Kritik Kopdes Merah Putih, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Lagi-lagi Soal Simulacra
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mempertanyakan kejelasan Koperasi Desa Merah Putih Prabowo-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM), Tiyo Ardianto juga mengkritik program Koperasi Desa Merah Putih yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Tiyo Ardianto mempertanyakan kejelasan program Koperasi Desa Merah Putih tersebut yang dinilai sangat dipaksakan.
BACA JUGA:143 Juta Orang Bakal Mudik Lebaran 2026, Menko PMK Tekankan Keselamatan Jiwa
BACA JUGA:Viral Video ART Dianiaya Majikan di Sunter, Polres Jakut Turun Tangan
“Ada 80.000 lebih desa di Indonesia, dan semuanya oleh negara dipaksa untuk membuat koperasi,” ujar Tiyo dikutip dari channel Youtube Cak Nun.
“Kalau kita tarik di gagasan-gagasan bapak-bapak kita soal koperasi, sebenernya koperasi desa merah putih ini kan sangat jauh dari apa yang dibuat koperasi. Itu lebih mirip semacam toko yang dibuat. Ketimbang koperasi yang modalnya dari anggota, kemudian dibina oleh anggota,” jelasnya.
Tiyo mengatakan, hal ini karena dalam implementasinya bisa terhitung yang sudah berjalan berapa banyak dan yang sudah tutup juga berapa banyak.
“Bahkan di Tuban itu, kalau kita baca, ada yang setelah pembukaan itu langsung tutup. Dan itu termasuk koperasi Desa Merah Putih yang menjadi percontohan,” tuturnya.
BACA JUGA:Tolak Gugatan Ambang Batas Parlemen, MK Nilai Masih Prematur
BACA JUGA:Laba Unaudited Tembus Rp6 T, Ini Langkah PalmCo Capai Lompatan Kinerja
“Percontohan itu artinya kan barang yang ditaruh di Etalase. Lah kalau yang ditaruh di Etalase saja tiga hari setelah dia dibuka itu dikukutin, rak-raknya, papan-papannya, maka bahkan termasuk foto presiden di koperasi itu diturunkan tuh. Maka gimana yang lain? Ini lagi-lagi adalah soal simulacra,” terangnya.
“Soal bagaimana kekuasaan coba menghidupkan persepsi publik itu sesuai dengan yang mereka inginkan,” lanjutnya.
Sebelumnya, nama Tiyo Ardianto menjadi sorotan karena berani mengkritik bahwa program MBG tersebut adalah semrawut.
Tiyo Ardianto memberikan kritik dengan mengirim surat terbuka ke UNICEF pada 6 Februari 2026, merespons tragedi siswa SD di NTT yang diduga tak mampu membeli alat tulis.
BACA JUGA:Laba Unaudited Tembus Rp6 T, Ini Langkah PalmCo Capai Lompatan Kinerja
Dalam sikapnya, Tiyo ikut mengkritisi prioritas anggaran pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pada kritiknya tersebut, Tiyo juga mengucapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sebagai Presiden Bodoh.
“PRESIDEN BODOH, Kita sedang dipimpin oleh orang bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar, tapi justru memilih menularkan kebodohannya kepada yang lain. Ajaibnya orang pintar di sekelilingnya rela-rela saja dibuat bodoh dan dengan bangga menjunjung kebodohan pimpinannya,” tulisnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: