To-be Sera
--
Seperti juga Anda, ekspor tidak mengenal hari libur. Maka ketentuan baru di bidang ekspor pun tetap mulai berlaku hari ini, 1 Juni 2026 –hari libur lahirnya Pancasila.
Ketentuan baru itu intinya ada dua: pertama, ekspor batu bara, sawit dan ferro alloy harus lewat satu pintu. Yakni lewat Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Kedua, dolar hasil ekspor harus ditaruh di dalam negeri setidaknya satu tahun. Dolar itu harus ditempatkan di bank milik pemerintah –anggota Himbara (Himpunan Bank milik Negara).
Memang ada pengecualian dan insentif. Yang ekspornya ke Amerika keharusan menyimpan dolar itu tidak harus 100 persen –hanya 30 persennya.
Lalu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan insentif perpajakan: bunga hasil simpanan dolar di Himbara itu tidak dikenai pajak –alias pajaknya 0 persen. Bunga simpanan di bank biasanya kena pajak 20 persen.
Amerika yang dikecualikan itu rasanya terkait dengan ekspor emas Freeport dari pabrik emasnya yang di Gresik. Modal untuk menambang dan mengolah emas itu besar sekali: semua modal dari Amerika. Bisa saja, waktu pinjam uang untuk operasional Freeport salah satu bunyi perjanjian kreditnya: harus menyimpan uang hasil penjualan emas itu di bank yang memberi pinjaman.
Meski emas bukan tergolong ferro alloy tapi ia tergolong hasil sumberdaya alam. Berarti tetap terikat pada ketentuan baru di bidang keharusan menyimpan devisa hasil ekspor. Hanya saja ekspornya tidak harus lewat DSI –karena emas tidak termasuk ferro alloy.
Meski ketentuan baru itu mulai berlaku 1 Juni bukan berarti DSI mengekspor batu bara, sawit dan ferro alloy mulai hari ini. Para pengusaha tetap bisa ekspor sendiri-sendiri seperti biasa. Bedanya: angka ekspornya harus dilaporkan ke DSI –lewat Bea Cukai. Isi laporan: nama perusahaan yang ekspor, apa yang diekspor, berapa volumenya, ke perusahaan mana ekspor itu, di negara mana, dan berapa nilainya. Ada aplikasi digitalnya.
Dengan laporan seperti itu dalam tiga bulan DSI akan tahu: siapa saja pembeli sumberdaya alam Indonesia itu. DSI lantas bisa mulai kontak dengan mereka. Enam bulan ke depan --mulai 1 Desember 2026– DSI yang akan melakukan ekspornya.
Dalam tiga bulan ke depan harusnya pemerintah sudah tahu: seberapa beda nilai ekspor kita dari sebelumnya. Asumsinya: harus beda –harus meningkat nilai tonase maupun nilai dolarnya.
Kalau tidak beda berarti tidak benar sangkaan pemerintah selama ini: para eksporter itu telah menggarong kekayaan alam Indonesia. Yakni lewat tiga cara: jumlah barang yang diekspor ditulis lebih sedikit dari kenyataannya (under invoicing), harga ekspor lebih murah dari harga pasar karena pembeli di luar negeri itu sebenarnya perusahaan milik eksporter sendiri (transfer pricing), lalu dolar hasil ekspornya disimpan di luar negeri.
Kalau pun tiga bulan ke depan belum bisa diketahui secara nyata, akan dilihat tiga bulan berikutnya. Kalau pun tidak ada perbedaan, bisa saja DSI akan kirim intelijen: siapa sebenarnya perusahaan pembeli sumberdaya alam yang diekspor dari Indonesia itu.
Tentu DSI tidak bisa mengambil tindakan hukum: perusahaan itu tidak di Indonesia, semua dokumen ekspor-impornya lengkap. Tapi DSI bisa saja mem-black list perusahaan tersebut. Ia tidak boleh lagi impor SDA dari Indonesia. Dan perusahaan Indonesia yang ekspor akan dipelototi habis-habisan.
Memang baru batubara, sawit, dan ferro alloy yang ekspornya harus lewat satu pintu DSI mulai 1 Desember 2026. Tapi itu saja nilai ekspornya sudah 30 persen dari total ekspor Indonesia.
Dalam kata-kata Menko Airlangga di konferensi pers kemarin, tiga komoditas itulah yang membuat neraca perdagangan kita surplus selama 71 bulan terus menerus.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan eksportir SDA kini diwajibkan merepatriasi 100 persen devisa hasil ekspor ke dalam sistem keuangan Indonesia dengan tingkat kepatuhan penuh.--Anisha Aprilia
Batu bara dan sawit sama-sama menghasilkan USD24,4 miliar. Lalu ferro alloy USD16,4 miliar.
Ternyata besar juga ekspor ferro alloy kita. Setelah saya teliti, dari seluruh ekspor ferro alloy ternyata yang terbesar adalah ferro nickel: 99 persen dari seluruh ekspor ferro alloy. Kita memang ekspor juga ferrosilico dan ferrochrome, tapi amat kecil.
Berarti Presiden Prabowo tidak gentar dengan suara-suara miring mengenai kebijakannya itu. Biar pun ekonomi diguncang dengan anjloknya saham dan nilai rupiah Prabowo jalan terus dengan kebijakan sumberdaya alamnya.
Menko Airlangga menyebut itu sebagai pelaksanaan UUD 1945, khususnya pasal 33 –sumberdaya alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Harusnya, kata Menkeu Purbaya, di kesempatan yang sama, pasar modal senang. Laba emiten batu bara, sawit, dan ferro alloy akan meningkat. Itu karena hasil ekspornya meningkat.
"Bank-bank Himbara juga akan lebih banyak punya dolar. Punya lebih banyak uang. Anehnya harga saham Bank Himbara belum juga naik," kata Purbaya.
Hari ini, seharusnya hari kepastian: kebijakan baru pemerintah itu sudah pasti dilaksanakan. Tidak ada toleransi lagi. Tidak akan ada lagi harapan-harapan semu: siapa tahu dibatalkan atau ditunda.
Setelah ada kepastian itu tinggal hanya satu yang bisa dilakukan: to be, or not to be. Bukan que sera sera. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 31 Mei 2026: Icip-Icip Galeri
Thamrin Dahlan YPTD
Abah menyesal menjadi tua, begitu pun awak. Seorang sesama tua pernah menegur, "Anda jangan lagi bilang diri ini sudah tua. Jangan jangan." Alasan logisnya kalau anda selalu mengatakan diri Tua maka otomatis pikiran dan gaya anda memang sangat tua renta. Jadi katamya sebut biri anda Senior. Nah Gitu Abah. Kata teman tersebut lebih lanjut. " jiwa anda harus terus muda walaupun tubuh kasar sudah expired " 74 Tahun. Icip icip seminggu ini selalu plus melulu daging sapi dan kambing. Nah Tua itu tidak ada di kamus disway, terutama untuk Perusuh yang selalu sehat walafiat berjiwa muda menemani Abah berciloteh termasuk live dismorning bersama Mbak Shasa. Wah tadi pagi Mas Tomy tampil wajahnya. Kapan kita gathering disway Jilid 5 ,... rinduu Salamsalaman Pak Mario
my Ando
kenapa Aice sukses karna berhasil membalikkan fakta bahwa es krim adl jajanan mahal, Aice itu bisa dijual 2rb 3rb an bandingkan dengan es krim kompetitor yg 15rb an, bahkan es krim becak keliling kampung itu 'temen dari temen saya' dari dia SD sampe skrng anaknya udh SD pun belum prnh beli
Em Ha
"Ope aja bangkrut kalau macam itu". Kalimat yang sering yang diucapkan orang Selatpanjang. Jika melihat perilaku seseorang yang kelewatan borosnya. 'Ope' merujuk orang kaya pemilik Uniseraya. Sekarang dan sejak dulu Ope dan keluarga tinggal di Singapura. Old money, punya rumah 'Landed House' di Negeri Singa. Artinya sangat kaya. Anda sudah tahu. PT Pulau Sambu. Perusahaan terbesar pengolahan kelapa dan turunannya. Santan Kara, Hydro Coco, itu diproduksi di Riau, Indonesia. Lokasinya di Guntung dan sekitarnya. Pemiliknya orang Singapura. Saya tidak tahu, kenapa banyak orang Selatpanjang yang merantau ke Singapura. Menetap disana dan banyak yang berkewarganegaraan SG juga. Membawa asset dari Indonesia dan membeli Asset disana. Saya cari tahu. Ooo ternyata hitung hitung ekonomi lebih untung hidup dan berusaha di Singapura. Sewaktu PPn disini 10% disana GST masih 5%. Sekarang 9% berbanding 11%. PPH Badan disana 17%, disini 22%. Selisih 5% sangat besar bagi pebisnis. Angka setara pertumbuhan PDB Indonesia. Maka sangat wajar adanya praktik transfer pricing, under invoice. Selatpanjang sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia. Saking dekatnya Jenderal Ahmad Yani bermarkas di Selatpanjang memimpin Ganyang Malaysia 1963. Selatpanjang juga punya kedudukan khusus bagi perusuh 'Mario Handoko'. Masa kecil beliau disana. Sama dengan saya.
Taufik Hidayat
Waduh. TUlisan abah kali ini sedikit ngalor ngidul ngetan ngulon. Mulai cerita pulang dari Nanning transit Guangzhou ketemu emak -emak Tionghoa dan berakhir dengan galeri di Mojokerto hingga icip icip Es Krim. Semuanya membangkitkan gairah eh kenangan. Saya juga suka Aice walau kalu naik pesawat CX es krimnya Haagen Dasz. Gak tahu deh pabriknya dimana . Baru tahu juga Aice itu punya Singapura? Soal icip icip jadi ingat pernah juga icip icip . Lebih 100 jenis Coca Cola dari berbagai negara di World of Coca Cola di Atlanta. Lupa-lupa ingat thn 2000 dulu lokasinya kalau ga salah dekat Underground Atlanta dan katanya sekarang sudah pindah dekat olimpic Park. Atlanta ini saya susah lupa karena pertama kali jadi speaker di komperensi yang pesertanya dari seluruh dunia dan jadi banyak kenal kolega, salah satunya yang saya ajak makan malam di Grand Hyatt dan kemudian mati lampu sehingga disuruh pulang sama mbaknya dan gratis .
Juve Zhang
Anda yg sering ke Malaysia ada satu hal unik disana.....semua Toko harus berbadan hukum jadi toko kecil pun di Malaysia akan ditulis PT Toko kecil....atau Toko Kecil SDN BHD....anda pasti ketawa kalau dibandingin disini....masa toko kecil saja harus berbentuk PT....tapi disana wajib semua toko berbentuk PT....jadi anda langsung jadi Direktur PT Toko Kecil.... mungkin ini jangan ditiru bisa Amsiong semua toko di sini.... wlwk
Macca Madinah
To Live alias Hidup, juga difilmkan dengan sutradaranya Zhang Yimou dan artis Gong Li. Sama seperti Forest Gump, baik buku maupun filmnya sama2 bagus. Bukunya mengalir, filmnya juga, mudah dicerna. Di bukunya jalan hidup Forest Gump lebih berwarna, sampai ke antariksa segala ditemani sepupunya manusia. Kalau To Live, filmnya ada adegan lucu yg selalu teringat, terkait dengan revolusi kebudayaan. Waktu para dokter di tiongkok ditangkapin dan dipermalukan oleh anak2 ingusan, lalu coba ganti peran para dokter itu di rs. Akibatnya ya ambyar.
Macca Madinah
Tadi malam chatingan dengan teman di sumatera bagian utara gimana kondisinya skrg. Responnya, manajemen pln (para direktur) kudu mundur! Mosok tidak pernah dipikirkan business recovery plan (brp) yg gak sampai berhari2 begitu.
Juve Zhang
Barang Made in Tiongkok membuat rakyat Indonesia happy banyak contoh.... kacamata RodenStock yg mahal langsung di ganti kacamata plastik solid ...murah dan gratis....wkwkw....mesin kapal dari Yanmar ke Ding dong Fang....es krim dari Walls ke AICE dan segera menyusul CHOCO ice cream sama buatan Tiongkok....HP dari Black berry 7 juta ke Xiaomi 1,5 juta....dan banyak produk lain nya membuat rakyat Indonesia sangat senang....dulu Black berry sangat mahal pun pulsanya mahal datang teknologi Tiongkok semua harga Cincay lah....gak ekslusif....semua punya HP....dulu nomor HP satu juta rupiah sekarang nomor HP 15 ribu Rupiah.....yg model produksi monopoli selalu mencekik leher....tapi Ekonomi Tiongkok persaingan Bebas ...yg buat mobil listrik ada 100 pabrikan....yg buat Hp ada Puluhan....di Tiongkok gak boleh ada monopoli....semua pasar Bebas ....bersaing secara sehat ...disini dulu senangnya monopoli lahirlah Bppc monopoli cengkih....ada lagi monopoli jeruk ...belum monopoli mainan duit palsu itu wkqkw
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
Berikut usulan komentar dengan fokus yang berpotensi menarik perhatian pembaca Disway: MUSEUM KECIL, INGATAN BESAR Bagian paling menarik dari tulisan ini justru bukan es krim gratis. Bukan pula pabrik etanol yang berhasil berbalik untung. Yang paling menarik adalah sebuah papan tulis tua. Benda itu nyaris tak bernilai secara ekonomi. Tidak bisa menghasilkan dividen. Tidak bisa diekspor. Tidak bisa dijadikan bahan bakar. Tapi justru benda seperti itulah yang membuat sebuah bangsa punya ingatan. Kita sering bangga pada Bung Karno yang besar. Pada pidatonya. Pada Monas. Pada Gelora Bung Karno. Pada Istiqlal. Tetapi kita sering lupa bahwa semua tokoh besar pernah menjadi murid SD yang duduk di bangku kayu dan menulis di papan tulis hitam. Karena itu Galeri Bung Karno di Mojokerto terasa penting. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu lahir di istana. Kadang lahir di ruang kelas sederhana. Yang lebih menggembirakan, pemandunya anak-anak SD. Mereka bukan sekadar menjaga museum. Mereka sedang mewarisi ingatan. Bangsa maju bukan hanya pandai membangun gedung baru. Bangsa maju juga telaten merawat kenangan dan pengalaman..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SAMBAL TERASI MELAWAN SHANGRI-LA.. Tulisan ini memberi pelajaran tak terduga. Setelah 12 hari menikmati pemandangan kelas dunia, yang paling dirindukan para wisatawan ternyata bukan gunung salju. Bukan pula hotel mewah. Yang dirindukan: sayur asam. Sambal terasi. Rawon. Hebat juga makanan Indonesia. Ia tidak punya promosi global sebesar pizza atau hamburger. Tidak didukung jaringan restoran raksasa. Tetapi daya lekatnya luar biasa. Tiga hari pertama bekal sambal masih bisa menghibur. Hari-hari berikutnya rasa rindu mulai menyerang. Lalu naik ke ubun-ubun. Di situlah terlihat bahwa makanan bukan sekadar urusan perut. Ia adalah urusan memori. Urusan rumah. Urusan identitas. Karena itu orang Indonesia bisa kagum melihat Shangri-La. Bisa takjub pada Harbin. Bisa berfoto ribuan kali di negeri orang. Tetapi ketika pesawat mulai mengarah ke tanah air, bayangan pertama yang muncul sering bukan pemandangan. Melainkan mangkuk rawon yang mengepul. Mungkin itulah salah satu ukuran nasionalisme yang paling jujur. Tidak perlu pidato. Tidak perlu bendera. Cukup semangkuk sayur asam dan sambal terasi.
Opay 1997
Konteks: “Bung Karno lahir di mana? Buku sejarah di sekolah menyebutkan BK lahir di Surabaya. Konotasinya, kata ''Surabaya'' di situ adalah kota Surabaya sekarang. Padahal secara administrasi yang dimaksud Surabaya zaman itu meliputi Surabaya sampai Mojokerto dan Jombang.” Ada fenomena menarik di sini. Ini seperti tafsir sejarah bukan? Tafsirnya tidak dapat dibaca dengan kacamata makna kontemporer. Kita perlu mundur ke zamannya menemukan asbabun nuzul. Ada penyempitan makna. Secara historis, "Surabaya" yang tercatat di dokumen kolonial Belanda merujuk pada Karesidenan Surabaya (Residentie Soerabaja). Keresidenan ini terdiri dari : 1. Kota Surabaya 2. Kota Mojokerto 3. Kabupaten Gresik 4. Kabupaten Sidoarjo 5. Kabupaten Mojokerto 6. Kabupaten Jombang Yang berubah bukan makna leksikal Surabaya, melainkan referennya. Dulu, Surabaya mengacu pada wilayah karesidenan luas. Sekarang wilayah acuannya lebih sempit: Kota Surabaya.
Jo Neka
Kalau anda menyesal menjadi tua.Cobalah beristri lagi.Mungkin anda akan bergairah seperti dulu lagi.Ini saran buat Perusuh.Ya buat perusuh.Bukan bosnya perusuh.Keputusan ditangan anda.Sebagai catatan penting.Beristri lebih dari satu bukan sekadar tebal nyali.Tapi harus tebal dompet ..Ini pengalaman pribadi..
djokoLodang
-o-- ... Yang berwisata ke Shangri-La itu tergabung dalam grup angklung. Nama grupnya: Pitik Cilik. Itu karena waktu kali pertama berlatih sang pelatih mengajarkan lagu Pitik Cilik. ... *) Yang syairnya begini, ya: ... Aku duwe pitik cilik, wulune brintik, cucuk kuning cengger abang, tarung pasti menang. Sapa wani karo aku, mungsuh pitikku! (Siapa yang berani padaku. Lawan dulu ayamku!) ~ Lho, kok ayamya dulu yang disuruh maju? *) Jaman Orde-baru dulu, parikan ini lebih populer: ~ Pitik ditaleni, Wong lagi nggitik, kok dienteni. --0-
Jo Neka
Tolong japri ke Bapak DI..Mungkin beliau butuh penguatan Eyang Sabar..Hihhhi
Eyang Sabar56
@Bang JN, Saya pernah beristri tiga. Aman² saja, cuma memang dompet saya super tipis. Yang dua sudah pindah alamat (meninggal). Sisa satu, masih ada rencana nambah satu. Kuncinya satu, - Berani, - Adil, dan - Dompet jangan berisi 5 lembar seribuan.
Captain Bejo
Abah nitip curcol dong Sebagai dewan pembina UT , tolong di sampaikan keluhan saya dan rekan rekan mahasiswa UT. Sudah dua semester ini ujian online dalam sehari 4-5 x Bikin mabuk bah wkwkwkwk. Tidak semua mahasiswa UT liburnya di weekend. Trus sehari 5 ujian sangat memberatkan, persiapan ujian kacau karena jadwalnya kerja tidak semudah itu digeser geser. Terima kasih
Johannes Kitono
Yazeed Djamin.( 1950-2001 ) Beberapa hari lalu CHD tulis tentang anak muda. Berjasa populerkan musik NKRI di Beijing,China. Mereka adalah Duta seni yang populerkan bangsa.Pagi ini saat dengarkan koors di Kapel MBL.Langsung teringat konduktor Yazeed Djamin. Seorang haji yang Doktor musik dari Catholic University of America. Almarhum adalah pendiri Nusantara Orchestra bersama Menlu Dr Muchtar Kusumatatmaja. Pernah jadi juara di International Music Festival di Sydney ( 1995 ). Ditantang oleh Habibie untuk mengangkat lagu lagu rakyat NKRI. Supaya lagu rakyat tsb dimainkan di Orchestra yang umumnya lagu klasik Barat saja. Seperti menjawab tantangan Yazeed mengubah lagu Malin Kundang, Nyi Ronggeng,Es Lilin dan Sepasang Mata Bola Karya Ismail Marzuki. Walakin beta buta musik tapi pernah dapat tiket gratis dari Yazeed untuk nonton Orchestra Nusantara. Dengan lincah dan penuh energi seperti Luciano Pavarotti. Yazeed menggerakkan kedua tangannya. Golongan darah di tubuhnya adalah M ( musik ) bukan A atau O.Dan untuk jaga fitness Yaseed olahraga di Hotel Mandarin .Teman jalan paginya adalah Ratna Mata Foto.Yaseed adalah doktor dan seniman musik yang sederhana.Pakai baju lusuh dan sandal swallow ke Hotel Bintang 5. Pernah dapat tawaran Malaysia ngajar musik dengan gaji tinggi, tapi ditolaknya.Ketika ada konser besar di hotel Darmawangsa ,Yaseed absen dan dirawat di Rumah Sakit. Tapi minta tolong temannya jangan tutup telpon agar bisa ikut dengarkan musik konser. Rip Yazeed.SSHB
Juve Zhang
@wilwa.....lebih Hebat Wang Chuan Fu mendirikan pabrik mobil listrik di Subang Jawa Barat perlu 18 ribu karyawan tahap satu perlu 6000 karyawan....tahap dua dst 18 ribu karyawan....Wang Chuan Fu jelas sumbangsih nya bagi Inpestasi di Indonesia.....Elon Musk gak ada satu pabrik pun .....cuma minta Starlink di bayar oleh rakyat Indonesia.....qkqkwi
Udin Salemo
Walaupun profesi tukang ngaduk semen, -dunia keras dan kerja keras- tapi rupanya saya termasuk "cengeng" mudah terbawa sedih. Selesai belanja di pasar tadi dan sampai di rumah saya meneteskan airmata. Kejadian di pasar tadi jadi triger-nya.
Udin Salemo
Kalau kehabisan stok pisang kepok saya akan pergi membeli ke Pasar Kebayoran Lama. Atau ke Pasar Serpong. Kedua-duanya adalah pasar tradisional yang sudah dibangunkan bangunan beton oleh masing-masing pemda. Kalau beli pisang kepok di Pasar Kebayoran Lama, itu artinya saya sempatkan sambil pulang dari tempat ngaduk semen. Kalau beli di Pasar Serpong itu artinya saya ke pasar hari minggu. Karena gak sempat beli di Pasar Kebayoran Lama sehabis ngaduk semen di hari kerja. Siang tadi saya ke Pasar Serpong. Letaknya tak jauh dari stasiun kereta api Serpong. Sudah lama saya tak ke pasar ini. Sebagaimana pasar tradisional lain, pasar ini lebih banyak menjual kebutuhan pokok, ya, sembako. Juga menjual hasil pertanian yang dikonsumsi tiap hari. Di lantai dua kebutuhan sandang. Seperti biasa, begitu sampai di pasar saya langsung menuju kedai yang menjual buah-buahan. Lho, kok, tutup. Sederetan kedai sejenis sebelah menyebelahnya juga tutup. Ada apa gerangan. Dulu, -tiga bulan yang lalu, kunjungan terakhir saya kesana- walaupun hari minggu kedai yang menjual buah-buahan tetap buka. Kalaupun ada yang tutup hanya satu atau dua kedai. Saya ke kedai di sebelah gang yang masih buka. Tanya penjaganya, kenapa kedai disebelah pada tutup? Dijawab' "ekonomi lesu, mas. penjualan menurun. penjualan gak kayak tahun lalu." Aku mengurut dada. Terharu. Prihatin. Mataku sebak. Membayangkan petani kecil sekitar Serpong ketika menjual sayur dan buah-buahan dari kebun hasilnya tak sesuai harapan.
Wilwa
@Juve. Elon Musk pada dasarnya pendukung White Supremacy. Walau sempat berseteru dengan Trump akibat “pemborosan” Trump (untuk militer dan pengeluaran lain) yang berkalilipat dari “penghematan” dari memecat ratusan ribu pegawai federal, akhirnya berdamai kembali karena kepentingan yang sama: White Supremacy. Presiden dan menteri kita ini mental inlander semua. :) Padahal di mata Elon Musk atau Trump, orang “kulit berwarna” macam Indonesian itu golongan manusia kelas tiga. Kelas satu adalah kulit putih terutama yang keturunan English, Scottish, Dutch, Deutsch. Kelas dua adalah Irish (macam Kennedy, Biden), Spanish atau Italian (macam Marco Rubio) atau keturunan Slav / Eropa Timur (Polandia, Rusia, dll). Begitulah pola pikir / mentalitas White Supremacy yang sudah jadi rahasia umum.
Gregorius Indiarto
Dulu,.... dibela-belain jauh-jauh sampai negeri T, untuk nambal hati yang kroak, biar sehat. Dan berhasil, sehat dan berumur panjang. Lah kok hari ini nulis "menyesal menjadi tua". Karepe piye??!! Met sore, salam sehat, damai dan bahagia.
Gregorius Indiarto
"Apakah Aice juga menguasai pasar es krim di Singapura?" "Tidak" "Kenapa?" "Mungkin, karena orang-orang sana lebih paham kesehatan dari pada orang-orang sini. Orang-orang sana sudah manis, dan tidak mau terlalu kemanisan"
heru santoso
Membaca CHDI hari ini seperti menyantap gado-gado: semua bahan dicampur aduk sampai hilang rasa mentimun segar dan kriuk renyah krupuk bawangnya. Rasanya bingung, tapi tetap coba dikunyah. Aku jadi teringat tugas menulis liburan waktu itu. Semua tanaman dan hewan peliharaan di kebun nenek diceritakan, perjalanan naik delman sampai stasiun kereta api pun ikut. Tulisan itu sempat dikirim untuk lomba tingkat kecamatan—entah dinilai atau sekadar dijadikan dekorasi lemari juri. Sebelum ada kepastian diundang ikut gathering naik kapal atau bertenda di Pacet, akan lebih banyak kolom komentar seperti ini. Kalau mahaguru Bli Leong akan lebih tenang setelah dapat kiriman sweeter bekas dipakai podcast itu
Liam Then
Aice itu asal Singapura. Lihat manager general affairnya yang dari Hunan. Saya tebak..Aice ini big asli dari Tiongkok, kemudian bikin pos di Singapura, baru dari Singapura masuk Indonesia. Entah kenapa tak langsung masuk. Tapi lebih menggelitik lagi, kemana perusahaan lokal. Dulu ingat banyak mamang es krim di jalan semasa kecil, pakai sepeda. Dari banyak mamang-mamang ini, mereka atau juraganya, tersebar di seluruh Indonesia tak ada yang tumbuh jadi industri besar yang kuasai pasar lokal. Kalau mau dipikirkan, ini bisa jadi disertasi S1 kayaknya.
Er Gham 2
Tidak ada istilah 'lelaki yang selingkuh'. Mereka hanya berbagi kasih sayang, yang kebetulan berlebih stok nya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 206
Silahkan login untuk berkomentar