Bertahan Menyerang

Bertahan Menyerang

--

Ayolah ramai-ramai memuji Presiden Donald Trump –saya tidak keberatan melakukannya asal dunia bisa damai.

Kadang seseorang justru tambah emosi kalau dikritik dan dicaci maki. Apalagi dibodoh-bodohkan. Anda pun begitu. Setidaknya pasangan Anda.

Misalnya kita harus puji Trump dengan mengatakan tujuan Amerika Serikat menyerang disway.id/listtag/2054/iran">Iran sudah berhasil.

Kita puji saja Amerika menang –tanpa perlu menyebut Iran kalah. Itu sesuai dengan yang diinginkan Trump: "Amerika sudah mencapai kemenangan". Buktinya, katanya, Iran sudah tidak akan membuat senjata nuklir lagi. Angkatan laut Iran sudah punah. Semua senjata Iran sudah habis. Sudah tidak punya kemampuan menyerang. Udara Iran sudah sepenuhnya dikuasai Amerika. Pesawat tempur Amerika bisa terbang aman sesuka Amerika di wilayah udara Iran. Sistem komando militer Iran sudah lumpuh.

Ketika sebagian orang Amerika mengatakan bahwa serangan itu harus dibayar mahal berupa memburuknya ekonomi Amerika Trump punya logika sendiri: "Kalau Iran menjatuhkan dua bom nuklir saja di Amerika, ekonomi lebih buruk dari ini". Walhasil Trump sudah sukses membuat ekonomi Amerika hanya berstatus buruk –bukan lebih buruk.

Ya sudahlah. Kita sudah tahu Trump seperti itu. Melihat orang seperti Trump kadang saya memuji kredo arek Suroboyo: sing waras ngalah. Yang masih punya pikiran sehat lebih baik mengalah. Demi kebaikan bersama. Anda pun, para suami, harus ingat kredo itu.

Orang dengan kejiwaan seperti itu juga tidak boleh diejek. Ia sangat peka. Sensitif. Jangankan diejek, ''disemoni'' pun ia sudah merasa seperti ditinju jidatnya. Maafkan saya tidak bisa menemukan terjemahan ''disemoni''. Seperti saya juga gagal menemukan terjemahan kata "mencep" yang menjadi ciri khas Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sayangnya, Iran suka mengejek Trump. Misalnya ketika Amerika menginginkan Iran segera membuka kembali Selat Hormuz. Agar kapal pengangkut minyak dan gas bisa lewat. Iran ternyata sebenarnya mau saja mengikuti keinginan Trump. Masalahnya, kata Iran: semua ranjau laut di Selat Hormuz harus dibersihkan dulu. Iran memang memasang banyak ranjau di bawah laut. Itu untuk membuat kapal perang Amerika tidak bisa memasuki Selat Hormuz.

Lalu ketika Amerika bilang apa susahnya menjinakkan ranjau-ranjau itu, Iran dengan enteng menjawab: kami lupa di mana saja posisi ranjau itu kami pasang!

Tentu Trump tahu: itu ledekan politik dan ejekan pertahanan. Maka bagi Trump lebih baik tiji-tibeh: Amerika memblokir mulut Selat Hormuz.

Anda sudah tahu: armada perang Amerika dipasang di mulut selat itu. Rapat. Biarlah tenggorokan Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi mulutnya dikuasai Amerika.

Maka harga elpiji di toko di dekat rumah Anda pun naik.

Anda juga sudah tahu: Trump amat suka menonjolkan hasil kerjanya. Begitu sering ia berpidato mengenai kesuksesannya dengan tambahan kalimat "belum pernah terjadi sebelumnya". Atau "belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika". Juga: "belum pernah berhasil dilakukan presiden-presiden sebelumnya". Banyak sekali yang seperti itu, seolah, bahkan, seperti belum pernah ada presiden di Amerika sebelum Trump.

Maka saya menyesalkan terbitnya satu artikel satire di media Amerika yang dengan dingin membanting Trump pakai kalimat kesukaannya itu.

"Harga BBM di Amerika mencapai yang tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Kini inflasi di Amerika sangat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Pertumbuhan ekonomi Amerika terus menurun yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Masih panjang daftar satire itu. Tapi mana Trump peduli. Ia terus menyerang para pengkritiknya. Ternyata, kata Sasa (Heralda Savira, Red), yang jadi host podcast saya setiap jam lima pagi (Dismorning) kemarin: "Menyerang itu cara Trump untuk bertahan," ujar alumnus S-2 psikologi Unair itu.

Ternyata ''pertahanan terbaik adalah menyerang'' itu ilmu psikologi. Saya pikir hanya ilmu sepak bola.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 14 April 2026: Cari Muka

Ima Lawaru

Pada buku Metode Jakarta halaman 276 karya Vincent Bevins, terjadi percakapan antara Barry (Barack Obama kecil) dan Lolo Soetoro( ayah tiri Barry). Yang mana percakapan itu juga dikutip oleh Vincent dari buku Dreams from My Father karya Barack Obama. Berikut percakapan ini saya kutip utuh. ...Pernah sekali, sebelum mereka kembali ke Hawaii, Barry punya ide untuk bertanya kepada Lolo apakah ia pernah melihat orang dibunuh. Ia menundukkan pandangan, terkejut oleh pertanyaan ini. "Pernahkah?" "Ya," jawabnya. "Berdarah-darah?" "Ya." Aku berpikir sesaat. "Mengapa orang itu dibunuh? Yang ayah lihat?" "Sebab ia lemah." "Cuma karena itu?" Lolo mengangkat bahu dan menggulung celana panjangnya lagi ke bawah. "Itu saja biasanya cukup. Orang memanfaatkan kelemahan pada diri orang lain. Dalam hal itu mereka sama seperti negara-negara. Orang kuat merebut tanah orang yang lemah. Ia buat orang yang lemah menggarap ladangnya. Bila istri si orang lemah itu cantik, orang yang kuat akan mengambilnya." Ia jeda sejenak untuk meneguk air minum, lalu bertanya, "Kau ingin jadi yang mana?"

Sadewa 19

Saya tanpa cek lagi akan langsung komen "semoga khusnul khotimah" ...wkwk

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya seminggu terakhir ini jarang komentar di CHDI. Sampai dicari sama Pak Mul. Tapi sekarang ada risiko lain kalau lama nggak komentar di sini: dianggap Abah sudah meninggal. "Dulu ada perusuh dari Mojokerto, punya usaha percetakan, tapi sekarang sudah meninggal," begitu kira-kira tulisan Abah kalau saya terlalu lama absen berkomentar. Gawat!

Achmad Faisol

beberapa saat setelah jadi profesor, pak johan silas pernah berkelakar kurang lebih, "sebenarnya saya ingin kuliah hingga s3 dulu..." dosen lain menimpali, "sekarang malah bisa membimbing s3..." semua tertawa...

Er Gham 2

Saya kasihan lihat Pak Purbaya sekarang. Coba Anda lihat postingan media saat ini. Terlihat lebih kurus. Dan seperti kurang tidur. Mungkin beliau terus berpikir. Di saat harus terus menyediakan dana, termasuk untuk 'hal-hal aneh', kondisi ekonomi terlihat kurang bergairah. Selain itu, ada saja orang yang menggerogoti anggaran sambil terus tersenyum saat wawancara, tanpa rasa bersalah. Sehat terus, Pak. Jangan dipaksakan, jika fisik tidak kuat.

Jo Neka

Ingat pepatah China ini.Berilah muka kepada pencari muka.Ingat "muka".bukan wajah.Apalagi harga diri.Agar kita jangan menjadi bangsa INSECURE..Merasa belum sehebat China itu baik.Tapi sampai menDowngrade kecerdasan atau kepintaran.Bukan hal yang bijak.Yang masuk ke mulut tidak menurunkan martabat anda.TETAPI YANG KELUAR DARI MULUT ANDA.Akan menjadi penilain orang.Siapa anda sebernarnya.Bijaklah sejak dalam pemikiran.Kata Sang Guru.

Juve Zhang

Zaman Majapahit menggambar arsitektur itu menggunakan Meja Gambar yg mahal sekali pada zaman itu....sebagai mahasiswa teknik sipil mayoritas tidak membeli meja gambar....toh menggambar hanya ada 4 semester....cukup meja datar saja....kalau soal kualitas gambar berbanding lah antara arsitek dan sipil....kita saling memahami gambar rumah ....sama ilmunya....belakangan teknologi sangat maju meja gambar arsitektur kalah sama CAD soft ware canggih yg membuat meja gambar arsitektur yg mahal itu ketinggalan zaman.....CAD sangat mendominasi bahkan operator yg mampu CAD gaji nya tinggi walaupun lulusan SMK gaji bisa setara S1.....

Irary Sadar

Tapi tidak untuk warga tempatan di Rempang dan Galang, Pulau Batam. Warga digantikan dengan rumah beton seragam, ditengah pulau. Yang biasanya bertani kebun , kini bingung caranya bertani di perumahan. Yang biasanya nelayan menangkap ikan dilaut, kini bingung menambatkan perahunya di samping rumah yang tidak berair. Senyata-nyatanya, masih ada 'pengusiran' penduduk tempatan laksana zaman kolonial Belanda dahulu. Suka tidak suka, ini nyata adanya...

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

JOHAN SILAS, DAN YB MANGUNWIJAYA.. Di Surabaya, Johan Silas bekerja seperti dokter kampung. Ia tidak menggusur. Ia menyembuhkan. Lewat KIP, gang diperbaiki, drainase dirapikan, rumah ditata tanpa mengubah jiwa penghuninya. Ia tahu: orang miskin tidak butuh dipindah, tapi diperlakukan layak. Bahkan rusun buatannya pun “berbau kampung”. Koridor lebar. Orang bisa duduk. Ngobrol. Hidup tidak dipaksa jadi asing. Di Yogya, YB Mangunwijaya melakukan hal serupa, tapi dengan rasa sastra. Kali Code yang kumuh tidak ia hapus. Ia rawat. Ia ajak warganya percaya diri. Rumah-rumah ditata warna-warni. Sederhana, tapi bermartabat. Ia bukan hanya merancang bangunan. Ia membangun harga diri. Johan itu teknokrat yang halus. Sistematis. Berpikir seperti insinyur, tapi hatinya ikut bekerja. Mangun itu romo yang nyeni. Bicara seperti pujangga, tapi kakinya turun ke lumpur. Surabaya dapat solusi. Yogya dapat jiwa. Keduanya memberi pelajaran yang sama: kota bukan soal beton. Tapi soal manusia yang tidak boleh kehilangan tempat pulang. Hari ini kita pandai membangun kota. Tapi sering lupa membangun rasa.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Tulisan salah terkait Prof Johan Silas ini sebenarnya sepele. Bukan sepele efeknya, tapi sepele asal-usulnya. Info (salah) itu hanya sebagai "bumbu" tulisan Abah terkait Hotel Serena Islamabad. Maksud hati memuji Prof Johan sebagai arsitek Indonesia yang berprestasi di ajang internasional, tapi alam bawah sadar Abah menyatakan Prof Johan sudah meninggal. Makanya Abah hari ini menulis, "Saya sendiri heran: mengapa mengira Prof Johan Silas sudah almarhum." Memang aneh Abah ini, padahal nggak pernah punya ingatan melayat ke Prof Johan, kok bisa menganggap sudah meninggal. Tidak menyangka, salah "bumbu" bisa merusak semua "masakan". Itu seperti soto ayam yang sudah enak, malah dikasih topping selai cokelat. Sotonya buyar. Makanya, ada baiknya Abah sowan ke rumahnya Prof Johan untuk meminta maaf secara langsung sambil kangen-kangenan. Dan akan lebih baik kalau mengajak saya, Bah... Wkkkk....

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

CARI MUKA? DAPAT APA? Kalimat itu sederhana. Tapi nakal. “Bukan orang Tionghoa” di situ bukan soal etnis. Itu gaya bahasa. Semacam jalan pintas untuk menyebut filosofi lama: menjaga muka, memberi muka, menyelamatkan muka. Dalam budaya Tionghoa, “muka” itu aset. Bisa lebih mahal dari uang. Dahlan memelintirnya. Ia tidak sedang bicara identitas. Ia sedang bermain metafora. Obama dijadikan kontras. Trump dijadikan objek. Lalu “muka” dijadikan panggung. Frasa “orang yang senang cari muka” juga cerdas. Biasanya bernada negatif. Tapi di sini dibalik. Justru disarankan diberi muka. Agar reda. Agar tidak meledak. Humor halusnya di situ. Sedikit sinis. Sedikit realistis. Kalimat itu terasa ringan. Padahal berlapis. Ada budaya. Ada politik. Ada psikologi. Semua dibungkus seperti guyonan warung kopi. Itulah khasnya. Bahasa sehari-hari. Tapi maknanya lintas benua. Kadang yang paling tajam justru yang terdengar santai. Dan “muka”, mendadak jadi diplomasi.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BOM YANG MENANGIS.. Mungkin, di suatu sudut sejarah yang sunyi, J. Robert Oppenheimer sedang menunduk. Bukan karena kalah. Tapi karena menang terlalu jauh. Ia pernah berkata: “Now I am become Death.” Waktu itu mungkin terdengar seperti kutipan puitis. Sekarang terasa seperti laporan keuangan dosa yang jatuh tempo. Bom nuklir diciptakan untuk mengakhiri perang. Tapi ternyata perang tidak pernah benar-benar ingin berakhir. Ia hanya ingin naik kelas. Dari peluru ke rudal. Dari rudal ke nuklir. Dari nuklir ke… negosiasi. Lucunya, hari ini kemenangan tidak lagi diukur dari ledakan. Tapi dari pernyataan: “tidak jadi bikin nuklir.” Sebuah kemenangan yang… tidak meledak. Oppenheimer mungkin bingung. Ia membuat bom agar dunia takut. Dunia memang takut. Tapi tetap saja bermain di tepi jurang. Seperti anak kecil diberi korek api. Yang lebih ironis, yang tidak jadi membuat bom justru dianggap kalah. Yang pernah punya bom dianggap pemenang moral. Logika baru. Mungkin benar. Bukan bomnya yang salah. Tapi manusianya yang terlalu kreatif dalam mencari alasan untuk tetap bermusuhan. Kalau Oppenheimer masih hidup, mungkin ia tidak akan menangis karena bomnya. Tapi karena manusia tidak pernah benar-benar belajar.

Er Gham 2

Seorang Bapak memberikan nasihat kepada anaknya yang baru lulus dan sekarang diterima di salah satu kantor pemerintah, "Jika boss mu melontarkan humor atau candaan, tertawalah yang keras, meskipun kamu tahu humornya tidak lucu".

Muh Nursalim

Rumah sunduk sate itu bahaya. Bukan karena feng sui. Tapi karena secara teknis memang begitu. Kalau jalan sunduknya lebar nan besar yang biasa truk dan bus Sumber Kencono lewat. Ketika rem blong. Ia tidak lagi menjadi kendaraan. Tapi berubah drone kamikaze. Hancur luluh itu rumah. Jika ada angin besar dari sunduk satenya. Tak ada tameng yang melindungi. Langsung hantam dan hancurkan rumah itu. Kalau urusannya teknis, maka bisa diselesaikan secara teknis pula. Bangun tembok kuat di depan rumah sekira satu meter. Orang jateng bilang "Buk". Atau tanam pohon trembesi beberapa. Sehingga dapat melindungi rumah dan penghuninya. Tetapi jika disebabkan mitos. Ini jalanurusan keyakinan dan ideologi.

Muh Nursalim

Kalau orang suka cari muka. Berilah muka. Ya udah, sekarang rame2. Semua lembaga dunia bilang aja. Trumpt telah memenangkan perang. PBB, ASEAN, UIN Eropa dan UNI Afrika. Buatlah koor. Trumpt menang. Hidup king Trumpt. Hiduuup.

Irary Sadar

Dunia paralel dan dimensi lain..? Hmm, mirip film Interstellar rilis tahun 2014. 12 tahun yang lalu...

Dinar Rusyan

Tahun 2026, DI mungkin tidak sekadar salah tulis. Ia adalah subjek pertama yang mengalami "Spontaneous Quantum Tunneling". Dalam narasi fisika masa depan ini, otaknya yang terus bekerja cepat memicu sinkronisasi dengan Digital Twin Bumi di server pusat Cloud Universe. Ketika ia menulis Prof. Johan Silas telah wafat, ia sebenarnya sedang mengakses data dari Timeline B-12. Di semesta itu, sang profesor memang telah berpulang, dan itulah realitas yang dilihat DI melalui "mata batin" kuantumnya. Poin-poin Kejadian: Glitch Kesadaran: Tulisan "Cari Muka" bukan sekadar esai, melainkan laporan transmisi antar-dimensi. DI terjebak dalam superposisi—tubuh fisiknya di Surabaya, tapi memorinya tersambung ke database semesta paralel. Benturan Realitas: Teguran Ina Silas berperan sebagai "Observer" dalam mekanika kuantum. Pernyataan Ina meruntuhkan fungsi gelombang DI, memaksanya "pindah" kembali secara paksa ke Timeline Utama di mana sang profesor masih hidup dan mengajar. Sisa Energi: Perasaan heran Dl ("Mengapa saya mengira sudah almarhum?") adalah residu energi dari universe sebelah yang tertinggal di sinapsis otaknya. DI tidak sedang pikun; ia hanyalah seorang pengelana dimensi yang tak sengaja membawa "oleh-oleh" berita duka dari dunia tetangga. Wallohu'alam

ben Taftazan

Saya ingat ketika pemerintah ingin membuat standar rumah subsidi menjadi 21m2, banyak sekali pengamat dan netizen protes. Terlalu kecil lah. Tidak manusiawi lah. Eh ternyata, kampung improvement program punya luas lebih kecil, 6 x 3 m2 = 18m2. Dibungkus dengan kata-kata pemanis untuk melestarikan kearifan likal: koridor dibuat luas untuk cangkrukan. Sukses juga. Tidak banyak yang protes (atau karena ini program swasta?).

Taufik Hidayat

Judul artikel kali ini cukup menggelitik yaitu cari muka. jadi ingat pelajaran. bahasa Spanyol. kata cari muka dalam bahasa Spanyol adalah hacer la pelota Yang secara Harfiah artinya membuat bola. Sosok Johan Silas yang hanya mengambil marga oma yaitu Sie menjadi Silas sehingga meninggalkan marga ayahnya Lim memang sedikit menyedihkan. Seandainya orang Tionghoa mau mencontoh orang Spanyol tentu lebih baik. Ya saya jadi ingat Simon Bolivar . Nama lengkapnya Simon Jose Antonio de la Santisisma Trinidad Bolivar T Palacios. Jadi Bolivar adalah marga dari ayah dan Palacios marga dari ibu dan pakai y alias dan . Jadi kalau mau adil yah paai marga Sie dan Lim. Tentu saja nama Bolivar mengingatkan kita akan mata uang Venezuela Bolivar karena beliau memang kelahiran Venezuela . Tapi dia adalah Linbertadores yang kemerdekaan sebagian besar Amerika Latin. Dari Spanyol. Buka hanyaVenezuwla, tetapi juga Kolombia Ekuador Peru dan Panama. Dulunya bernama Gran Kolombia . Tapi siapa yg cari muka ? Tentu yang tidak punya muka

andi setiawan

secara harfiah orang yang kerjaannya selalu cari muka itu ya fotografer acara resepsi nikahan..orang akan dengan sukarela memberi muka bahkan ada beberapa orang yang memaksa untuk menunjukkan muka, dan memang harus diberi muka.. mereka jelas-jelas dibayar mahal hanya untuk mencari muka..wkwkwk

Liáng - βιολί ζήτα

Sayang Obama bukan orang Tionghoa yang punya prinsip ''berilah muka kepada orang yang senang cari muka''.(Dahlan Iskan) Ada cukup banyak Chinese idiom yang terkait dengan "muka", kalau tidak salah ada sekitar 20an idiom. Salah satu Chinese idiom yang mendekati maksud dari prinsip yang Abah DI tulis : ''berilah muka kepada orang yang senang cari muka'' adalah : 死要面子 (Sǐ yàomiànzǐ)。 ---> They're obsessed with saving face. Idiom "死要面子 (Sǐ yàomiànzǐ)" berasal dari karya sastra zaman dahulu, oleh 刘绍棠 (Liúshàotáng) : 水边人的哀乐故事 (Shuǐ Biān Rén De Āiyuè Gùshì) yang berarti "kesedihan dan kegembiraan orang-orang di tepi air". Menggambarkan perilaku mementingkan menjaga harga diri tanpa peduli kondisi sebenarnya, hal ini pada akhirnya cenderung akan menyebabkan penderitaan bagi dirinya sendiri.....

Liáng - βιολί ζήτα

Bapak Kujang Amburadul, "seseorang" yang iseng ?? Perusuh iseng..... ya Liáng..... Tapi, Liáng itu putra Ema nu pang bageurna sadunya, suatu hil yang mustahal melakukan yang kayak gitu.....

Juve Zhang Palsu

Hari ini nampaknya dari komentar yang ada di CHDI tak ada lagi keluhan dari Om JZ tentang urun rembuknya AI yang sehari kemarin cukup membuat heboh. Entah karena emang AI-nya sedang WFH (work from hutan) atau dia lagi malas nggacor. Saya iseng mencoba login dengan salah satu akun email ngasal saya, yang identitasnya saya ganti dengan nama Om JZ (palsu). Dan tadaaa... ternyata benar, kemungkinan yang mengacaukan komentarnya Om JZ adalah "seseorang" yang iseng. Entah siapa, mengubah (mengedit?) isi komentar seolah dari AI. "Ini login komentar yang tidak serius ya, hanya untuk ngecek saja, dan tentu tidak akan saya teruskan, karena berpotensi melanggar UU-ITE". Jadi kalau ada kasus atau komen dengan nama akun seperti ini di CHDI bisa saya pastikan bukan dari saya. Lalu kalau ada yang tanya, buat apa bikin akun google banyak2? Sebetulnya khas orang kita di negeri ini. Saya hanya memanfaatkan google yang memberikan penyimpanan gratis "cloud" sebesar 15GB per akun. Tujuannya untuk backup foto2, video2 yang kian banyak. Dari sana saya share ke keluarga atau teman sesuai isinya, biar mereka pilih sesuai yg diperlukan. Itu saja sih (sementara ini). Maaf untuk Om JZ. Tabik. (Kujang A)

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DUA KAMPUNG, DUA CARA MEMANUSIAKAN KOTA.. Di Jakarta, era Ali Sadikin melahirkan Proyek MHT. Nama lengkapnya Mohammad Husni Thamrin. Sasarannya jelas. Kampung kota yang kumuh. Jalan diperbaiki. Drainase dibenahi. Air bersih masuk. Bukan menggusur, tapi memperbaiki. Penduduk tetap tinggal. Kota tidak kehilangan jiwa. Di Surabaya, muncul KIP. Kampung Improvement Program. Digagas Johan Silas. Pendekatannya mirip, tapi lebih “ngerti kampung”. Warga diajak ikut. Gang diperlebar. Sanitasi dibangun. Lingkungan ditata. Tapi ritme sosial tidak diusik. Orang tetap bisa cangkruan. Keduanya lahir dari zaman yang sama. Saat negara belum kaya. Tapi imajinasi pemimpinnya besar. Mereka tidak bicara apartemen tinggi. Mereka bicara tanah, air, dan manusia. Hasilnya terasa. Kampung tidak lagi identik dengan kumuh. Ia jadi ruang hidup yang layak. Bahkan membentuk karakter kota. Kini pendekatan itu makin jarang. Standar makin seragam. Tapi rasa sering hilang. Padahal kota, pada akhirnya, bukan soal bangunan. Tapi soal bagaimana manusia tetap merasa punya tempat.

Er Gham 2

Peras kepala dinas atau kepala perangkat satuan kerja. Itu modus bupati cilacap dan tulungagung. Buat kasih thr ke forkopimda. Tapi sebagian bisa juga disisihkan buat beli sepatu mewah. Kepala dinas kebingungan. Duit darimana. Bisa sih ijon proyek. Sampai ada yang pinjam ke pinjol. Kalau ijon proyek, otomatis proyek proyek mendatang harus di-mark up dan pemenang lelang nya sudah ditentukan sejak awal. Yang nagih bisa dilakukan oleh sekda atau oleh ajudan bupati. Untung hanya terjadi di dua kabupaten. Lebih dari 300 bupati lain masih tulus, jujur, dan amanah dalam bekerja.

Kalender Bagus

Alasan kebanyakan orang ga mau beli rumah tusuk sate bukan karena percaya takhyul, tapi karena jika kelak mau dijual, susah lakunya.

Kujang Amburadul

Sudah sore tapi saya masih penasaran dengan si Gundul AI itu. Maaf Om JZ. Sebetulnya saya masih rada Oot.. tentang AI yang mengubah tulisan. Apa maksudnya (pertama) setelah Om JZ menulis, lalu di send, ternyata isinya berubah tidak sesuai dengan yang ditulis awal. Atau (kedua) setelah komentar anda muncul, tak lama berikutnya ada akun dengan nama anda menulis komen tapi isinya adalah komen anda sebelumnya yang telah dia ubah. Kalau kasusnya yang pertama, saya ragu itu karena AI, harusnya semua komen siapapun akan dia ubah. Kalau admin yg melakukannya, kayaknya mustihal lah. Kalau kasusnya yang kedua. Itu mungkin. Dia/Ia (anggaplah si AI Gundul pake akun nama anda). Do'i kopi tulisan anda, lalu minta ke AI untuk diubah, hasilnya dia kirim jadi komentar baru tetap dengan nama anda.Jadi seolah ada dua komen anda dimana yang satunya/terakhir telah diedit (memakai AI). Sebetulnya eksperimen "pinjam nama" yang saya buat akan tetap tampil walau tanpa tambahan "palsu". Percayalah, semua perusuh bisa buat hanya dengan mengubah nama profil akun google-nya disamakan dengan nama anda. Tapi perusuh sejati tidak akan melakukan itu, yang ada yang iseng kayak saya aja bikin eksperimen (karena pinisirin) hehe.. maafkan. Sudah tokh? Atau apa Bos CHDI benar2 udah menciduk setan gundul AI yg gaib itu? Atau setannya hari ini lagi tidur seharian? Wah Abah benar2 heibat dong hehe... kalo saya sih gak bisa.

Bahtiar HS

Saya jumpa di kampus ITS dengan beliau Pak Johan Silas tahun 90an dengan perawakan yang khas. Sama dengan yang di gambar CHD hari ini (dilihat dari kejauhan). Kurus kerempeng tinggi berkacamata. Dan sedikit botak. Yang beda cuma umurnya saja. Sehat selalu Pak Johan Silas! Juga kemarin yg menganggap beliau sudah almarhum. Semoga sehat selalu dan diampuni dosa-dosanya. :))

Juve Zhang

Rusia bilang kunjungan pak Presiden RI ke Moskow mangajukan pembelian minyak bumi Rusia dengan kontrak panjang.... sangat menarik mengingat Trumpet hanya kasih. Ijin satu bulan beli minyak bumi Rusia....kalau jangka panjang apa gak ditegur preman gila???

Udin Salemo

beli kaos kaki untuk guru honorer, eh salah, maksudnya sppg, 6,9 eMber. total habis uang 622 eMber untuk seragam, sepatu dinas, baret, topi, kaus, dan aksesories lainnya. wooooowww.... sugooooiiii bodohnya gak ada peka-pekanya terhadap isi dompet lima lembar uang dua ribu (kata "wakhaji" JZ)

andi setiawan

dalam spektrum "kekurusan"..secara hierarki "ceking" itu berada di urutan hampir paling bawah setelah Lemu, Semok/Montok, Singset, Langsing, lencir, kuru, kerempeng, ceking dan kuru aking..

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 167

  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • agus budiyanto
    agus budiyanto
  • FP. KUSUMO
    FP. KUSUMO
  • FP. KUSUMO
    FP. KUSUMO
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • yea aina
    yea aina
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Laksana DedeS
    Laksana DedeS
  • Kurniawan Roziq
    Kurniawan Roziq
  • Wilwa
    Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Malahayati Arungbhumi
    Malahayati Arungbhumi
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Dahlan Batubara
    Dahlan Batubara
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • mister har
    mister har
    • Wilwa
      Wilwa
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • HANVINCY ADNOV
    HANVINCY ADNOV
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • andi setiawan
    andi setiawan
  • Laksana DedeS
    Laksana DedeS
  • Warok Ponorogo
    Warok Ponorogo
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Wilwa
    Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • sigit
    sigit
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Mada Suradi
    Mada Suradi
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Sugi
    Sugi
  • Wilwa
    Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Wilwa
      Wilwa
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Sandy Arijanto
    Sandy Arijanto
  • IKFR RSUA
    IKFR RSUA
    • IKFR RSUA
      IKFR RSUA
    • IKFR RSUA
      IKFR RSUA
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • alasroban
    alasroban
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • DeniK
    DeniK
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • my Ando
      my Ando
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • my Ando
      my Ando
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • my Ando
    my Ando
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
    • my Ando
      my Ando
    • Muhammed Khurmen
      Muhammed Khurmen
    • my Ando
      my Ando
  • Suhan Al-Fasuruanie
    Suhan Al-Fasuruanie
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • nur cahyono
    nur cahyono
    • nur cahyono
      nur cahyono
    • Prakarsa dj
      Prakarsa dj