Perjalanan Cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng hingga Maut Memisahkan, Harmonis Meski Banyak Rintangan!

Perjalanan Cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng hingga Maut Memisahkan, Harmonis Meski Banyak Rintangan!

Perjalanan Cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng hingga Maut Memisahkan.--Repro Biografi Hoegeng

Pada suatu hari, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, dan saat itu Meriyati baru saja merintis usaha toko bunga bernama "Leilani" di Cikini.

Namun, ketika sang suami khawatir akan keberadaan usaha tersebut yang bisa saja dimanfaatkan untuk mendekati dirinya sebagai pejabat publik membuat Meri mengambil keputusan tegas.

Di mana, ia langsung menutup usaha toko bunga itu tanpa ragu.

Hari-hari berikutnya, ia terus saja menghadapi banyak godaan berupa fasilitas mewah.

Namun, Meri selalu berada di belakang keputusan Hoegeng untuk menolaknya.

Bahkan, di saat banyak pejabat ikut perjalanan dinas ke luar negeri dengan membawa istrinya masing-masing, Meriyati justru tidak ikut. Ia lebih menghargai keputusan suaminya yang hanya memakai biaya resmi tanpa ada tambahan fasilitas.

Pada masa pensiun, keduanya menjalani kehidupan sederhana dan penuh keharmonisan.

Mereka bergantung pada kegiatan yang berproduktif, seperti melukis hingga tampil di grup musik Hawaiian Seniors.

Gaya kehidupan mereka pun kala itu sangat jauh dari kata glamor.

Usai maut memisahkan keduanya, di mana Hoegeng wafat pada tahun 2004, ia tetap setia dan memegang setengah pensiun suaminya untuk menjalani hidupnya sehari-hari.

Ulang Tahun ke-100 Tahun Meluncurkan Buku Autobiografi


Istri Pahlawan Nasional Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng Roeslani, meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2025-Istimewa-

Tepat pada tahun lalu, wanita bernama asli Meriyati Roeslani Hoegeng ini merayakan ulang tahunnya yang genap berusia 100 tahun.

Perayaan ini menjadi momen istimewa bagi diri Meri, di mana ia juga meluncurkan sebuah buku autobiografina.

Buku edisi khusus ini berisi perjalanan hidupnya yang ditulis oleh sang cucu, Krisnadi Ramajaya Hoegeng.

Dalam kesempatan itu, Eyang Meri menyerahkan buku autobiografinya kepada para tamu dan juga pihak kepolisian yang hadir sebagai bentuk simbolis dari warisan nilai yang ia titipkan ke generasi penerus.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads