Bengkulu Jadi Provinsi Percontohan PRKBI, Percepat Transformasi Rendah Karbon di Daerah
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo dalam Dialog Kebijakan Tingkat Provinsi Bengkulu-Nungki-
BENGKULU, DISWAY.ID-- Provinsi Bengkulu resmi didapuk sebagai salah satu dari empat daerah pilot implementasi Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) di tingkat subnasional.
Penetapan ini menempatkan Bumi Rafflesia sejajar dengan Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku sebagai daerah percontohan nasional dalam mendorong transformasi pembangunan hijau di Indonesia.
Penguatan peran strategis ini ditegaskan dalam Dialog Kebijakan Tingkat Provinsi Bengkulu bertajuk “Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Akselerasi Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim”.
BACA JUGA:Permen 6/2026 Berlaku, Sekolah Aman Jadi Fokus Utama Kemendikdasmen
Forum ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), dengan dukungan Oxford Policy Management serta konsorsium organisasi masyarakat sipil.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk memastikan kesiapan daerah dalam mendukung target nasional.
"Forum ini menjadi ruang bersama untuk menyelaraskan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya PRKBI. Tujuannya adalah memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, legislatif, swasta, hingga masyarakat sipil," ujar Teguh.
Bengkulu terpilih bukan tanpa alasan. Dari sektor Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU), provinsi ini memiliki modal alam yang fantastis. Bengkulu tercatat memiliki kawasan hutan seluas 928.863 hektare, atau sekitar 46 persen dari total daratan.
BACA JUGA:Polri Siapkan Skenario Jumbo Operasi Ketupat 2026
Rinciannya pun sangat potensial sebagai penyerap karbon alami yaitu 49,58 persen merupakan hutan konservasi dan 27,8 persen merupakan hutan lindung.
Tak hanya daratan, potensi bahari Bengkulu pun menjadi sorotan. Dengan garis pantai sepanjang 525 kilometer di pesisir Samudra Hindia, ditambah 100 kilometer di sekeliling Pulau Enggano, Bengkulu memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi biru yang selaras dengan prinsip ketahanan iklim.
Namun, potensi besar tersebut dibayangi tantangan serius. Bengkulu kini berhadapan dengan krisis iklim, degradasi lingkungan, abrasi pantai yang masif, serta kerentanan sosial.
Hal inilah yang memperkuat urgensi percepatan implementasi PRKBI agar pembangunan daerah tetap tangguh.
Sebagai provinsi percontohan, Bengkulu diharapkan mampu mengintegrasikan PRKBI ke dalam dokumen perencanaan resmi, seperti RPJMD dan Renstra perangkat daerah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: