Rupiah Ambruk ke Level Rp 17.500, Ekonom Soroti Dampak Tekanan Domestik
Pakar ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat.--
JAKARTA, DISWAY.ID -- Pasar kembali dibuat gonjang-ganjing lantaran kurs Dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 12 Mei 2026, semakin memperkuat posisinya.
Hal tersebut berimbas pada nilai tukar Rupiah yang semakin ke sini kian melemah. Terpantau nilai tukar Rupiah dihajar berturut-turut hingga ambruk ke level Rp17.500 per Dolar AS.
Sehari sebelumnya, pada Senin, 11 Mei 2026, perdagangan ditutup dengan rapor Rupiah yang juga anjlok, melemah hingga 32 poin atau setara 0,18 persen menjadi Rp17.414 per Dolar AS.
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Ambruk ke Level Rp 17.500, Apa Strategi dan Intervensi Bank Indonesia?
Secara fundamental, angkanya semakin meroket mendekati level Rp18.000 per Dolar AS. Menurut Ekonom serta pengamat dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, pelemahan Rupiah ini menjadi pertanda akan adanya tekanan domestik yang serius.
Achmad menyoroti beberapa risiko yang harus siap ditanggung pemerintah, di antara angkanya bisa menyebabkan risiko anggaran meningkat. Khususnya untuk sektor energi dan biaya impor.
Jika tren buruk terus menimpa Rupiah maka yang dikhawatirkan terjadinya kenaikan inflasi, harga barang dan jasa akan mengikuti kebutuhan.
"Ketika kurs bergerak terlalu jauh dari asumsi fiskal, risiko anggaran meningkat. Subsidi energi berpotensi membengkak, biaya impor naik, dan imported inflation menjadi lebih sulit dikendalikan," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Rabu (13/05).
BACA JUGA:Rupiah Babak Belur Sentuh Rp17.500, Purbaya Siap Hadapi DPR
Ia menambahkan, situasinya tidak akan mudah bagi Indonesia untuk melakukan intervensi mengingat posisi negara memiliki struktur ekonomi yang heavily import dependet. Terutama untuk pada sektor energi, bahan baku industri dan barang modal.
Akibatnya, kata Achmad, setiap kali nilai tukar rupiah mengalami tren buruk, langsung meningkatkan biaya produksi nasional. Di sisi lain daya beli masyarakat belum menunjukkan adanya pergerakan masif.
"Dunia usaha menghadapi cost push inflation, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih," pungkas Achmad.
Tidak hanya dunia usaha saja, Achmad juga menyoroti data utang luar negeri Indonesia yang telah melampaui 430 miliar dolar AS atau setara dengan Rp751 triliun.
Sebab, kebutuhan pembiayaan negara terus meningkat untuk subsidi, proyek strategis nasional, dan pembayaran utang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: