Benarkah Rokok Elektrik Lebih Rendah Risiko? Ini Temuan Terbaru dari Penelitian Pennsylvania State
Studi Terbaru: Produk Tembakau Alternatif Berpotensi Kurangi Paparan Zat Berbahaya bagi Perokok Dewasa-ArthurHidden-magnific
JAKARTA, DISWAY.ID - Sebuah penelitian terbaru dari Pennsylvania State College of Medicine mengungkap temuan baru mengenai produk tembakau alternatif.
Hasil uji klinis tersebut menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantung nikotin berpotensi membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok sekaligus menurunkan paparan berbagai zat berbahaya yang berasal dari proses pembakaran tembakau.
Temuan ini dinilai menjadi salah satu referensi ilmiah dalam pendekatan harm reduction atau pengurangan risiko bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok menggunakan metode yang selama ini direkomendasikan.
Associate Professor Department of Public Health Sciences, Penn State College of Medicine, Jessica M. Yingst, mengatakan hasil penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa peralihan ke produk tembakau alternatif dapat menjadi pilihan bagi kelompok perokok dewasa tertentu.
"Bagi perokok yang belum berhasil berhenti merokok melalui pendekatan yang direkomendasikan, penelitian ini menunjukkan bahwa beralih ke produk tembakau alternatif dikaitkan dengan pengurangan nyata paparan zat beracun berbahaya sekaligus mendukung transisi dari kebiasaan merokok. Ini merupakan temuan yang bermakna bagi kesehatan masyarakat," ujar Yingst, dikutip Rabu 15 Juli 2026.
BACA JUGA:Komisi III DPR Ingatkan Pemerintah soal Wacana Kebijakan Baru CHT untuk Rokok Ilegal
Penelitian yang berjudul Toxicant Exposures After Switching From Cigarettes to a Pod-Based Electronic Cigarette dan dipublikasikan pada Mei 2026 menemukan bahwa peserta yang menggunakan produk tembakau alternatif dalam jangka pendek memiliki peluang sekitar tiga kali lebih besar untuk meninggalkan kebiasaan merokok dibandingkan kelompok yang menggunakan produk tanpa kandungan nikotin.
Selain itu, para peneliti juga mencatat adanya penurunan berbagai biomarker paparan zat berbahaya pada kelompok yang beralih ke produk tembakau alternatif. Hasil tersebut memperkuat pemahaman bahwa sebagian besar senyawa berbahaya yang berkaitan dengan rokok berasal dari proses pembakaran tembakau, bukan dari nikotin semata.
Yingst menjelaskan bahwa nikotin memang memiliki sifat adiktif sehingga dapat menyebabkan ketergantungan. Namun, menurutnya, zat tersebut bukan penyebab utama berbagai penyakit yang selama ini dikaitkan dengan aktivitas merokok.
"Penghantaran nikotin yang memadai menjadi faktor kunci dalam proses peralihan. Produk tembakau alternatif menyediakan nikotin bagi konsumen sekaligus mengurangi paparan terhadap berbagai zat kimia berbahaya secara signifikan," jelasnya.
BACA JUGA:Bea Cukai Gagalkan Peredaran 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Kerugian Negara Rp8,6 M
Edukasi Tetap Menjadi Faktor Penting
Temuan penelitian tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan. Ia menilai hasil studi dari Pennsylvania State College of Medicine semakin memperkuat bukti ilmiah mengenai potensi produk tembakau alternatif dalam menekan paparan zat berbahaya bagi perokok dewasa yang beralih dari rokok konvensional.
Menurut Paido, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengguna masih memperoleh asupan nikotin, namun dengan tingkat paparan zat berbahaya yang lebih rendah dibandingkan saat mengonsumsi rokok yang dibakar.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa peserta tetap memperoleh nikotin, namun dengan paparan zat berbahaya yang menurun. Temuan ini semakin memperkuat pemahaman bahwa sebagian besar zat berbahaya berasal dari proses pembakaran tembakau, sehingga dengan menghilangkan proses pembakaran, paparan terhadap sejumlah zat berbahaya dapat dikurangi," katanya.
Meski demikian, Paido menegaskan bahwa produk tembakau alternatif bukanlah produk tanpa risiko. Menurutnya, produk tersebut hanya diperuntukkan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok, bukan untuk anak di bawah umur, perempuan hamil, maupun masyarakat yang tidak merokok.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: