BMKG Dorong Sekolah Lapang Iklim untuk Cegah Risiko Gagal Panen
BMKG lakukan SLI Tematik di Kabupaten Gunungkidul, DIY.--Dok. BMKG
JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tekan pentingnya mitigasu untuk menghadapi ancaman perubahan cuaca.
Salah satu langkah mitigasi yang perlu dilakukan yaitu dengan menggencarkan Sekolah Lapang Iklim (SLI).
SLI merupakan program yang dirancang sebagai bekal petani dengan pengetahuan dan pendampingan agar siap beradaptasi.
BACA JUGA:Wajib Pilih Teknisi AC Profesional, Kesalahan Instalasi Bisa Bikin Boros Listrik dan Merusak Unit
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati ungkap kondisi bumi belakangan ini akibat perubahan iklim yang cukup mengkhawatirkan.
Tak hanya bencana dengan durasi yang terus bertambah, melainkan juga krisis air yang berimbas pada sektor kehidupan.
Salah satu sektor yang paling rentan terdampak adalah pertanian, di mana Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan dunia berpotensi menghadapi krisis pangan pada tahun 2050.
Hal itu mungkin terjadi jika laju peningkatan suhu bumi tidak berhasil ditekan atau upaya mitigasi perubahan iklim gagal dilakukan.
"Kondisi ini dipicu kombinasi pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca serta anomali iklim regional. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian yang sangat rentan terhadap iklim," ujarn Dwikorita.
Dengan demikian, BMKG menggencarkan SLI di berbagai wilayah di Indonesia untuk memberikan edukasi serta langkah aksi adaptasi strategis.
Para petani nantinya diajarkan untuk membaca dan memahami prediksi iklim, menyesuaikan pola tanam, memilih varietas sesuai kondisi musim, hingga mengoptimalkan teknik pemanenan air hujan. Sehingga mereka bisa mengantisipasi risiko gagal panen.
"Karena perubahan iklim, saat ini titi mongso menjadi tidak relevan. Padahal petani di Indonesia terbiasa dengan titi mongso," imbuhnya.
Di Kabupaten Gunungkidul, DIY, kegiatan SLI Tematik tahun ini melibatkan 60 peserta yang terdiri dari kelompok tani, kelompok wanita tani, penyuluh pertanian, hingga petani milenial.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: