Guncangan Transisi
--
Saya memang perlu merenung panjang sebelum mengangkat anjloknya rupiah di tulisan hari ini. Utamanya memikirkan mengapa pemerintah seperti adem-ayem saja. Tidak terlihat ada yang darurat. Tidak pula ada penjelasan baru selain yang dulu itu: turunnya kurs rupiah hanya siklikal –di saat-saat tertentu ketika banyak perusahaan sedang perlu dolar.
Tapi nyatanya penurunan nilai rupiah masih terus berlanjut, sampai angka yang mengkhawatirkan: di atas Rp17.500. Tetap saja tidak ada langkah besar pemerintah yang bisa dibaca sebagai pengereman penurunan itu.
Mungkin pemerintah beranggapan lebih baik menjaga agar cadangan devisa tetap tinggi dari pada menggunakannya untuk intervensi pasar. Toh sampai pun cadangan devisa habis belum tentu berhasil memperkuat rupiah.
Bisa juga karena hasil analisis intelijen pemerintah begitu yakin: anjloknya rupiah tidak akan membuat jatuhnya pemerintah. Unsur-unsur yang membuat pemerintah jatuh tidak atau belum terpenuhi: harga pangan relatif stabil, inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi meningkat.
Gerakan oposisi masih sangat terbatas dengan tiga atau empat tokoh utamanya yang Anda sudah tahu: Prof Saiful Mujani, Ustad Islah Bahrawi, Feri Amsari, dan Ray Rangkuti. Merekalah yang terang-terangan mengatakan tidak ada jalan lain kecuali Presiden Prabowo harus dijatuhkan. Sedang Rocky Gerung sudah masuk ke lingkaran istana.
Melihat tenangnya sikap pemerintah saya menduga semua itu sudah diperhitungkan. Itu sudah masuk risiko yang harus dihadapi akibat kebijakan baru yang dilakukan pemerintah Prabowo.
Kebijakan baru itu saya istilahkan ''ideologi baru pembangunan ekonomi''. Mungkin suatu saat kelak bisa disebut Prabowonomics.
Bisa jadi guncangan-guncangan ekonomi sekarang ini sebagai konsekuensi atas dilaksanakannya ideologi baru ekonomi Prabowo.
Ini yang enam bulan lalu saya tulis: silakan pemerintah membantu pengusaha kecil habis-habisan tapi tidak perlu membenci pengusaha besar. Silakan semua bantuan pemerintah untuk pengusaha kecil, tidak perlu lagi bantu pengusaha besar, yang penting pengusaha besar jangan diganggu. "Jangan dibantu tapi jangan diganggu".
Tumbuhnya pengusaha kecil memang sangat penting untuk kekuatan ekonomi negara jangka panjang. Tapi mengganggu pengusaha besar bisa mengakibatkan guncangan sesaat –lalu bisa berkepanjangan dan merobohkan ekonomi nasional sebelum kekuatan ekonomi kecil berhasil menjadi kekuatan utama.
Katakanlah sekarang ini kita berada dalam masa transisi. Dari masa kekuatan ekonomi berada di usaha-usaha raksasa, menuju kekuatan ekonomi berbasis usaha kecil. Usaha besar mulai dikurangi tapi usaha kecil belum tumbuh semerbak.
Lihatlah: dua juta hektare lebih kebun sawit disita untuk negara, sejumlah pengusaha kena denda sampai Rp 10 triliun, usaha nikel disunat hampir sampai pangkal, pun batubara. Pengusaha besar juga dikedipi agar membeli surat utang negara yang diberi nama Bond Patriot –dengan jumlah mencapai Rp 50 triliun. Danantara, tanpa bekerja pun bisa dapat hasil besar dari selisih bunga yang tinggi: bisa memperoleh bunga enam persen dari Rp 50 triliun dengan hanya membayar bunga dua persen.
Tidak satu pun pengusaha besar yang berani berkeluh kesah. Tapi secara informal semua itu jadi pembicaraan di meja-meja makan. Obrolan pun meluas meski tetap di bawah tanah. Keresahan tidak ditampakkan di permukaan tapi membara seperti sekam di dalam tungku. Itulah yang kemudian memunculkan apa yang disebut iklim investasi yang kurang kondusif.
Skala bisnis pertambangan nikel sampai ada yang dipotong sebesar 70 persen. Ada yang tahun lalu bisa menambang 100, tahun ini hanya boleh 30. Di batubara kurang lebih sama. Betapa anjloknya bisnis mereka.
Yang juga mereka keluhkan adalah: tersumbatnya saluran ke jalur-jalur formal. Akibatnya mereka menyelesaikan masalah lewat pihak ketiga –dan itu menimbulkan tambahan biaya yang besar.
Di lain pihak kucuran ''Dana Purbaya'' ke perbankan belum mengucur lancar ke usaha kecil di bawah. Bahan pokok MBG masih banyak dibeli dari perusahaan besar, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih masih ancang-ancang untuk berlari.
Kasarnya: yang besar-besar sudah mulai kecewa; yang kecil-kecil belum menyambut gembira.
Mungkin itu memang ciri-ciri masa transisi. Tinggal kuat-kuatan. Apakah pemerintah kuat menghadapi guncangan-guncangan sampai ekonomi kelas bawah bisa mengambil alih kekuatan ekonomi nasional.
Presiden Prabowo punya keterbatasan waktu –termasuk untuk membuat kita tetap tabah menghadapi guncangan transisi, apalagi kalau guncangannya kian kuat dan kian lama. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Mei 2026: Tahu Digigit
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TAHU SUMEDANG DAN SUMEDANG LARANG.. Dulu orang mengenal Sumedang dari dua hal: 1) Tahu dan 2) Sumedang Larang. Yang satu "digoreng". Yang satu "sejarah" kerajaan Sunda. Kini muncul babak baru: "Tahu" yang mengawasi pemerintah. Menariknya, logo aplikasi itu bukan tahu utuh. Tapi tahu yang sudah digigit. Seolah ada pesan halus: 1) Rakyat boleh ikut menggigit anggaran. 2) Bukan untuk dimakan. 3) Tapi untuk menguji isinya masih padat atau sudah kopong. Nama “Sumedang Larang” sendiri terasa cocok. Kata “larang” dalam bahasa Sunda bisa berarti mahal, berharga, atau terlarang. Maka korupsi seharusnya memang dibuat “larang”: sulit dilakukan, mahal risikonya, dan memalukan kalau ketahuan. Pak Dony tampaknya paham simbol. Ia tidak memilih ubi Cilembu sebagai ikon digitalisasi. Ia memilih tahu. Sebab tahu itu makanan rakyat. Murah. Merakyat. Tapi kalau isinya kosong, langsung ketahuan saat digigit. Dan di negeri ini, kadang masalah terbesar birokrasi memang sederhana: luarannya renyah, isiannya angin.
Kujang Amburadul
Abah cerita tentang aplikasinya Tahu Sumedang, tapi ini ada permintaan aplikasi untuk CHDI kayaknya baru jadi kompil saja belum ada realisasinya. Kalo Pemda lain bisa mengkopi aplikasi tahu Sumedang, CHDI juga boleh kali mengkopi punya Mas Azrul dan memodifikasi nya. Mari kita tunggu, kasihan nih perusuh Bah. Saya suka baca Quora, aplikasi semacam medsos ini cocok diterapkan di CHDI, bisa lebih interaktif.
Achmad Faisol
"Mereka boleh meng-copy aplikasi ini," ujar Dony Ahmad Munir, bupati Sumedang. ####### saya yakin sedikit sekali, bahkan bisa jadi ga ada kepala daerah yang meng-copy... padahal, enak banget, tinggal ganti logo... mengapa ga banyak yang meng-copy...? di negara ini susahnya semua dihubungkan dengan politik... "wah, nanti nama dia dong yang terkenal... apa mau jadi batu loncatan dia...?" "itu kan lawan politik, nanti kita, bahkan partai kita bisa tersingkir..." di sinilah jeleknya demokrasi di negeri ini... mengapa tiongkok maju...? mengapa vietnam juga menyalip...? anda sudah tahu...
Wilwa
Deuleu atau Deuleuk ini punya padanan dalam bahasa Jawa yaitu Dêlok atau Deulok. Kadang ditambah huruf “n” di depannya menjadi “Ndêlok”. Yang bahasa Indonesianya “Lihat”
Wilwa
@Kujang. Betul harusnya kadeuleu atau kadêlê. Akar katanya “deuleu” atau ditulis dêlê (gaya Jawa) yaitu memakai “eu” atau “ê” yang e nya diucapkan seperti e dalam kata “dekat” bukan e dalam kata “desa” yaitu e yang ditulis é (désa). Kekurangan utama ketika bahasa Indonesia mengadopsi huruf Latin adalah untuk huruf e ini yang seharusnya dibedakan penulisannya untuk ê (dalam “dêkat”) dan é (dalam ”désa”). Ini “diakali” di Jawa Barat dengan “eu” untuk “ê” seperti dalam “Cileungsi” untuk “Cilêngsi” atau “Cibeureum” untuk “Cibêrêm”. Tapi kalau “eu” ini diterapkan secara nasional cukup merepotkan juga. Misal: mengapa ditulis “meungapa”, mengerjakan ditulis “meungeurjakan”. :):):)
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Kata "tahu" itu termasuk kata homograf. Bisa berarti makanan, bisa juga berarti mengetahui. Pemerintah Kabupaten Sumedang memanfaatkan dengan baik branding organik Tahu Sumedang dengan membuat aplikasi bernama Tahu Sumedang yang berarti: "jadi tahu tentang Sumedang". Keren banget! Branding Tahu Sumedang sebenarnya kan bukan branding yang disengaja. Itu branding organik yang dibangun oleh penjual Tahu Sumedang yang merantau di seluruh Indonesia. Aplikasi Tahu Sumedang memang ditujukan supaya warga (dan non-warga) menjadi tahu segala hal tentang Kabupaten Sumedang. Menurut saya itu keren. Andai semua Kepala Daerah punya ide kreatif masing-masing lalu idenya diterapkan juga di daerah lain, maka Pemda-pemda akan bagus semua. Dan Indonesia akan bisa menjadi lebih baik. Dari bawah, bukan tergantung presidennya siapa.
Taufik Hidayat
Melanjutkan cerita Dimsum Kerowak, setelah 1997 Hongkong kembali ke T dengan upacara meriah menjelang 1 Juli 1997 di City Hall. Bendera Hong Kong berupa dengan lambang Bunga Bauhinia dan berdampingan dengan Bendera Merah Bintang Lima. Lucunya demokrasi loka mulai muncul . Mulai banyak foto foto bertebaran sebelum pemilu anggota legislatif . Rakyat memang tidak memilih CEO HKG yang dipilin oleh komite yang konon sangat dipengaruhi penerima pusat T di Beijing. Tapi suasana demokrasi tingkat distrik cukup terasa.. banyak kemudahan birokrasi di HKG yang buka hanya untuk penduduk lokal tapi juga untuk orang asing yang tinggal atau sering ke HKG yang disebut Frequent Traveller . Tinggal daftar paspor kita di imigrasi, langsungvdapat bar code dan setiap lewat inaigfasi cukup scan barcode tadi dan kemudian sidik hari maa dalam waktu 30 Derik sudah lewat imigrasi tanpa antri tanpa cap yapa ketemu petugas. Ininsudah ada sejak 2012 lalu. Jadi kaysan Dimsum Kerowak memang sudah edişine sejak dulu. Konon demokrasi ala HKG memang sempat sedikit ternoda sejak demo besar besaran pada 2018/19. KIta tinggu saja sampa Yi Guo Liang Zhi atau One Country Two Systems berakhir pada 2047 nanti.
Taufik Hidayat
Hari ini 13 Mei, saya koq jadi inga peristiwa 28 thn lalu yang ingin dilupakan banyak orang. Tapi saya gak bisa lupa karena saat itu anak anak saya di rumah ditinggal sednriran . Saya sedang di Singapura beberapa bulan, istri di kantor tidak bisa pulang. Telepon tidak bisa dihubungi. Waktu itu masih pakai Telepon rumah. Kami belum punya HP. Sementara seorang perempuan tua yang bekerja sebagai house keeping di hotel tempat saya bekerja bercerita taentang kejadian yang mirip yaitu kerusuhan rasial pada 1964 di Singapura. Saya pun kemudian ingat kejadian 13 mei 1969 di KL. Mungkin artikel Abah besok akan menulis pengalaman pribadi Abah lagi ngapain saat 12-13-14-15 mei 1998?
Muh Nursalim
200 rombongan studi banding. Yakin tak ada 5 persen yang berani copi paste Tahu Sumendang. Trus dijalankan di daerahnya. Terlalu banyak peluang yang hilang dengan sistem informasi secanggih itu. mana ada penguasa daerah siap diawasi real time. Transparan seperti semua ada di ruang kaca. Tak ada yang bisa disembunyikan. Akahrinya mereka yang studi banding hanya mengandai-andai. Selebihnya kembali ke asa awal birokrasi. Kalau bisa dipersulit ngapain pula dipermudah.
Imam Mashuri
Tulisan pak Dahlan hari ini keren. Akhirnya kembali ke jalurnya. Yakni memiliki penutup yang unik. Setelah sekian lama hambar. Mendiskripsikan orang pakai motto ini sebuah ide yang brilian. Terasa seperti sebuah punchline. Karena logikanya patah dengan argumen sebelumnya: yakni orangnya pendiam. Entah mana yang lebih dulu keluar dipikiran pak Dahlan ketika menulis penutup tersebut. Karakter orangnya dulu, atau mottonya dulu. Jika karakter orangnya dulu, maka pemilihan motto sebagai kalimat selanjutnya benar-benar brilian. Bagaimana sebuah motto mampu mendiskripsikan pembuatnya. Jika yang terpikirkan mottonya dulu, maka karakter pendiam di kalimat sebelumnya sungguh sangat amat brilian sekali. Mudah-mudahan tulisan selanjutnya punya penutup yang keren lagi. Maklum, saya sudah lupa kapan tulisan terakhir yang memiliki penutup berkualitas seperti ini. Jadi gak sabar membaca tulisan edisi besok. Ditunggu ya pak Dahlan.
Irary Sadar
Saya 6 Bersaudara. 4 jadi ASN, sisanya1 ibu rumah tangga, suaminya kerja swasta, dan satu lagi saya, pekerja lepas. Dari cerita-cerita ngalor-ngidul kalo lagi ngumpul, saya tau bagaimana kinerja pemerintah, staff dan ASN-nya. Jadi CHDI diatas, sungguh luarbiasa jika seperti apa yang Abah tulis. Suatu keajaiban...
Irary Sadar
Apa benar sedemikian bagusnya aplikasi ini? Apa sedemikian up to date? 'To good to be true',.. Apa boleh barcode anak yang baru lahir bisa di scan? Ndak bahaya toh. Photo MBG harus di upload? Apa pihak sekolah tidak didatangi oleh sekelompk orang secara tib-tiba? Uang masuk dan uang keluar kas daerah bisa dipantau publik? Lagi-lagi 'to good to be true'. Kadang-kadang CHDI ini terlalu bagus dipermukaan. Ceritanya sangat menarik dan bahkan luar biasa. Tapi ini hanya kadang-kadang ya, tidak selalu. contoh : cerita aplikasi yang ditulispun seperti itu. Jadi tetaplah membaca, tetapi tetap pakai akal sehat. Hehe...
Prieyanto
Mba' Nicky, tolong orderin lagi rompi untuk Abah DI, yang dipakai itu nampak kegedean. Klo udah dateng, rompi yang lama itu titipin kang Sahidin Entar ayas ambil di Gondang Pacet. #prie
Bahtiar HS
Kalau saya yang nulis CHD kali ini judulnya bukan "Tahu Digigit". Ada digigit, tapi kurang menggigit. Lebih eye-catching judulnya " Tahu Krowak". Ya nggak sih? :))
Bahtiar HS
Katanya Kota Tahu dan Ubi Cilembu. Itu hidangn di atas meja sampek saya zoom maksimal nggak ada tahu sama cilembu-nya. Yang ada jajan pasar atau jajan basah. Malah yg paling kanan seperti madu mongso dibungkus kertas minyak warna ungu. Wkwkw
Juve Zhang
@Wilwa....kita beda ideologi soal jatuhnya Rupiah....bagus artinya demokrasi berjalan...jangan ikut JZ semua.....wkwkw....saya punya Analisa sederhana saja.....ilmunya ilmu makro ekonomi kelas Ecek ecek....tapi analisa sekelas S3 Harpad university di Rawa bebek.....kampus terbaik belajar makro ekonomi....kuliah Siang Makro Ekonomi dari Prof JZ....habis makan dengan goreng ikan mas ....ilmu makro ekonomi saya simpel....mari kita bedah kurs rupiah terhadap dolar zaman Pak SBY anteng Di 9000 an karena Pak SBY tidak cetak Oreo jumbo artinya kupon atau bunga relatif bisa di imbangi dengan hasil dolar ekspor....ada keseimbangan antara kebutuhan bayar bunga Oreo dengan penghasilan dolar negara....jadi seimbang output dan input.... akibatnya dolar stabil 9000 an....nah masuk era Pak JKW ngebut pengeluaran OREO atau kutang berjangka dan ber jilid jilid....apesnya penghasilan Dolar negera stagnan tidak bisa imbangi dengan pembayaran bunga Oreo yg gede banget itu....efeknya dolar perlahan menguat terhadap Rupiah....10 tahun kemudian dari 9000 an ke 15 000 an.....satu tahun pak PRB makin gencar OREO makin nyungsep Rp ke 17 000 an....jadi ini berbanding lurus antara bunga OREO dan pokok nya yg harus dibayar oleh pemerintah dengan melemahnya Rupiah selaras....alamiah....beda sama Tiongkok mereka surplus gede dolar berlimpah ruah akibatnya Yuan menguat terus menerus jumlah Dolar kebanyakan menyebabkan jatuh nilainya terhadap Yuan.... sekarang 1 dolar setara 6,7 Yuan menguat jauh sekali dari
Juve Zhang
Sekarang 1 dolar setara 6,7 Yuan sangat meresahkan bagi eksportir Tiongkok harga barang mereka jadi mahal....nah biasanya Tiongkok intervensi dengan menarik dolar atau menambah Yuan supaya kembali ke 1 dolar setara 7 Yuan....bisa dengan cetak Yuan digital koper koper atau menarik dolar yg gentayangan di pasar mereka ....dengan panda Bond dalam dolar ...ini repot nya negara surplus Dagang gede dolar kebanyakan di pasar dalam negeri.akibatnya Yuan menguat ....karena kebutuhan Yuan lebih unggul bisa dipake bayar Gas Minyak Rusia....juga Minyak Saudi UAE pake Yuan pun Kedele Brazil pake Yuan akibat nya dolar banyak gentayangan di dalam negeri T.... biasanya paling cocok shopping emas ke Swiss setiap bulan beli 150 ton emas ke Swiss artinya buang dolar di Swiss dapat emas di bank sentral....itu strategi ciamikkk buang kelebihan dolar.... daripada di dalam negeri merusak kurs Yuan jadi makin kuat....kalau Rusia unik mereka karena Gandum berlebihan Daging Babi berlebihan Minyak Bumi berlebihan Gas sangat berlebihan mereka gak perlu dolar jadinya kurs Rubel ke Dolar menguat terus menerus....bikin presiden Trumpet kaget...harusnya ambruk jadi rubble malah kuat jadi Rubel.....wkwkwk...anomali Rusia bikin Amerika pusing....negara Rusia semua berlebihan gak perlu Dolar malah ekspor ke T semuanya dapat Yuan....beda sama negara gak punya minyak gas seperti India Pakistan Bangladesh Turki Indonesia semua mata uangnya jatuh terhadap dolar....
Juve Zhang
Motto Bos CHDI " Dolar di Seberang lautan jelas penampakan nya ....Rupiah tagihan di pelupuk mata nampak Buram dan tak menarik"....wkwk...
MULIYANTO KRISTA
Mentang-mentang jadi bintang tamu. Aplikasi pemkab Sumedang dijunjung setinggi langit oleh abah. Padahal di daerah sendiri inovasi di berbagai layanan publik sudah ada sejak zaman mak Risma. Sudah banyak pemkab/pemkot dari berbagai daerah Indonesia yang belajar ke Surabaya. Cuman karena perbedaan pilihan politik saja,abah gak pernah mau angkat berbagai kelebihan yang telah dihasilkan oleh Pemkot Surabaya. "Gajah di pelupuk mata tak tampak,kuman di seberang lautan terlihat jelas". .. #sesekali ngritik abah. ..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
JATUHNYA MATA UANG RUPIAH KITA.. Rupiah itu seperti tubuh manusia. Kalau daya tahan lemah, sedikit demam global saja langsung sempoyongan. Hari ini rupiah kembali tertekan. Dolar naik. Importir mulai gelisah. Yang punya cicilan dolar ikut susah tidur. Yang paling tenang justru penjual mie instan. Karena rakyat akhirnya kembali memasak di rumah. Penyebabnya bukan satu. Suku bunga Amerika masih tinggi. Investor dunia memilih parkir uang di dolar. Konflik geopolitik membuat pasar takut. Harga minyak mudah melonjak. Indonesia yang masih gemar impor akhirnya ikut terseret. Di dalam negeri, persoalannya lebih panjang. Struktur industri belum kuat. Ekspor masih bertumpu pada komoditas mentah. Saat harga batu bara atau nikel turun, rupiah ikut batuk. Defisit transaksi berjalan juga sering menjadi lubang lama yang belum benar-benar ditutup. Bank Indonesia bisa menahan lewat intervensi dan suku bunga. Tapi itu seperti memayungi rumah bocor saat hujan deras. Menolong. Namun tidak menyelesaikan akar masalah. Karena itu, kekuatan rupiah sejatinya bukan ditentukan slogan. Tapi produktivitas. Negara yang industrinya kuat biasanya mata uangnya ikut dihormati. ### Sisanya hanya pidato dan konferensi pers.
iskan kardap
"dari Jawa Barat, tepatnya Sumedang, kami tampilkan untuk NKRI...." bukan anak biologis tapi anaknya KDM yang sebenarnya,,, merdekAA!!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 45
Silahkan login untuk berkomentar