Terperosok ke Rp17.414 per Dolar AS, Tanda-Tanda Rupiah Bangkit Masih Rapuh

Senin 11-05-2026,20:04 WIB
Terperosok ke Rp17.414 per Dolar AS, Tanda-Tanda Rupiah Bangkit Masih Rapuh

Rupiah tembus Rp17.400 per dolar AS. Bank Indonesia intervensi pasar untuk redam tekanan global dan jaga stabilitas nilai tukar nasional.--

JAKARTA, DISWAY.ID - Menyusul terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ke level di bawah angka 7.000, nilai tukar Rupiah juga terpantau kembali melemah seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Dilansir dari data Morningstar, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar AS telah kembali melemah hingga sebanyak 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.414 pada penutupan perdagangan.

Di sisi lain, hal serupa pun juga turut menimpa kurs Rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), yang juga ditutup melemah Rp 40 atau 0,23 persen menjadi Rp 17.415 per dollar AS.

BACA JUGA:Rupiah Diguncang Capital Outflow, Menkeu Andalkan Bond Stabilization Fund

Menurut Ekonom serta pengamat Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, pelemahan nilai tukar Rupiah ini menandakan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan yang lebih dalam dibanding sekadar fluktuasi kurs. 

"Pelemahan rupiah adalah alarm bahwa fondasi ekonomi nasional masih rapuh. Negara lain juga menghadapi tekanan yang sama, tetapi tidak semua mata uang jatuh sedalam rupiah," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Senin 11 Mei 2026.

Dalam hal ini, Achmad juga menuturkan bahwa nilai tukar sendiri pada dasarnya merupakan ukuran kepercayaan.

Oleh karena itulah, semakin kuat kepercayaan dunia terhadap ekonomi suatu negara, semakin kuat pula mata uangnya. 

BACA JUGA:Rupiah Dinilai Undervalued, Bank Indonesia Siapkan 7 Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar

Ia menilai bahwa pelemahan rupiah tidak bisa hanya dijelaskan dengan alasan eksternal seperti perang Timur Tengah atau suku bunga The Fed.

"Investor global melihat Indonesia masih menghadapi ketidakpastian fiskal, lemahnya pendalaman industri, serta ketergantungan tinggi pada impor energi dan bahan baku. Ketika kepercayaan menurun, permintaan terhadap dolar meningkat dan rupiah tertekan," pungkas Achmad.

Di sisi lain, hal serupa pun juga turut diutarakan oleh Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada. 

Menurut hasil analisis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung menemukan jalan keluarnya pun turut berkontribusi terhadap sentimen negatif pasar.

"Sentimen negatif disebabkan oleh rencana pemerintah untuk menaikkan kenaikan royalti minerba dan perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya," jelas Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, pada Senin 11 Mei 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: