Pengamat Ungkap Pemicu Harga Emas Turun Rp44 Ribu per Gram Hari Ini

Pengamat Ungkap Pemicu Harga Emas Turun Rp44 Ribu per Gram Hari Ini

Menyusul kabar penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, harga emas dunia pada Senin 20 April 2026 kembali jatuh hingga mendekati USD 4.780 per ons pada perdagangan awal.--pinterest

JAKARTA, DISWAY.ID - Menyusul kabar penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, harga emas dunia pada Senin 20 April 2026 kembali jatuh hingga mendekati USD 4.780 per ons pada perdagangan awal.

Dilansir dari data BCA Sekuritas, harga emas telah turun 1 persen menjadi USD 4.780,89 per ons. 

Pasalnya, penembakan tersebut memperbarui kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang telah memicu kekhawatiran inflasi selama lebih dari tujuh minggu perang di Timur Tengah.

BACA JUGA:Selat Hormuz Kembali Ditutup, 2 Kapal Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab

"Penurunan ini menghapus sebagian besar kenaikan 1,7 persen pekan lalu," tulis data tersebut, pada Senin 20 April 2026.

Berdasarkan data situs Logam Mulia Antam yang diperbarui pukul 08.30 WIB, harga emas Antam ukuran 1 gram hari ini turun sebanyak Rp44 ribu dibandingkan catatan harga sebelumnya yakni Rp2,884 per gram.

Insiden terbaru ini tidak ayal telah membahayakan prospek pembicaraan perdamaian potensial di Islamabad. 

BACA JUGA:Kapal Pertamina Pride Bergerak ke Oman Dekati Kapal Gamsunoro, Segera Lewati Selat Hormuz?

Terlebih lagi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga menyatakan bahwa dirinya melihat peluang untuk kesepakatan sambil juga memperbarui ancaman untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran.

"Iran mengatakan bahwa tidak ada "prospek yang jelas" untuk kesepakatan," tulis data BCA Sekuritas.

Kendati begitu, Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai bahwa Indonesia masih memiliki peluang emas sebagai pemain kunci dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

BACA JUGA:Harga Emas Anjlok Lagi di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Analis Ungkap Biang Keroknya

Dalam hal ini, dirinya menuturkan bahwa permintaan global untuk nikel, kobalt, dan tembaga untuk keperluan baterai EV memberikan posisi tawar geopolitik yang kuat bagi Indonesia.

"Jika Indonesia mampu mengintegrasikan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang lebih ketat dalam proses hilirisasi, hal ini akan menarik investasi berkualitas tinggi dari negara-negara maju dan membuka akses pasar yang lebih luas," jelas Ronny kepada Disway.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: