nico Gunawan
  • yohanes endrawan
    yohanes endrawan
  • Jairi Deep
    Jairi Deep
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • pak tani
      pak tani
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Hendri Ma'ruf
    Hendri Ma'ruf
    • Liam Then
      Liam Then
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Captain Bejo
    Captain Bejo
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Captain Bejo
      Captain Bejo
    • Liam Then
      Liam Then
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • DeniK
    DeniK
    • siti asiyah
      siti asiyah
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • sutrisno timi
      sutrisno timi
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Lègég Sunda
      Lègég Sunda
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • alasroban
    alasroban
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺