Menyelami Kedalaman Makna Puasa

Menyelami Kedalaman Makna Puasa

Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII): Awal Ramadan 2026 kembali diwarnai perdebatan mengenai metode hisab dan rukyat, serta penggunaan matla’ lokal atau global.-dok disway-

I‘tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan juga menjadi fenomena menarik di kota. Praktik ini menghadirkan kerinduan akan pengalaman spiritual yang lebih mendalam di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Sebagian melakukannya untuk menghidupkan kembali memori masa kecil di surau, sebagian lain mencari pengalaman baru yang memberikan ketenangan batin.

Tradisi tidur di masjid yang dahulu umum di berbagai daerah kini hadir kembali dalam bentuk yang lebih reflektif.

Dalam perspektif antropologi, keberlangsungan suatu ritual sangat bergantung pada kemampuannya dikemas dalam bentuk “festival”.

Festival tidak sekadar pesta, tetapi mekanisme sosial untuk mentransmisikan nilai. Nyadran, slametan, buka puasa bersama, hingga takbiran merupakan bentuk festival yang mengikat individu dalam pengalaman kolektif. Ritual menjadi hidup karena ia dirayakan, bukan hanya dijalankan.

Émile Durkheim menjelaskan bahwa fungsi utama agama adalah membangun dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam momen duka, ritual memberikan kekuatan kolektif untuk bertahan.

Dalam momen bahagia, ia melahirkan kegembiraan bersama yang mempererat ikatan sosial. Konsep collective effervescence—ledakan emosi kolektif—menjadi kunci bagaimana masyarakat merasakan kebersamaan yang melampaui individu.

BACA JUGA:BEM UI Geruduk Mabes Polri Siang Ini, Tuntut Keadilan untuk Kematian Siswa Tual

BACA JUGA:Keras! PDIP Resmi Larang Kader Terlibat Bisnis SPPG Program MBG Prabowo

Puasa, dalam konteks ini, bukan hanya ibadah personal, tetapi mekanisme pembentukan “kesadaran sosial” yang memungkinkan masyarakat saling terhubung secara emosional dan moral.

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa suasana Ramadan di desa terasa lebih mendalam dibandingkan di kota. Jawabannya dapat dilihat melalui kerangka Durkheim tentang solidaritas mekanik dan organik.

Masyarakat desa yang homogen berpartisipasi secara langsung dan kolektif dalam setiap ritual, sehingga pengalaman spiritual terasa lebih intens.

Sebaliknya, masyarakat kota yang heterogen berkontribusi melalui peran-peran yang lebih terfragmentasi. Partisipasi tetap ada, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional yang sama.

Puasa, dengan demikian, adalah lautan makna. Ia mengandung dimensi spiritual, sosial, kultural, bahkan antropologis. Ia mengajarkan disiplin diri sekaligus membangun empati sosial.

Ia menghadirkan keheningan batin sekaligus kegembiraan kolektif. Ia menghubungkan manusia dengan Tuhan, sekaligus menghubungkan manusia dengan sesamanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads