Dolar Tembus Rp17 Ribu, Ekonom Sarankan Ini untuk Perbaikan Fiskal
Ekonom menyarankan pemerintah memperbanyak belanja untuk menggenjot nilai tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat-Disway.id/Bianca Khairunnisa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Tembusnya nilai tukar Rupiah ke level Rp 17.105 per Dolar AS hingga kini masih terus menimbulkan kekhawatiran pada pasar keuangan Indonesia.
Pasalnya, kurs yang melemah tajam selalu membawa pesan bahwa stabilitas sedang diuji.
BACA JUGA:Apakah Hari Kartini 21 April 2026 Libur Nasional? Cek SKB 3 Menteri
BACA JUGA:Sidak Waka BGN di Bandung Barat Temukan Bangunan Tak Layak Jadi SPPG, Langsung Ditindak
Tidak hanya itu, beberapa subsidi seperti listrik, LPG, dan BBM juga terancam menjadi lebih berat ditanggung negara, karena sebagian komponen biaya sangat sensitif terhadap kurs dolar.
Menurut Ekonom dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, situasi ini mau tidak mau juga akan mendorong pemerintah harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk barang dan kebutuhan yang sama.
"Kurs bukan hanya angka di layar. Ia adalah termometer yang menunjukkan suhu perekonomian, apakah pasar sedang cemas, apakah kebijakan cukup kredibel, dan apakah fondasi ekonomi cukup kuat menghadapi tekanan global. Pelemahan rupiah biasanya mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan domestik," tutur Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Kamis, 9 April 2026.
Lebih lanjut, Achmad juga turut menambahkan bahwa dari dalam negeri sendiri, pasar juga membaca disiplin fiskal, ketahanan sektor eksternal, dan kredibilitas kebijakan ekonomi.
Dalam hal ini, walaupun struktur utang Indonesia relatif lebih hati-hati dan didominasi tenor jangka panjang, pelemahan rupiah tetap membuat pembayaran kewajiban berdenominasi dolar terasa lebih mahal dalam rupiah.
"Ini berarti ruang fiskal bisa makin sempit, apalagi jika di saat yang sama pemerintah juga harus menjaga belanja prioritas, perlindungan sosial, dan program pembangunan," pungkas Achmad.
BACA JUGA:Rupiah Anjlok ke Rp17.100 per Dolar AS, Airlangga Angkat Bicara
"Ketika kurs naik, biaya produksi ikut terdorong naik. Dari sini, tekanan menjalar ke harga barang, transportasi, distribusi, dan akhirnya ke pengeluaran rumah tangga. Ini sebabnya pelemahan rupiah bukan sekadar isu pasar uang, melainkan juga risiko sosial," tambahnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali buka suara dalam menanggapi pelemahan masif nilai tukar rupiah terhadap USD tersebut.
Dalam pernyataannya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui bahwa dampak eskalasi konflik di Timur Tengah memang menjadi salah satu alasan utama dibalik pelemahan tersebut. Kendati begitu, dirinya juga menambahkan bahwa dampak konflik tersebut juga bersifat dua arah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: