Reformasi Rantai Pasok Kelapa
Secara nasional, harga kelapa utuh tercatat naik hampir dua kali lipat dibanding awal tahun, dari sekitar Rp7.000 sebelum Lebaran 2025 menjadi Rp14.000 per butir di akhir tahun.-jambiindependent.disway.id-
JAKARTA, DISWAY.ID - Lonjakan harga kelapa dalam setahun terakhir menjadi potret kegelisahan baru di tingkat rumah tangga. Di Pandeglang, Banten, harga kelapa parut sempat menembus Rp25.000 per butir pada 2025, angka yang bahkan melampaui harga beras.
Fenomena ini bukan kasus lokal semata. Secara nasional, harga kelapa utuh tercatat naik hampir dua kali lipat dibanding awal tahun, dari sekitar Rp7.000 sebelum Lebaran 2025 menjadi Rp14.000 per butir di akhir tahun.
Akibatnya, kelapa berubah menjadi beban ekonomi baru bagi keluarga dan pelaku usaha kecil, memaksa banyak orang mengurangi konsumsi atau menaikkan harga jual makanan.
Krisis harga ini mendesak pemerintah mengambil langkah cepat sekaligus menata strategi jangka panjang. Dalam jangka pendek, stabilisasi pasokan dan harga mutlak diperlukan untuk melindungi konsumen, terutama menjelang periode rawan inflasi seperti momentum Natal, tahun baru dan Ramadan.
Namun penanganan jangka pendek saja tidak cukup. Tanpa pembenahan struktural, gejolak serupa akan terus berulang. Karena itu, kebijakan jangka panjang harus dirancang untuk memperbaiki tata niaga kelapa secara menyeluruh, dengan tetap menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi konsumen dan keberlanjutan pendapatan petani sebagai produsen utama di hulu.
BACA JUGA:Ini 3 Asisten Pelatih Lokal, Layak Jadi Tangan Kanan John Herdman di Timnas Indonesia
BACA JUGA: Dompet Dhuafa Hadirkan Layanan Servis Motor Gratis Bagi Penyintas di Tapteng
Selama ini, fluktuasi harga hampir selalu merugikan petani. Ketika harga melonjak di tingkat konsumen, hanya sebagian kecil keuntungan yang sampai ke kebun. Sebaliknya saat harga jatuh, petani menjadi pihak pertama yang menanggung kerugian.
Struktur pemasaran yang panjang dan ketergantungan pada tengkulak membuat petani terpaksa menjual hasil panen segera dengan harga yang ditentukan perantara. Penguatan kelembagaan petani melalui koperasi dan kelompok tani menjadi kunci untuk memutus ketimpangan ini.
Pengalaman di sejumlah sentra menunjukkan bahwa petani yang terorganisasi mampu meningkatkan posisi tawar, bahkan naik kelas menjadi pengolah melalui produksi kopra kering atau virgin coconut oil (VCO) yang bernilai tambah lebih tinggi.
Efisiensi Pasar dan Transparansi Harga
Melambungnya harga kelapa di tingkat konsumen tidak lepas dari persoalan rantai pasok yang panjang dan tidak efisien. Jalur pemasaran kelapa umumnya melewati banyak lapisan, dari petani ke pengepul desa, pedagang antar-daerah, pedagang besar atau pabrik pengolah, lalu ke pasar induk dan pedagang eceran.
BACA JUGA:Sayonara! Doraemon Pamit dari RCTI Sejak Tayang 3 Dekade, Ibu-Ibu Milenial Teriak Minta Balikin!
BACA JUGA:Kapan Libur Panjang Isra Miraj 2026? Catat Tanggalnya Sesuai SKB 3 Menteri
Setiap mata rantai mengambil margin, ditambah biaya transportasi antarpulau dan risiko susut kualitas. Akibatnya, terjadi jurang harga yang mencolok antara hulu dan hilir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: