Konflik Timur Tengah Membara, Kepala BPOM Wanti-wanti Harga Obat Bakal Ikut 'Meledak'!
Berdasarkan kalkulasi BPOM, masyarakat diminta tidak perlu panik akan terjadinya kelangkaan dalam waktu dekat.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Eskalasi konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ketahanan nasional Indonesia.
Bukan hanya soal geopolitik, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini mulai memasang alarm waspada terkait dampaknya terhadap sektor kesehatan, terutama potensi lonjakan harga obat-obatan di pasar domestik.
BACA JUGA:Intip Perkiraan Harga Tiket Konser Laufey di Jakarta 23 Mei 2026, Yuk Siapin Tabungan!
BACA JUGA:Siswa MIN 2 Bengkulu Meninggal Diduga Gegara Keracunan MBG, Istana Buka Suara!
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa sektor farmasi menjadi titik yang paling rentan terkena imbas guncangan global ini.
Hal tersebut disebabkan karena ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan baku impor yang masih tergolong tinggi.
"Kita tahu bahwa obat dan makanan itu adalah bagian dari ketahanan nasional. Kesimpulannya, akibat dari konflik di Timur Tengah itu pasti berdampak. Dan kekhawatirannya berdampak pada harga, khususnya harga obat," ujar Taruna saat ditemui di kantor BPOM, Rabu 4 Maret 2026.
Berbeda dengan sektor farmasi yang dibayangi ketidakpastian harga, Taruna sedikit bernapas lega melihat kondisi ketahanan pangan Indonesia.
BACA JUGA:Konflik AS-Israel dan Iran Jadi Alarm Ketahanan Energi Indonesia
BACA JUGA:Bertepatan Nyepi, Takbiran di Bali Disepakati Tanpa Sound System
Menurutnya, Indonesia berada dalam posisi yang lebih kuat karena sudah tidak lagi bergantung pada impor beras.
Beberapa produk pangan strategis pun saat ini sudah mampu diproduksi secara mandiri di dalam negeri.
"Kita bersyukur dalam konteks kenegaraan kita, pasokan kita sudah tidak mengimpor beras lagi dan beberapa produk pangan kita juga sudah memproduksi sendiri," imbuhnya.
Meski bayang-bayang kenaikan harga menghantui, BPOM menegaskan bahwa hingga saat ini ketersediaan obat-obatan di gudang-gudang perusahaan farmasi besar masih mencukupi.
Langkah antisipasi yang telah disiapkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu dianggap menjadi penyelamat sementara di tengah krisis dunia.
BACA JUGA:Bahlil Luruskan Isu Stok BBM 20 Hari: Itu Hanya Daya Tampung, Bukan Batas Aman
BACA JUGA:Archipelago Hadirkan 'Blessings of Ramadan', Diskon 30 Persen Kamar di 124 Hotel
Berdasarkan kalkulasi BPOM, masyarakat diminta tidak perlu panik akan terjadinya kelangkaan dalam waktu dekat.
Stok yang ada saat ini diprediksi masih mampu menopang kebutuhan nasional untuk jangka waktu tertentu.
"Jadi sampai sekarang menurut hitungan-hitungan kita yang tersedia dari perusahaan-perusahaan besar farmasi, kita masih punya kecukupan. Jadi Insya Allah kita tidak akan mengalami kelangkaan obat termasuk makanan," tegas Taruna optimis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: