Menyelami Kedalaman Makna Puasa
Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII): Awal Ramadan 2026 kembali diwarnai perdebatan mengenai metode hisab dan rukyat, serta penggunaan matla’ lokal atau global.-dok disway-
Tradisi saling mengunjungi dan meminta maaf—terutama dari yang muda kepada yang lebih tua—menjadi praktik sosial yang memperkuat kohesi.
Clifford Geertz melihat Idul Fitri sebagai momentum integratif yang melampaui sekat-sekat sosial dalam masyarakat Jawa.
Rangkaian ini ditutup dengan tradisi syawalan, terutama pada hari kelima Syawal, ketika ketupat dan hidangan khas disajikan sebagai simbol penyempurnaan siklus spiritual.
Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi ini sebagai warisan dakwah kultural Walisongo yang mengakomodasi budaya lokal dalam penyebaran Islam.
Sebagian lainnya melakukan adaptasi karena pertimbangan ekonomi dan perubahan struktur sosial. Di sinilah tampak bahwa tradisi puasa bukan sesuatu yang statis, melainkan terus bergerak mengikuti dinamika masyarakat.
BACA JUGA:Sosok Mahasiswa UIN Suska Riau Pembacok Mahasiswi, dari Cinta Berujung Tersangka
BACA JUGA:Atasi Fragmentasi Aplikasi, Pemerintah Luncurkan Rencana Induk Digital 2025–2045
Di wilayah perkotaan, ekspresi puasa mengalami transformasi. Karakter masyarakat kota yang sibuk dan individualistis membentuk pola baru dalam menjalankan tradisi Ramadan.
Interaksi sosial yang terbatas akibat struktur hunian yang tertutup dan ritme kerja yang padat membuat ritual kolektif menjadi lebih sulit dilakukan.
Akibatnya, praktik keagamaan bersama bergeser menjadi bentuk yang lebih fleksibel: buka puasa bersama di restoran, pengajian di hotel atau kantor, serta i‘tikaf yang diatur dalam waktu-waktu tertentu.
Tradisi buka puasa bersama (iftar) sebenarnya memiliki akar historis sejak masa Nabi Muhammad. Beliau berbuka bersama keluarga dan para sahabat di masjid, sebuah praktik yang menegaskan dimensi kebersamaan dalam ibadah.
Di era modern, iftar berkembang menjadi ruang sosial lintas komunitas. Di kota-kota besar, ia tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga ruang interaksi sosial dan profesional.
Dalam banyak kasus, iftar dikemas secara lebih eksklusif, bahkan disertai tausiyah singkat atau kegiatan filantropi seperti berbagi dengan anak yatim. Transformasi ini menunjukkan kemampuan tradisi puasa untuk beradaptasi tanpa kehilangan makna dasarnya.
BACA JUGA:Arsenal Bidik Anthony Gordon, Jadi Rekrutan Kunci untuk Proyek Mikel Arteta?
BACA JUGA:Campak Mengintai, Kemenkes Genjot Imunisasi MR Tutup Kantong Rentan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: