Moral Pusbatara
--
Sedunia sekeluarga. Wujud nyatanya akan terbangun di kawasan pinggir sungai yang memisahkan provinsi Jabar dan Banten. Tepatnya di Legok. Sekitar satu jam dari lapangan Monas, Jakarta.
Senin kemarin saya ke sana. Pagi-pagi, begitu selesai satu jam senam-dansa di Monas dua relawan gerakan Dunia Satu Keluarga sudah menjemput saya. Langsung menuju Banten.
Proyek ''menyatu dengan alam'' ini belum sepenuhnya jadi. Luas tanahnya 25 hektare. Gedung terbesarnya, Graha Dunia Satu Keluarga, sedang dikerjakan.
Mereka pilih membangun di situ bukan karena alamnya indah. Alam di situ justru pernah hancur berbopeng-bopeng akibat penambangan pasir. Kini alam di situ sudah direhabilitasi. Ribuan pohon baru ditumbuhkan.
Nama proyek ini: Pusbatara –Pusat Budaya Alam Nusantara. Ditegaskan sekali: budaya alam. Alam.
Bagian depan kawasan ini sudah selesai: delapan bangunan dengan arsitektur suku Badui, Banten. Itulah Eco Camp. Salah satu bangunannya berbentuk aula: lantai dan dindingnya modern tapi plafonnya anyaman bambu. Di panggungnya terpasang layar digital lebar –untuk presentasi.
Di ruang ini saya disambut. Berbagai sajian ditayangkan. Termasuk video gambaran utuh masa depan proyek itu. Mengagumkan.
Sekitar 40 orang berkumpul di ruang itu: dengan menonjolkan sikap rendah hati dan melayani. Semua menu makanannya vegan.
Saya pilih menu soto Kudus dengan suwiran daging ayam buatan. Enak sekali.

--
Saya tidak bisa membedakan daging ayam di soto itu dengan daging ayam sungguhan. Porsinya tidak besar. Saya bisa mencicipi menu yang lain: rawon vegan. Rasa dagingnya persis daging sapi sungguhan.
Saya terharu berada di kompleks ini: kok ada sekelompok orang yang memikirkan terjaganya alam, pelestarian lingkungan, mengembangkan hidup rukun di tengah kebhinekaan, mengajarkan kesederhanaan, mengutamakan kedamaian, dan kebahagiaan.
Lewat pusat budaya alam Nusantara ini mereka akan terus memasyarakatkan perlunya hidup rukun: bukan hanya antar manusia, tapi juga antara manusia dan alam. Termasuk antara manusia dan binatang. Akan ada kegiatan pendidikan dan pelatihan: semua terkait dengan kerukunan, kedamaian, kebahagiaan dan kelestarian alam.
Usai acara kami diajak keliling lokasi: pakai mobil. Kami ke proyek induk Pusbatara. Akan ada gerbang besar tiga pintu tanpa daun pintu di bagian depannya. Gerbang itu menggunakan gaya arsitektur Cirebon. Gerbang ini dinamakan Gerbang Kebahagiaan.
Melewati gerbang itu Anda akan masuk plasa luas yang rindang oleh pepohonan: lebar 50 meter. Panjangnya 200 meter. Anda jalan kaki di plasa itu menuju gedung utama: Graha Dunia Satu Keluarga.
Gedung ini besar sekali. Ukurannya 120 x 160 meter. Di bagian tengahnya akan dibangun istimewa: gedung kedamaian. Bentuk gedungnya melingkar tinggi. Tinggi atapnya 56 meter. Maka kalau Anda berada di dalam gedung ini tercipta suasana hening dan bening. Hening di hati, bening di pikiran. Akustik gedung ini akan dibuat istimewa kedap suara. Setara dengan akustik musichall terbaik di dunia.

--
Saat diminta memberi sambutan saya pun menjelaskan betapa berat mewujudkan misi mulia seperti ini. Terutama di tengah zaman hedon, rakus, dan kapitalistik.
Ternyata gerakan memuliakan kehidupan dan alam seperti Pusbatara juga ada di negara lain. Mereka sama-sama ingin mengembangkan Budaya Kasih Semesta.
Mereka terkoneksi dalam satu aliansi INLA --International Nature Loving Association. Pendirinya Wang Tzu Kuang yang mereka sebut sebagai Master Wang –orang Taiwan. Ini berbeda dengan Buddha Tzu Chi yang juga berasal dari Taiwan.

--
Gerakan mirip Pusbatara itu kini ada di Hong Kong, Jepang, Korea, Malaysia, dan Singapura. Itu bukan gerakan agama atau ideologi tertentu. Mereka murni mengembangkan budaya baru: Budaya Kasih Semesta. Etika, nilai, moralitas, cinta, dan menyatu dengan alam menjadi jiwa hidup mereka. Tapi saya lihat mereka umumnya terafiliasi dengan Buddha Maitreya.
Anda sudah tahu: dunia ini ternyata milik bersama. Bukan hanya milik yang kaya-kaya saja.
Maka kita melihat kenyataan: di satu pihak ada orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai, etika, dan moralitas mulia seperti di Pusbatara, di lain pihak banyak orang yang punya pikiran: "Tuhan itu baik. Tapi hanya uang yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik". (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 30 September 2026: Tekstil Danantara
Liam Then
Daripada tekstil, mending pemerintah galakan industri galangan kapal modern untuk nelayan kita. Biji besi masih bisa diimpor, dan mungkin ditambang di Indonesia. Pabrik peleburan baja, dari yang raksasa kayak Krakatau Steel dan ukuran sedang/kecil lumayan banyak di Jawa. BUMN perusahaan galangan kapal dan beberapa pemain lokal juga sudah ada, tinggal dikasih vitamin dalam bentuk kebijakan, kredit dan kepastian serapan produksi mereka. Baja itu berat, tidak kayak tekstil yang ongkirnya murah. Ini dijadikan jangkar pikiran dulu. Ketika gong proyek ini di ketok, Industri baja bakalan menggeliat, sektor tambang biji besi lokal mungkin ketempiasan. Kepastian permintaan dari galangan kapal lokal, akan bikin pabrik/smelter injek gas penuh, yang namanya skala produksi, tentu butuh yang namanya pekerja, dan ekspansi, yang bakal jadi tempat tampungan teknisi /engineer lulusan segar dari universitas kita. Galangan kapal juga bakal rebutan engineer dan tenaga ahli. Ketika kapal keluar dari galangan, batch pertama nelayan rakyat /koperasi nelayan rakyat sudah siap melaut, ikan di laut, tidak perlu kayak kapas yang perlu dipintal menjadi benang, dirajut menjadi kain, kemudian dipola , kemudian saingan dengan India, Tiongkok,Vietnam, Bangladesh, Thailand. Kawasan perairan Indonesia, siapa bisa saingan dengan nelayan rakyat? Pencuri ikan laut Indonesia bakalan bisa dikejar dan dideteksi dengan ribuan atau puluhan ribu kapal modern nelayan rakyat sokongan pemerintah lewat KDMP.
yea aina
Mungkin pemerintah "merasa bisa" membuat apa saja. Pun memberi "penugasan" kepada BPI D untuk terjun ke bisnis pertekstilan. Jangan lupa "penugasan" juga pernah dibebankan kepada empat BUMN karya (Waskita, Wijaya, Adhi dan PP). Berbagai proyek infrastruktur dibangun dengan penugasan. Memang fisik bangunannya sudah terbangun, tapi ada tanggungan kewajiban (liabilitas) senilai 184,12 T dari keempat BUMN karya itu. Apakah akan mengulang proyek infrastruktur berbasis pinjaman?
Pak De Kumis
Mungkin skemanya akan begini : Karena KDKMP sudah ada tiap desa/kelurahan, dapur MBG sudah hinga plosok gang, maka pabrik tekstil danantara cukup hingga kecamatan saja. Mari kita hitung : Jumlah kecamatan seIndonesia : 7.285 buah. Dan jika satu pabrik tekstil menyerap 3000 orang, maka tenaga kerja yang diserap mencapai : 21.855.000 orang! Dan jika MBG + KDKMP + Tekstil Danantara, anda hiitung sendiri berapa jumlah tenaga kerja yang diserap. Belum lagi berbagai lembaga dan kementrian yg obeysitas itu. Kesimpulannya : Hanya terjadi di saat Presiden ke-8 menjabat. Jadi jangan ungkit lagi janji 19 juta itu! **jika berhasil.
iskan kardap
Bekas lokasi itu kini menjadi nama kawasan: Patal Senayan. Letaknya di sebelum Hotel Mulia, Jakarta. Kami dulu biasa bermain di kawasan Patal, tapi yang ini di Secang (Kabupaten Magelang), sayangnya lokasi ini sekarang akan hilang, alangkah baiknya jika dilestarikan sebagai nama kawasan, PATAL SECANG. Padahal dari situ, terlahir seorang Komandan Kodaeral III yang sekarang ini masih menjabat.
Johannes Kitono
Keledai Ada pepatah : Keledai binatang yang dungu tidak akan jatuh kelubang yang sama. Kalau Danantara Textil dipaksa bangun logikanya I Q jongkok lebih para dari Keledai. Memang potensi pasar 300 juta manusia sangat menggiurkan tidak ada yang telanjang. Semuanya masih pakai penutup tubuh dari textil. Harus ditanya kenapa PN Sandang dan Sritex bisa bangkrut. Tidak sanggup hadapi produk impor dari Banglah, India dan China.Kualitas dan harga mereka lebih murah. Industri Textil adalah komoditas strategis yang nihil proteksi Pemerintah. Now Danantara mau bakar uang lagi. Menampung politisi partai koalisi sebagai Komisaris dan direksi. Konyol sekali. Industri Textil boleh bangkit kalau daun sawit bisa jadi bahan baku textil. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Mas Ulik (Azrul Ananda) terakhir menulis di Happy Wednesday (dot id) tanggal 31 Desember 2025. Hari ini (Rabu) baru muncul lagi tulisannya cuma setengah. Saya bilang setengah karena tulisannya bersambung. Mas Ulik awalnya rutin menulis tiap hari Rabu. Iya, cuma seminggu sekali. Beda dengan ayahnya yang menulisnya tiap hari. Dan ternyata akhirnya setiap Rabu pun tidak berlanjut. Bahkan tulisan hari ini harus nunggu 9 bulan setelah tulisan terakhir. Sudah mirip usia bayi dalam kandungan. Itupun, Mas Ulik harus nunggu ada isu terkait DI (Denny Indrayana, bukan DI yang lain) menggugat keberadaan ijazah SMA Gibran. Kalau saya jadi ayahnya, sudah saya marahin itu kok jarang banget nulisnya. Tapi semua masalah itu ada solusinya. Solusinya adalah: Disway Apps. Hehehehehehe.... Dalam Disway Apps ada rubrik CHDI dan juga ada rubrik Happy Wednesday. Dengan begitu Perusuh bisa ikut merusuh di tulisan Mas Ulik. Mungkin dengan begitu Mas Ulik akan termotivasi rutin menulis lagi. Disway Apps memang: mengatasi masalah tanpa masalah.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ANGKA-ANGKA SRITEX, YANG MEMBUAT SUSAH DISELAMATKAN.. Kadang angka lebih jujur daripada kata-kata. Per September 2024, aset Sritex sekitar Rp9,63 triliun. Tetapi liabilitasnya Rp26,07 triliun. Artinya, utangnya hampir 3 kali nilai aset. Lebih mengkhawatirkan lagi: Modalnya sudah defisit sekitar Rp16,64 triliun. Rugi bersih sampai kuartal III 2024 sekitar Rp1,06 triliun. Penjualan melemah. Arus kas tertekan. Utang bank saja sekitar Rp12,7 triliun. Krediturnya bukan satu-dua bank. Ada 28 bank. Kemudian setelah masuk proses kepailitan, tagihan yang diajukan para kreditur mencapai Rp32,63 triliun. Sementara aset yang tercatat hanya Rp9,63 triliun. Di sinilah persoalannya. Menyelamatkan perusahaan dengan utang Rp26 triliun dan aset Rp9,6 triliun tentu bukan seperti memberi vitamin kepada perusahaan yang sedang sakit. Ini sudah seperti menghidupkan kembali pasien yang organ keuangannya banyak yang sudah gagal bekerja. Pemerintah boleh berusaha. Bank boleh memberi napas. Investor boleh mencari jalan. Tetapi angka-angka itu menjelaskan: mengapa menyelamatkan Sritex ternyata sangat, sangat sulit.
Novan Hidayat
Kalau pemerintah tiba-tiba mau mendirikan industri tekstil, entah dengan mendirikan perusahaan baru, atau mengaktifkan perusahaan lama, atau juga dengan berkerja sama dengan perusahaan swasta, itu berarti ada kroni-kroninya rezim yang belum kebagian jabatan.
Wilwa
Selama bahan baku (baca: kapas) masih impor (baca: tiada substitusi misal daun sawit, dll) mustahil bisa cuan.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Efisiensi atau mati. Prinsip itu sekarang bukan cuma di dunia textile. Mungkin di semua bidang. Semua usaha di mode: survival. Bertahan hidup saat ini sudah jadi prestasi bagi semua usaha. Tapi saya punya saran, kita harusnya pakai epkspatriat untuk jadi CEO di BUMN-BUMN kita. Jadi semua BUMN dipimpin oleh ekspatriat yang hebat. Saya pikir semahal-mahalnya gaji ekspatriat "yang bagus", penghematannya akan sangat cukup untuk membayar selisih gajinya. Saya tahu ada beberapa hotel bintang 4 dan 5 di Indonesia yang GM (general manager)-nya adalah orang asing. Bahkan salah satu mal di Surabaya pun ada yang punya GM seorang ekspatriat. Nah menurut saya, seorang pimpinan ekspatriat akan membaya budaya baru dan menolak budaya buruk yang sudah berjalan. Ini pemikiran sederhana yang juga sedang diterapkan di timnas sepak bola kita. Selain pakai pelatih asing, kita juga "mengimpor" pemain timnas dengan jalan naturalisasi. Tujuannya jelas: membawa budaya baru. Kita tahu, pemain timnas sepak bola kita zaman dulu biasa masih makan mi instan menjelang pertandingan. Mengubah budaya seperti itulah yang kita harapkan dengan pelatih dan pemain "asing". Perusahaan besar sekelas BUMN, saya rasa wajar jika harus bayar CEO ekspatriat.
Jokosp Sp
Mas..... pian itu manis, ujar kawanku. ,"Napa aku disambat manis?. Aku niiiii bungas. Aku masih lakian normal". Nah..... masih kadak percaya pian tu manis. Lihat tuuuu.....tangan pian dihinggapi banyak kalulut (sejenis lebah madu, tapi lebih kecil) . Artinya pian tu manis....., manis keringatnya. "Dasar semprul.......". Yang duduk di sebelah ini memang ada ae seikit melambai.
Ahmad Zuhri
Menurut keyakinan saya, Danantara akan membuat sesuatu yg beda dengan sebelumnya.. Jangan dibayangkan dengan yg sudah2.. Kl kmrn sempat lihat video proses kulit durian yg jadi tekstil di China sana, minimal akan seperti itu.. Jadi bahan nya akan disesuaikan dengan kekayaan nabati Indonesia, bisa saja pelepah kelapa/sawit/nira bahan bakunya, atau yg lain.. jadi bahan yg sebelumnya seperti tidak berguna, akan diolah agar mempunyai nilai lebih.. Jadi akan semakin efisien dan inspiratif..
Mpok Dipa
Ada lagi yg namanya baju reject, baju baru keluaran pabrik. Merknya branded tapi tidak lolos QC, misal salah tempel size, jahitan agak miring dsbnya. Harga lebih murah dari toko di mall tapi kwalitas sama.Kalau ini ngga cuman pakaian, sandal dan sepatu juga beredar di pasaran. Biasanya di pasar online di beri kode BNIB (Brand New In Box). Jadi, pasar textile di dalam negeri seperti itulah sebagian besar. Menyesuaikan kondisi ekonomi di negeri ini yang pada mendowngrade level hidupnya. Seperti halnya mobil dan motor, banyak yg beralih ke motor dan listrik. Demi menekan biaya pengeluaran di sektor pajak dan bahan bakar. Termasuk di laundry he he he, lebih memilih membayar 10kg seharga 12.500 self service ketimbang full service yang 7000/kg. Selamat memperingati hari kesaktian Pancasila (besok). :)
Hasyim Muhammad Abdul Haq
"Mungkin ada perasaan pemerintah bisa membuat apa saja. Itu tidak salah. Namanya saja ''merasa bisa''." Lalu, jika Disway Apps tetap tidak dibuatkan juga, kira-kira apa alasannya? Pilih dari jawaban berikut: a. merasa tidak bisa b. merasa tidak perlu c. merasa tidak punya uang d. benar semua
Mpok Dipa
Eh ada lagi, saya baru tahu sekitar setahunan ini. Jadi ada pemburu baju laundry. Pemburu baju laundry ini pedagang baju bekas juga. Mereka mendatangi laundry², membeli baju² yg sudah di packing rapi tapi yang sudah lama tidak di ambil oleh pemiliknya. Nah kalau ini tergantung pemilik laundry, amanah atau tidak. Biasanya baju yg di jual sama pemilik laundry adalah baju yg sudah 6 bulan lebih tidak di ambil oleh pemiliknya (entah karena lupa atau pemiliknya sdh pindah tempat tinggal). Baju² tersebut di jual kiloan, dan sama pembeli di jual lagi ke daerah daerah yg menurut mereka masih laku.
DeniK
salah dua yang membuat industri textile jadi mayat adalah import baju bekas alias balpres alias cakar (cap karung) atau roma (rombengan malaysia) kalau zaman sekarang di sebut nya thrifting . segmen pakaian kelas menegah bawah habis di babat pakaian thrift .ribuan mungkin ratusan ribu bal membanjiri negeri sampai ke pelosok . zaman Pak Purbaya masalah import ilegal balpres menjadi prioritas di berantas , hasilnya terasa pasar baju bekas senen dan cimol gede bage langsung drop supply nya . sekarang setelah ganti menteri mulai mengalir kembali balpres pakaian bekas . begitulah yang terjadi .
Tiga Pelita Berlian
Tulisan hari ini ttg textile hingga Sritex , telah berhasil membawa ingatan saya ttg Pardedetex, bil khusus ke klub Sepakbola nya yaitu PS Pardedetex yg main di kompetisi GALATAMA, tahun 80-an bersama UMS'90, Indonesia Muda, Tunas Inti, Perkesa'78, Niac Mitra, Sari Bumi Raya, Makassar Utama, Mercu Buana, Caprina dll Seklangkong
riansyah harun
Kakak saya suami istri pernah bekerja di perusahaan tekstil. Mereka bisa berjodoh karena pernah kuliah di Akademi Tekstil yang ada di Perak Surabaya sana. Yang wanitanya terterima di Batik Keris, sedangkan suaminya di PT Sritex. Kedua perusahaan itu ber skala besar, dan kedua perusahaan itu, hanya selemparan katapel saja lokasi satu dengan lainnya. Sritex entah kenapa, bisa tutup. Sedangkan Batik Keris, sepertinya tetap terus beroperasi. Namun entah perusahaan itu ada tapi sangat ber darah darah..., meminjam istilah Pak Dahlan...??? Belum lagi PT Sandang seperti yang disentil dalam Dismorning kemarin pagi itu. Semua perusahaan tekstil, tidak lagi kuat menahan gempuran China. Tapi siapa tahu mesin tekstilnya bisa dibeli dengan harga murah, di preteli, dan dijadikan bahan baku onderdil mobil atau dijadikan mobil sekalian. Sayoun jadi ter ingat seorang raja tekstil yang bisa membuat Truck yang handal di waktu itu. Nama perusahaannya Texmaco. Tapi entah kenapa, tidak lagi berlanjut. Sepertinya kita senang yang serba kilat seperti petir, mengimpor, akhirnya ketergantungan. Ibarat orang yang suka merokok, ketergantungan nya sudah sangat parah sekali. Sudah tahu bahwa rokok itu tidak baik bagi kesehatan, tetapi tetap saja di gemari. Uppsss, jangan sampai ditutup pabrik rokoknya, karena disitu banyak tenaga kerja dan ada cukainya.
Kujang Amburadul
Siap. Mohon ijin. Pemerintah itu seharusnya government. Baiknya jadi pendukung saja, juga jadi wasit, sekaligus pengatur, bikin aturan jelas, pengawas biar semua dijalankan sesuai aturan. Biarkan swasta bermain, mereka sudah tahu cara dan jalannya. Selama ini kan hanya dikacaukan oleh ketidakjelasan langkah pemerintah saja, pungutan gak jelas, preman dibiarkan. Pendidikan gratis dari SD sampe PT? Itu bakal bikin Menkeu pusing pala. Sementara gratiskan saja dulu pendidikan dokter. Itu yg urgen biar menunjang program BPJS. Lha gimana bisa biaya kesehatan gratis kalo dokternya kurang, yekan? Bikinlah rumah sakit, bukan rumah mewah di Lapas. Mabok itu namanya. Sementara itu dulu bahan rusuhan hari ini. Tabik.
Macca Madinah
Setuju juga yang lebih penting itu (dan signifikan zaman now) adalah mendaur-ulang limbah tekstil, konon industri fashion merupakan salah satu penyumbang sampah. Daripada memulai dari nol, mending membuat sesuatu yg visioner. Mengolah limbah tekstil juga bakal menyerap tenaga kerja yang banyak dan mungkin bisa laku di pasar karbon global.
Taufik Hidayat
Membaca berita ibi membuat mitis. Industri tekstil itu sebenarnya industri negara yang ekonominya masih belum maju. Di negara maju sudah tidak ada lagi. Karena itu saya masih punya Y shirt Bergambar Chicago Blues Festival than 2012 dan T shirt tersebut Made in Honduras, dan kalau beli blue jean bisa saja Made in Indonesia. Masa skrg sudah 2026 mau bikin yang baru? Setuju kalau duking yang sudah ada dan masih survive aka..
alasroban
Terus mbangun pantik tekstilnya meniru agrinas. Yg sudah sukses membeli puluhan ribu mobil operasional kdmp. Meski belum jelas kdmp nya jalan atau tidak. Rencana pabrik tekstilnya berapa? Tiap kecamatan. Berarti 7000 sekian. Yang bangun gedungnya siapa? Ya seperti kdmp. dst... Pokoknya kesuksesan agrinas menghamburkan uang wajib di tiru. Wkwkwk
riansyah harun
Jika Danantara ngotot untuk tetap membangun kembali industri tekstil, dan itu bisa menyerap tenaga kerja yang amat banyak, alangkah mulianya. Hanya saja, mampukan kita melawan kekuatan Tiongkok yang begitu amat sangat majunya di berbagai bidang..?? Dan semua orang sudah pada tahu, raja tekstil itu, dikuasai oleh mereka. Dari mesin tekstilnya yang canggih, sampai dengan tanaman bahan bakunya yang siap dipanen, seperti yang pernah di lihat Pak Dahlan Iskan di sepanjang daratan China sana. Sungguh berat untuk melawan mereka. Mungkin jika ada diantara Perusuh yang jika kelak suatu saat jadi Presiden, saya titip pesan. Perkuat saja yang menjadi kehebatan kita. Cukup banyak lahan, yang salah satunya bisa menghasilkan tanaman padi yang setahun bisa panen 5 sampai 6 kali. Atau bahan alam yang melimpah, yang salah satunya bisa dijadikan baterey listrik untuk kebutuhan kenderaan listrik, atau berbagai macam bahan lainnya untuk bisa unggul di ekspor yang tidak dimiliki negara lainnya. Asalkan jangan mengekspor asap kebakaran hutan saja....
Jo Neka
Sebenarnya BUMN boleh masuk ke jenis usaha apa saja.Seperti pabrik tahu.Pabrik tempe.Pabrik kolor.Pabrik popok.Pabrik minyak goreng.Pabrik batu bara.Pabrik kripik si engkong.Pabrik krupuk kulit.Pabrik mobil listrik.Pabrik mobil SMK.Pabrik pesawat radio.Pabrik ponsel.Pabrik pensil.Pabrik sandal.Pabrik sepatu.Tetapi kalau pengelolanya culas dan korup.Itu hanya akan mempercepat kebangkrutan negara.Ah ini ketakutan saya saja.Takutnya si alit.Sangat berbeda dengan takutnya si elit.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Ketika orang baca artikel di Disway melalui Disway Apps, pada dasarnya tetap akan berstatus mengunjungi Web-nya Disway. Bedanya, dengan Disway Apps, tim redaksi Disway jadi tahu berapa banyak jumlah screen time si pemakai dalam mengakses Disway. Juga akan bisa diketahui tulisan apa yang paling banyak dibaca dari setiap pengunjung. Ini disebabkan karena setiap membuka Disway Apps, pengunjung berstatus "log in" dan algoritmanya bisa terbaca oleh pemilik apps. Semua apps saat ini berlomba untuk mendapatkan screen time dari pemakainya. Dan Disway Apps sudah punya modal bagus sekali yaitu: Perusuh yang suka bersahut-sahutan berkomentar di CHDI. Sayang banget kan kalau itu nggak bisa dijadikan benefit bagi Disway?
Mpok Dipa
Sudah bbrp tahun terakhir ini, pakaian jadi di Indonesia kalah sama barang Thrifting (Gen Y & Z menyebutnya begitu, Gen X menyebutnya baju bekas pakai). Setiap ada bazaar, entah di gedung perkantoran, di CFD, atau pasar² kaget baju seperti itu laris manis. Pelanggan ekspedisi saya ada yang jualan baju thrifting lewat aplikasi TT, dalam sehari ratusan paket terkirim. Beda sama seller barang baru kulakan di TA, sehari 3-4 paket sudah syukur. Lain cerita agen DOP teman di Bandung Barat, Cimahi. Industri baju baru masih ramai, mungkin karena seller menjahit sendiri dan menjual sendiri secara online, jadi harga jatuh lebih murah ketimbang seller dari Jabodetabek yg mesti harus ke TA dulu. Selain baju thrifting, baju sedekah adalah baju yg paling di cari di arena CFD. Jadi, baju ini bagus² kondisinya. Baju ini adalah baju pantas pakai milik orang kaya yg sudah tidak di pakai lagi, di sedekahkan melalui BAZNAS. Sama pihak tersebut di jual di arena CFD (saya melihatnya di arena CFD Andara). Pembelinya ada 2 segmen, pakai sendiri & jual lagi. Ruamenya minta ampun, mobil baru datang barang belum turun, para pedagang ecer sudah berebut. Bagaimana tidak mengandung cuan, baju tersebut di jual 1000-5000 /pc. Sarung, gamis, jilbab, daster, kaos, tunik, kebaya, mukena, sajadah semua harga sama & bebas pilih. Sama pembeli di jual lagi di seputaran CFD itu ha ha ha, keren emang pedagang Indonesia.
yea aina
Punya hutang 40 % dari PDB, tapi masih merasa kaya. Pun masih berani menghamburkan uang yang masih tersisa di dompet. Bermacam program dan proyek boros biaya dijalankan. Tanpa peduli cicilan pokok dan rente hutang. Padahal isi dompet hanya cukup untuk bayar rente. Cicilan pokok hutang berasal dari hutang baru. Gali lubang tutup jurang. Kalau hutang KCIC saja, direstrukturisasi, hingga bisa dicicil sampai 80 tahun, jangan-jangan punya cita-cita bisa berlaku juga bagi hutang negara Anda. Warisan hutang. Tidak akan diperebutkan para ahli waris.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TEKSTIL DAN EKONOMI SKALA: "PADAT KARYA" TAPI JUGA "PADAT EFISIENSI".. Dalam industri tekstil, keunggulan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya modal. Yang lebih menentukan adalah struktur biaya. Ada economies of scale. Semakin besar volume produksi, biaya tetap per unit bisa semakin kecil. Karena itu industri tekstil sangat sensitif terhadap kapasitas pabrik, utilisasi mesin, harga energi, produktivitas tenaga kerja, dan biaya logistik. Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Pabrik baru belum tentu langsung efisien. Ia harus mencapai skala produksi tertentu. Mesin harus terus berputar. Pesanan harus tersedia. Rantai pasok harus stabil. Pasar harus jelas. Kalau tidak, aset besar hanya menghasilkan biaya tetap yang besar pula. Maka sebelum Danantara masuk, mestinya ada studi feasibility yang sangat ketat. Bukan hanya menghitung berapa investasi dan berapa tenaga kerja yang terserap. Tetapi menghitung pula cost per unit, tingkat utilisasi, break-even point, produktivitas tenaga kerja, sampai kemampuan menghadapi harga tekstil global. Industri tekstil bukan sekadar industri "padat karya". Ia juga industri "padat efisiensi". Dan efisiensi tidak mengenal status BUMN atau swasta. Angka biaya produksi tidak pernah bertanya: pemilik pabriknya siapa?
Juve Zhang
Di Amerika proyek Data center AI sudah di protes rakyat sekitar pabrik air habis disedot buat pendingin mesin server....baru baru ini akan dibangun data center kelas besar di Jatiluhur....ini silakan hati hati sekali air 33 juta liter per hari.... Jatiluhur untuk minum orang di Jabodetabek ingat pendingin mesin server skala raksasa ini akan mengalir ke sungai Citarum lagi .. Mungkin sebagian jadi air minum manusia...entah lah ...yg jelas efek air buangan server mau di kemanakan ??mau balik ke sungai Citarum lalu diminum oleh penduduk Jabodetabek???
mario handoko
selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp mul, bp em ha, bp haji jokosp, bp jo dan teman2 rusuhwan. lagu "do you hear the people sing?" adalah sountrack dari film les miserables. do you hear the people sing? / singing the song of angry men? / it is the music of the people / who will not be slaves again! / ..... lagu tsb dinyanyikan oleh paduan suara us army di gedung putih. sewaktu trump menjamu xi makan malam. syukurlah. beda dengan pleciden kita. tampaknya xi tdk fasih bahasa inggris. sehingga beliau tidak tersinggung oleh lirik lagu tsb.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Nah makanya itu Cak Mul... Pemain bola aja berani pakai pelatih asing, kenapa untuk BUMN yang merupakan "pabrik uang" malah nggak pakai tenaga asing? Saya bukan berarti bilang WNI nggak ada yang hebat. Tapi ada satu kelebihan ekspatriat yang sudah pasti ia punya yaitu: tidak terpengaruh urusan politik. Ya ini saran kalau BUMN mau bagus sih. Tapi kelihatannya memang nggak mau dibagusin, kan?
Er Gham 2
Ini masalah mental. Direktur perusahaan swasta umumnya owner. Pasti berpikir bagaimana seefisien mungkin, supaya bertahan lama. Beda dengan direktur di BUMN. Dia tahu hanya menjabat sebentar. Sehingga berpikir untuk menjadi 'kaya' mumpung masih menjabat, karena tahu hanya menjabat beberapa tahun. Dan mental itu berimbas ke bawah nya. Mental 'aji mumpung' namanya. Makanya banyak BUMN walau rugi bertahun tahun, tapi fasilitas direksi dan karyawan tetap jor jor an. Dividen buat negara kecil aja, asal ada. Toh kalo perusahaan rugi bakal disuntik modal baru dari pemerintah. Dan ini berlangsung puluhan tahun. Tentu tidak semua. Hanya segelintir oknum saja. Mungkin masih banyak direktur dan karyawan BUMN yang 'tulus ikhlas' bekerja dan mengabdi untuk bangsa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 143
Silahkan login untuk berkomentar