Jangan Asal Sapu Kotoran Tikus, Pakar Entomologi Peringatkan Risiko Hantavirus
Langkah efektif menutup lubang tikus di rumah-Chris F-freepik.com
JAKARTA, DISWAY.ID - Penularan penyakit hantavirus yakni melalui tikus.
Kemunculan kembali kasus hantavirus membuat masyarakat mulai khawatir terhadap penyebaran penyakit yang berasal hewan pengerat itu.
Menanggapi hal tersebut Prof Upik Kesumawati, Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, mengingatkan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Prof Upik Kesumawati menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus.
BACA JUGA:Update Hantavirus di Jakarta: Dinkes DKI Catat 3 Kasus Positif
Virus ini sebenarnya sudah lama diketahui dalam penelitian di Indonesia sejak 1980-an dan dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utama nya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,“ ujar Prof Upik Kesumawati.
Ia menuturkan, manusia dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang sudah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
BACA JUGA:Timwas Haji DPR Imbau Jemaah Waspadai Hantavirus Jelang Puncak Ibadah Haji
Penularannya juga dapat terjadi jika melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang telah terkontaminasi.
Berdasarkan pedoman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
BACA JUGA:Bergejala Demam dan Batuk Berat Dicurigai Hantavirus, Kemenkes Aktifkan 51 Pusat Karantina
Gejala Hantavirus
Gejala awal terinfeksi hantavirus ini meliputi demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, badan lemas, sakit kepala, serta gangguan saluran pencernaan.
Pada kondisi lebih lanjut setelah 4–10 hari, dijelaskan oleh Kementrian Kesehatan melalui situs resminya, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: