PANDEGLANG, DISWAY – Di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, vanili kini bukan lagi sekadar tanaman biasa. Komoditas ini berkembang menjadi penghubung antara kepentingan industri dan harapan ekonomi masyarakat lokal.
Dikenal sebagai “emas hitam”, vanili di kawasan ini tengah dikembangkan secara serius oleh PT Persaudaraan Anak Bangsa (PAB), bagian dari PT Royal Agro Industri (RAI) di bawah JHL Group.
Pengembangan dilakukan di atas lahan sekitar 300 hektar dengan konsep terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kawasan ini mencakup kebun induk untuk pembibitan, area produksi dalam shading house, hingga fasilitas pengolahan pascapanen yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.
Saat ini, terdapat 37 unit rumah pembibitan dengan luas masing-masing sekitar 2.500 meter persegi. Setiap unit menopang sekitar 3.300 batang rambatan vanili yang dirawat secara intensif, mulai dari penggunaan paranet sebagai pelindung, lapisan kompos alami, hingga sistem penyiraman otomatis. Jumlah ini ditargetkan bertambah menjadi 100 unit dalam pengembangan selanjutnya.
CEO PT RAI, Anna Valentina, menjelaskan bahwa vanili bukan tanaman yang bisa dipanen cepat. Dibutuhkan waktu tiga hingga empat tahun hingga tanaman mencapai fase produksi optimal. Dalam kondisi ideal, satu tanaman mampu menghasilkan antara 1 hingga 4 kilogram vanili basah.
Namun nilai utama vanili tidak terletak pada hasil panen awal. Justru, nilai ekonomi terbesar muncul saat proses pascapanen. Tahapan panjang seperti seleksi, fermentasi ganda, hingga pengeringan membuat bobot vanili menyusut hingga 80 persen. Dari proses inilah dihasilkan polong hitam beraroma khas yang menjadi bahan baku industri makanan dan parfum dunia.
Harga vanili kering pun mencerminkan kompleksitas tersebut. Di pasaran, nilainya berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp4 juta per kilogram, tergantung kualitas yang dihasilkan.
Untuk memperkuat rantai nilai, perusahaan juga tengah membangun pabrik pengolahan seluas 5 hektar di sekitar area perkebunan. Fasilitas ini ditargetkan mampu memproduksi hingga 40 ton vanili kering dalam satu siklus produksi yang berlangsung antara empat hingga enam bulan.

--
Secara global, Indonesia saat ini menempati posisi sebagai produsen vanili terbesar kedua setelah Madagaskar. Produksi nasional pada 2024 diperkirakan mencapai 1.560 ton, dengan kontribusi sekitar 20 persen terhadap pasokan dunia. Kadar vanilin dari Indonesia bahkan mencapai 2,75 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara produsen lainnya.
Di tingkat lokal, dampak ekonomi dari pengembangan vanili mulai dirasakan masyarakat. Puluhan warga telah terserap sebagai tenaga kerja, dan jumlah tersebut diproyeksikan akan terus meningkat hingga ratusan orang seiring ekspansi kawasan.
Ade Hidayat (42), salah satu pekerja di kawasan tersebut, merasakan langsung perubahan itu. Sebelumnya ia bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kini, ia beralih ke sektor pertanian dengan pendapatan lebih stabil sekaligus memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran ekonomi dari sektor yang penuh ketidakpastian menuju sistem produksi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pengembangan vanili di Pandeglang bukan hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat lokal. Dalam konteks ini, “emas hitam” bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan instrumen nyata perubahan sosial dan ekonomi. (*)