Industri Asuransi Jiwa Didorong Lebih Transparan dan Akuntabel Demi Perlindungan Nasabah
Menanggapi dinamika tersebut, Kompas.com Talks menggelar forum diskusi strategis bertajuk “Standar Baru Tata Kelola Asuransi dan Perlindungan Nasabah di Indonesia” di Jakarta Selatan.--istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Industri asuransi jiwa di Indonesia kini berada di persimpangan jalan yang krusial.
Di tengah tantangan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, kepercayaan masyarakat menjadi aset paling berharga yang harus dijaga.
Menanggapi dinamika tersebut, Kompas.com Talks menggelar forum diskusi strategis bertajuk “Standar Baru Tata Kelola Asuransi dan Perlindungan Nasabah di Indonesia” di Jakarta Selatan.
Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan kunci mulai dari regulator, pembuat kebijakan, hingga asosiasi untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan industri, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem asuransi yang lebih transparan dan akuntabel.
BACA JUGA:Ningsi Hati PMI asal NTB Meninggal Tanpa Jaminan Asuransi, KP2MI: Itu Pasti Unprocedure
Diskusi ini menyoroti tiga isu fundamental yang menjadi fokus perbaikan ke depan:
• Tata Kelola Perusahaan: Pengawasan ketat dan transparan menjadi harga mati demi stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik.
• Praktik Keagenan: Perusahaan asuransi bertanggung jawab penuh memastikan agen menyampaikan informasi yang akurat guna menghindari misinformasi atau misselling.
• Perlindungan Nasabah: Menjadikan pengalaman riil pemegang polis sebagai basis utama dalam penyusunan kebijakan yang lebih inklusif.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Jual Polis, Agen Asuransi Harus Jadi Ujung Tombak Literasi
Herman Khaeron, Anggota Komisi VI dan Pimpinan BAKN DPR RI, menekankan peran legislatif dalam memastikan transparansi keuangan asuransi agar memberi manfaat nyata bagi publik.
Ia juga mengapresiasi progres positif IFG Life dalam mengelola polis eks nasabah Jiwasraya sebagai langkah nyata pemulihan kepercayaan industri.
Dari sisi pengawasan, Sumarjono selaku Kepala Departemen Pengawasan Asuransi OJK, menegaskan bahwa tata kelola dan manajemen risiko harus bergeser dari sekadar kepatuhan administratif menjadi sebuah budaya perusahaan.
"Industri asuransi hidup dari kepercayaan," ujarnya singkat namun tegas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: