Reflek Radjimin
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--
Pun saya. Berburuk sangka pada James Rachman Radjimin. Juga pada almarhum Ali Mahakam. Pun pada Sindunata Sambhudi.
Ketika mereka dalam kondisi vegetatif saya pikir hidupnya sudah seperti hidupnya tanaman. Atau sayuran. Kesannya negatif.
Sabtu kemarin, di hari ketika pemilik Hotel JW Marriott Surabaya itu dimakamkan, saya minta maaf kepada mereka --teman-teman saya itu.

Dahlan Iskan saat maisong di tempat persemayaman jenazah Radjimin.--
Berarti saya juga sempat berburuk sangka pada ilmu pengetahuan. Istilah vegetatif ternyata diciptakan bukan untuk menghinakan orang sakit. Menurut berbagai literatur, istilah itu dilakukan justru untuk menghormati kehidupan.
Anda sudah tahu: dalam bahasa Yunani vegetare berarti hidup. Atau tumbuh. Tapi vegetativus sesuatu yang menyangkut dasar-dasar kehidupan. Artinya orang yang vegetatif berarti orang hidup.
Secara moral itu penting --kalau Anda masih mementingkan moral di zaman serba ”wani piro” ini.
Dokter tidak akan mau melakukan permintaan keluarga: euthanasia. Dimatikan saja. Ini karena orang yang dalam keadaan vegetatif batang otaknya masih hidup.
Etika yang lain: organnya tidak boleh didonorkan. Kalau sampai hatinya diambil separo, bisa mengancam hidup vegetatif-nya. Tidak boleh juga diambil salah satu ginjalnya. Orang yang vegetatif mudah terkena infeksi. Padahal salah satu prinsip donasi organ adalah: tidak boleh mengancam kehidupan pendonor. Bahwa Nisa mendonorkan separo hatinyi untuk suami itu karena ilmu pengetahuan sudah memastikan tidak mengancam jiwa Nisa (Disway 5 November 2025: Hati Hitam).
Karena itu Anita, istri Radjimin, terus merawat suaminyi. Perawatan terbaik. Awalnya berbagai dokter di banyak negara diterbangkan ke Surabaya. Gagal satu datang lagi dari negara lain.
Setelah semua dokter menyerah, Anita membawa Radjimin pulang. Salah satu kamar di rumahnyi diubah menjadi ICU. Dengan peralatan yang lengkap. Perawat dari rumah sakit didatangkan 24 jam. Menjaga. Bergantian. Selama delapan tahun. Masih ditambah tenaga dari internal perusahaan. Salah satunya Wanita Disway, Mbak Pipit.
Pernah saya menengok ke ”ICU” itu: terlihat wajah Radjimin sangat segar. Agak seperti tersenyum. Kulitnya juga mulus. Segar. Telentang. Tidak bergerak.
Tiap hari Radjimin diberi makan. Tiga kali. Lewat selang. Langsung menuju lambung. Makanan itu dibuat sendiri, berdasar ramuan menu dari dokter. Misalnya tepung beras dicampur ikan gabus. Atau sayur dicampur buah. Atau kacang hijau. Bisa juga putih telur. Semua itu dilembutkan. Dimasak.
Radjimin selalu makan sehat. Ia hanya makan yang penting-penting. Soal rasa nomor dua. Pencernaannya bersih. Tidak perlu kerja keras. Tidak pernah salah makan seperti Anda: akibat ”enak mengalahkan penting”.
Karena itu delapan tahun vegetatif Radjimin hampir tidak pernah sakit. Memang sempat terkena Covid dan dirawat di rumah sakit di Surabaya, sembuh.
Obat yang ia minum hanya nexium --obat anti infensi. Orang vegetatif memang rawan kena infeksi. Tidak ada obat lainnya. Ia sehat sekali. Kalau pun ada obat lain itu sejenis suplemen: maltifer fol. Kandungannya: zat besi dan asam folat. Itu obat yang biasa diberikan kepada orang yang anemia.
Awal Desember lalu tekanan darahnya drop. Dilarikan ke rumah sakit. Lalu kreatininnya jadi 3. Keadaannya turun naik. Lalu meninggal dunia 6 Januari lalu.
Saya tidak menyangka kalau Radjimin tidak tamat SMA. Saya tahu ia sangat intelektual. Tapi saya memang baru kenal ketika ia sudah sukses. Sudah punya Hotel Westin --yang sekarang jadi JW Marriott.
Kalau yang lain sekolah dulu untuk sukses, Radjimin sukses dulu baru kuliah. Ternyata ia kuliah jarak jauh. Yakni di salah satu universitas di Xiamen. Di prodi sastra Mandarin. Bahkan ia sampai ambil S-2 di universitas yang sama. Dosen-dosennya yang terbang ke Surabaya. Belakangan Radjimin menjadi ketua alumni universitas itu.

Mendiang J.R. Radjimin dan putranya Erastus Radjimin. Perintis industri perhotelan di Surabaya itu berpulang pada 6 Januari 2026 dalam usia 75 tahun.--HARIAN DISWAY
Di tengah kondisi vegetatifnya saya dapat kabar: keluarga sangat senang. Itu karena air mata Radjimin meleleh saat istrinya membisikkan sesuatu. Keluarga merasa Radjimin bisa merespon apa yang dibisikkan.
Secara ilmu kedokteran orang vegetatif ternyata memang bisa melelehkan air mata. Tapi itu bukan datang dari kesadaran. Itu sebuah reflek.
Telinga dan saluran pendengaran memang masih berfungsi. Tapi tanpa kesadaran. Kalau ada air mata meleleh itu bukan karena sadar tentang apa yang dibisikkan tapi itu seperti reflek.
Bahkan jantung bisa berdetak tanpa alat bantu. Tapi semua itu terjadi secara otomatis. Karena batang otak masih hidup.
Setiap istri dan anak menengoknya mereka selalu membisikkan sesuatu. Bertahun-tahun. Saat ulang tahun pun tetap diulangtahuni. Di personal ICU itu.
Akhirnya dari orang vegetatif saya bisa membedakan bahwa reflek itu ternyata di luar kesadaran. Maka negara tidak bisa dipegang oleh orang-orang vegetatif --khawatir program-programnya didasarkan reflek. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 11 Januari 2026: Sirrul Cholil
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DURIAN, DAILAIL, DAN JALAN TAK DIRESMIKAN.. CHDI hari ini seperti durian Lerpak: kecil-kecil, tapi begitu dibelah, aromanya ke mana-mana. Dimulai dari hujan, banjir, dan jambu air yang kehilangan manisnya, lalu berakhir pada “sirrul”—rahasia yang justru terbuka pelan-pelan. Saya suka cara Pak Dahlan menyatukan hal yang tampaknya tak nyambung: jalan desa yang mulus tapi tak pernah diresmikan, politik yang datang lalu pergi, durian yang tetap setia pada rasanya, dan seorang kiai yang lahir dari kenakalan panjang. Ini kisah tentang proses—bukan instan, bukan pencitraan. Muqtafi tumbuh bukan karena dimarahi, tapi karena diberi kitab kecil. Dalail. Tipis, tapi isinya berat. Seperti durian Madura: dagingnya tak tebal, tapi “kenanya” dalam. Titik balik hidup kadang memang tidak datang dari pidato panjang, melainkan dari satu bacaan yang tepat, di waktu yang tepat. Anak kiai nakal dibiarkan karena anak kiai. Ironi pesantren yang disampaikan tanpa marah, tanpa menggurui. Dan ujungnya manis: cinta, kawin lari, anak wisuda psikologi. Lengkap. Sirrul Cholil pantas disebut “rahasia kekasih”. Tersembunyi, sunyi, tapi justru di situlah maknanya tumbuh.
Mukidi Teguh
Oh ini rupanya salah satu rahasia kesuksesan Abah: inovasi cerdik tiada henti. Salah satunya: DIS morning. Kapan hari itu, merangkul banyak surat kabar lokal masuk ke DISway Network News. Dan banyak lagi inovasi skala nano lainnya. Sepertinya Abah sedang membangun ekosistem perkabaran beda dari yang lain, ditengah ngos-ngosannya banyak surat kabar lama. Yang digadang mampu bertahan dari gegap gempitanya internet dan AI. Pelajarannya: ide boleh biasa, eksekusinya harus luar biasa.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DALAIL: KITAB KECIL YANG MENGUBAH ARAH.. Dalail sering disebut kitab salawat. Itu benar. Tapi belum lengkap. Dalail sejatinya kitab disiplin. Dibaca teratur. Tidak boleh loncat. Tidak bisa pilih-pilih. Ia melatih istiqamah, bukan emosi sesaat. Di pesantren lama, Dalail sering “diberikan” pada santri yang keras kepala. Bukan untuk mengalahkan logikanya. Tapi untuk melunakkan egonya. Salawat memang tidak berdebat. Ia bekerja diam-diam. Pak Dahlan menempatkan Dalail secara pas. Bukan sebagai kisah karamah murahan. Melainkan sebagai titik balik batin. Ulama besar saja bisa merasa “kurang”. Apalagi santri remaja yang sedang liar. Kisah Muqtafi jadi masuk akal. Ia tidak berubah karena dimarahi. Ia berubah karena menemukan sesuatu yang membuatnya betah duduk. Betah membaca. Betah diam. Dalail bukan kitab untuk minta cepat. Ia bukan mesin permohonan. Ia kitab relasi. Relasi dengan Nabi. Tanpa transaksi. Dan seperti durian Lerpak. Kecil. Tak mencolok. Tapi sekali kena, rasanya tinggal lama.
Sugi
Sepakat Bah kunci ilmu pengetahuan adalah pertanyaan. Bukan dogma. Bukan hafalan. Bukan sontekan. Dari sana kegiatan belajar dan mengajar akan hidup dan berkesan. Bertanya untuk mencari kebenaran. Bertanya bukan untuk debat kusir. Bertanya bukan untuk menjatuhkan. Bertanya malah untuk membuktikan kita tidak pintar-pintar amat. Semoga Kiai Cholil, beserta istri dan anak senantiasa dilapangkan segalanya, sehat selalu, dalam mengurusi amanah pesantrennya. Abah juga jangan kebanyakan makan durian, nanti kemaruk. Rawan masalah pencernaan dan tekanan darah tinggi. Semoga CHDI masih terus ada meski DIS morning mulai tayang. Sukses selalu untuk DISWAY.
Taufik Hidayat
Waduk . Cerita abah DI dalam artikel ini adalah tentang pulau Madura. Walau bukan kampung saya tapi cukup banyak kenangan karena sempat main man kesana beberapa kali dalam kurun waktu yang berbeda. Masih segar dalam ingatan berkunjung ke sana lebih 35 tahun lalu. Masih di awal thn 1990 an. Tentu saja belum ada jembatan Suramadu, jadi naik ferry . Lalu nginep di sampang. Yah kalau di Madura yang berkesan adalah kemana mana tidak pakai celana alias saringan . Jalan jalan nya sampai Pamekasan yag ada Dian yang tak kunjung padam, ziarah ke makam Makam wali, sampai ke Sumenep yaitu ke Asta Tinggi. Sesudah itu beberapa kali lagi jalan jalan ke Madura yang ini khusus wisata . Jadi nginap di hotel di Pamekasan. Jalan jalannya juga sampai ke Sumenep sampai ke pantai Lombang dan tentu tetap ziarah ke makam makam. Yang terakhir mungkin dua atau tiga tahun lalu. Naik mobil dari jakarta Yogya Surabaya . Setelah nginap di Surabaya kita jalan ke Bangkalan, ke bukit Jaddih, , Pemandian Goa Putih, kemudian ke Arosbaya, ziarah ke Airmata . Dari sini menuju ke sampang . Nah lewat Kampak dan kemudian Lerpak ini. Yang tetap menarik di Madura adalah karena banyak pesantren, orang pakai sarung kemana mana dan bahkan banyak yang naik mobil sambil berdiri pegangan di belakang mobil. Kadang kadang jadi ingat Myanmar dengan longyi nya.
ikhwan guru sejarah
Saya dulu sempat terpengaruh ceramah Ucup Mansur, tentang sholawat ini. Sholawat untuk segala hal duniawi. Lama-lama saya pikir, sholawat macam gini malah merendahkan Rasulullah SAW. Bukan mencintai, bukan mendoakan, malah menjadikan mantra nafsu pribadi.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Sadewa.. Sholawat itu ibadah, bukan mesin ATM spiritual. Bukan tombol “request duniawi”. Masalahnya bukan di sholawatnya. Masalahnya di niat dan logika beragamanya. Imam Jazuli ditegur karena lalai adab, bukan karena target dunia. Beliau ingin wudhu. Bersih dulu. Taat dulu. Hari yang sering terjadi ini malahbkebalik. Ambisi dulu. Kekuasaan dulu. Syahwat dulu. Lalu sholawat dijadikan stempel. ### Kalau semua cukup “sholawatin aja dulu”, ngapain belajar, bekerja, berikhtiar, dan bertanggung jawab? Agama jadi mantra. Bukan tuntunan.
ALI FAUZI
Sholawatan itu bentuk cinta paling remeh kepada Nabi Muhammad SAW. Bentuk cinta paling berat ya.... terus mensuritauladi pemikiran dan tindakan Beliau.
Sadewa 19
Entahlah ajaran darimana. Sholawat kepada Nabi saat ini sering disalah gunakan. Kepengen rumah tingkat, sholawatin aja dulu. Kepengen istri empat sholawatin aja dulu. Kepengen jadi pejabat, sholawatin aja dulu. Menurut keyakinan saya, ini salah kaprah rentang sholawat. Terima kasih Abah sudah mengingatkan. Imam Jazuli merasa ditegur kurang sholawat. Justru saat beliau ingin wudhu, bukan ingin hal hal duniawi yg sering kita bayangkan. Ingin ganti wapres. Sholawatin aja dulu...#duh..
D' Swan
Anak kiyai atau ulama pembangkang? Konon syhekh Djamil Djambek dulunya seorang parewa, preman yang meresahkan di masyarakat namun kemudian menjadi ulama besar Minang. Salah satu anaknya Kolonel Dahlan Djambek menjadi menteri di Pe merintahan Revolusioner Republik Indonesia PRRI. Pembangkang juga sih .
Ciga Sama
DIS Morning. Setiap Hari. Jam lima pagi. Tapi lima pagi yang mana, Bah? WIB, WITA, atau WIT? Sepertinya WIB. Karena negeri ini terbiasa menjadikan Jawa sebagai matahari. Lalu bagaimana kalau Abah sedang di Papua, saat jam sudah tujuh dan kopi hampir habis? Atau di kansas city, di mana matahari belum niat bangun sementara DIS Morning baru dimulai?
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Xiaomi.. Kalau kawin lari, memang sering muncul pertanyaan: “Lah, walinya siapa? Wong bapaknya masih ada?” Jawabannya sederhana tapi jenaka: "Karena kawinnya lari, bapaknya mewakilkan ke keluarganya. Yang masih kuat lari.. #pak KUA..
Yos Os Nursal
Kiai itu berdiri ditengah sambil memegang Mic dengan kedua tangannya. Habaib dan tokoh agama lainnya duduk disamping kanan dan kirinya. Begitu terlihat di foto halaman pertama kitab itu. Sepertinya beliau sedang memberi kata sambutan. Menurut pakar bahasa tubuh, jika ada orang memegang mic dengan kedua tangannya ada kemungkinan dia sedang gugup. Perlu pegangan yang kuat agar gugupnya tidak terlihat. Saya menduga, Kiai itu gugup bukan karena materi sambutan yang akan disampaikannya. Sangat yakin beliau jago sekali dalam hal kata sambut menyambut seperti itu. Bergamis putih panjang,bersorban dan sampir bermotif hitam putih dipundak yang kedua ujungnya menjulur kedepan sampai kebawah pusarnya. Gamisnya lebih habaib dari habaib yang duduk disebelah kanannya. Sorbannya terlihat lebih alim dari tokoh agama yang duduk disebelah kirinya. Salah kostum. Gugup. Dugaan saya. Tidak berlebihan rasanya saya menyebut beliau Kiai dari Magetan. Asal usul kata Kiai menguatkan istilah itu. Dalam bahasa jawa Kiai bisa diartikan "dituakan dan dihormati". Dituakan oleh generasi setelahnya dan dihormati oleh bawahannya. Tidak sedikit perusuh angkat Ampu Jari karena keilmuannya di figih kehidupan. Fiqih yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Itulah sedikit kisah Kiai "Elan" yang lahir di Magetan. Dibalut dengan sobekan sarung milik ayahnya ketika baru lahir. Saking tidak punyanya,saking miskinnya. Ketika itu. Kisah ini di nukil dari Kitab The Next One halaman pertama.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BACA SHOLAWAT ADALAH IBADAH, BUKAN TOMBOL.. 1). Menurut Hadis Nabi. “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim) Makna utama: A). Allah memberi rahmat, ampunan, dan peninggian derajat. B). Bukan janji kaya, jabatan, atau syahwat. 2). Empat Imam Mazhab; Imam Syafi’i. “Aku mencintai sholawat karena ia sebab diterimanya doa.” Catatan penting: A). Sebab diterima doa, bukan pengganti ikhtiar. 3). Imam Ahmad bin Hanbal. Menganjurkan sholawat dalam doa karena adab kepada Nabi, bukan karena target duniawi. 4). Sahabat Nabi. Ubay bin Ka‘ab bertanya: "Jika semua doaku aku jadikan sholawat?” Nabi menjawab: “Jika demikian, dicukupkan urusanmu dan diampuni dosamu.” (HR. Tirmidzi) Hikmah: Dicukupkan urusan agama dan akhirat, bukan daftar ambisi. 5). Ulama Dunia: Umam Al-Ghazali. "Sholawat itu penyuci hati, agar doa tidak keluar dari hati yang kotor". 6). Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. "Sholawat adalah hak Nabi, bukan alat tawar-menawar dengan Tuhan". 7). Ulama Indonesia: KH Hasyim Asy’ari. "Sholawat itu adab, bukan jimat". 8). Gus Dur. "Kalau sholawat melahirkan keserakahan, berarti yang salah bukan sholawatnya, tapi cara beragamanya". 9). Kesimpulan. Sholawat itu: A). Mendekatkan pada Nabi. B). Menyucikan niat. C). Membuka rahmat. Kalau sholawat dipakai untuk nafsu, itu bukan ibadah. Itu transaksi spiritual palsu.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SELAMAT DATANG KE DESA LERPAK.. Sampiyan kaula sambut sadhâjâ ka dhisa Lerpak. Manabi’ dhâ’ musim dârian, sampiyan badhâ’ ngaraosagi dârian Lerpak. Kaula jamin, manabi’ sapo’ sampiyan sampun ngaraosagi lajeng ngocap: “Dârian Lerpak niki lebbhi éna’ dâri Musangking,” sareng sampiyan yakin dâlem atè, maka sakalangkong, nika’ bakal kajhâdhiyân. Tapi manabi’ sampiyan ta’ yakin, kaula nyo’ona, sampiyan balè’ malèh ka Lerpak. Taon badhâ’.
Thamrin Dahlan YPTD
Ada tiga kata kunci. Shalawat dan Durian serta anak Nakal. Shalawat berangkat dari Iman. Keyakinan bahwa Allah SWT bershalawat untuk Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Tentu saja umat ber shalawat seperti juga alam semesta. Alhamdulillah ketika Umroh Desember 2026 kami sekeluarga terjadwal berdoa di raudhah. Taman Surga nan ada di bumi tepatnya di Masjid Nabawi Madinah. Tersa sangat dekat sekali dalamm satu keyakinan semua doa di ijabah. Allahuma Shali ala Sayidinna Muhammad Wa ala Ali Syaidina Muhammad . Perihal Durian Madura membuat penasaran juga. Soal anak Nakal awak terkesan cara Pak Kiayi mendidik putra sehingga menjadi baik mengikuti jejak pesantren. Kitab Shalawat wajib dibaca ulang berulang sampai khatam. InshaAllah. Salamsalaman
Muh Nursalim
Anak kyai pintar sekali. Terkadang melebihi bapaknya. Itu umumnya. Terus umat bilang krn dpt ilmu laduni. Langsung pintar dari Alloh tanpa belajar. Padahal mereka jungkir balik dlm belajar. Tekun dan tanpa kenal waktu mengkaji kitab2. Tidak ada itu ilmu laduni. Semua gus dan lora yg alim merupakan hasil belajarnya. Bukan tiba2 pintar.
Johannes Kitono
Mandi Kutilang. Minggu pagi ini setelah Misa di MBL mampir ke Anggrek Cafe di PL-TA. Bangku panjang tempat ngopi terlihat kosong melompong. Gerimis rintik rintik membuat peserta ngopi lebih senang nikmati tidurnya.Sambil tersenyum peluk pasangan atau bantal bagi yang jomblo. Beberapa ekor Kutilang terlihat berkicau bercengkrema di pohon Allamanda.Kombinasi bunga Terompet emas dengan bulu Kutilang.Sungguh indah dipandang mata. Biar hujan atau panas Kutilang di PL-TA tetap setia. Selalu datang berkicau ditempat ngopi. Tidak terganggu suara dahak RP, peserta diskusi yang selevelRocky Gelo. Kicauan Kutilang seolah ucapan terima kasih. Atas pisang atau buah Apel sajian bro Sambo, CEO Anggrek Cafe. Pagi ini pisang sudah tinggal kulit. Mereka tetap bermandi ria megepak kepak sayapnya. Kutilang ( Pycnonotus aurigaster ) adalah burung simbol kebahagian, hokie. Mereka memakan serangga hama tanaman.Membantu menjaga keseimbangan alam TA. Biar tetap damai dan harmoni. Buah di dahan Allamanda Cafe Anggrek adalah bonus tambahan. Selain kutilang di pohon samping bangku kayu .Terkadang ada juga Kutilang langsing yang bahunya bertatto. Menyendiri duduk dikantin. Kutilang satu ini setinggi pramugari SQ. Walakin tidak bisa berkicau tapi senyum indahnya penuh misteri. Ada peserta ngopi yang merasa hokie. Merasa Kutilang made in China ini tersenyum padanya. Sudah 3 hari Kutilang cantik absen. Entah kena Super Flu atau pelet peserta diskusi. Semoga besok mau muncul lagi. S S H B .
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Sekarang, meski anaknya tidak dititipkan ke kiai temannya, kalau nakal tetap tidak dihukum karena takut dilaporkan ke Komisi Anak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 120
Silahkan login untuk berkomentar