Thrifting Bakal Banjiri Pasar Menuju Lebaran 2026, Tantangan Bagi Pengusaha Lokal!

Thrifting Bakal Banjiri Pasar Menuju Lebaran 2026, Tantangan Bagi Pengusaha Lokal!

Suasana pelabuhan Tanjung Priok ketika tim Disway menelusuri jejak impor pakaian bekas dari luar negeri.-Cahyono/Disway.id-

Pertama thrifting juga membuka peluang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk mendapatkan pakaian layak dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

"Thrifting bisa membantu mengurangi limbah tekstil, meningkatkan kesadaran konsumsi berkelanjutan, dan memberikan peluang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk memperoleh pakaian layak dengan harga terjangkau," jelasnya.

Namun demikian, Suardi mengingatkan adanya sejumlah dampak negatif yang perlu menjadi perhatian serius. 

Salah satunya adalah potensi ancaman terhadap industri tekstil lokal. 

Menurutnya, ketika masyarakat lebih memilih membeli pakaian bekas impor dibanding produk dalam negeri, maka daya saing industri lokal bisa terdampak.

Selain itu, ia juga menyoroti risiko kesehatan dari pakaian bekas yang tidak terjamin kebersihannya. 

Pakaian yang tidak melalui proses sterilisasi berpotensi membawa bakteri atau virus.

"Perilaku thrifting ini dapat mengancam industri tekstil lokal. Juga bisa meningkatkan risiko penyebaran penyakit apabila kebersihannya tidak terjaga," ucapnya.

Dari sisi fiskal, thrifting yang dilakukan secara informal dan tidak tercatat juga berpotensi mengurangi pendapatan negara dari sektor pajak.

Karena itu, Suardi menilai perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai dampak thrifting, baik positif maupun negatif. 

Pewarta: Cahyono, Rafi Adhi & Candra Aditya Pratama

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads