Kisah Haru Porter Stasiun Gambir: Bantu Orang Mudik, Tapi Susah Untuk Pulang Kampung

Kisah Haru Porter Stasiun Gambir: Bantu Orang Mudik, Tapi Susah Untuk Pulang Kampung

Kesibukan porter biasanya mulai terasa beberapa hari menjelang puncak arus mudik. Tahun ini, menurut Warsito, lonjakan penumpang sudah mulai terlihat sejak sekitar tiga hari terakhir.-Disway/Hasyim Ashari-

Saat kondisi stasiun padat, para porter biasanya saling berbagi penumpang agar pekerjaan tetap merata. 

BACA JUGA:Denada Ungkap Sosok Ayah Kandung Ressa, Pria yang Tega Menghamilinya Tanpa Mau Tanggung Jawab

BACA JUGA:Pemerintah Tegaskan ART Tetap Jadi Pegangan Hubungan Perdagangan Indonesia–Amerika Serikat

Jika satu porter sudah melayani penumpang, mereka akan memberi kesempatan kepada rekan lain untuk mengambil penumpang berikutnya.

Meski harus bekerja ekstra, musim mudik juga membawa berkah tersendiri bagi para porter. Warsito mengungkapkan pendapatan mereka biasanya meningkat dibandingkan hari biasa.

“Kalau dibandingkan hari normal, peningkatannya bisa sekitar 30 sampai 40 persen,” katanya.

Namun di balik peningkatan penghasilan tersebut, ada pengorbanan yang harus mereka terima. Para porter umumnya tidak bisa pulang kampung saat Lebaran karena justru pada masa itulah penumpang sedang membludak.

“Kita biasanya Lebaran tetap di sini. Kalau pun mudik, biasanya setelahnya, itu juga cuma sebentar lalu balik lagi kerja,” ujar Warsito.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: