Rifaldy Fajar dan Prihantini Terduga Pemalsu Riset Dikuliti Netizen: Bukan Dokter

Selasa 26-05-2026,10:18 WIB
Rifaldy Fajar dan Prihantini Terduga Pemalsu Riset Dikuliti Netizen: Bukan Dokter

Rifaldy Fajar dan Prihantini Terduga Pemalsu Riset Dikuliti Netizen.-@mandharabrasika/@RidhaIntifadha-Threads/X

"Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2-3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua (?) apa gak heran orang-orang dari sana?" tulis akun X @txtdarigurugenz dikutip 26 Mei 2026.

Melihat kejanggalan tersebut, netizen pun menguliti riwayat pendidikan pelaku.

Melansir dari laman Linkedln salah satu pelaku bernama Prihantini, ia adalah seorang mahasiswi lulusan UNY (2015) prodi Matematika.

Di tahun 2020, ia melanjutkan pendidikan S2 di ITB sebagai penerima LPDP.

BACA JUGA:Ramai-Ramai Ajukan Petisi Tuntut Pertanggungjawaban Irawati Puteri, Penerima Beasiswa LPDP di Stanford

Prihantini juga sempat magang di Balai Besar Laboratorium Kesehatan sebagai Reseacrh Assistant (2018).

Kemudian, ia juga pernah menjadi team content RMPI di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional RI)pada 2023.

Sempat bekerja purnawaktu pada 2023-2024 di LPDP sebagai Analyst at Directorate of Research Facilitation.

Saat ini, ia tercatat sebagai independent researcher di The IMCD BioMed Research Foundation.

Sementara itu, pelaku lainnya bernama Rifaldy Fajar juga merupakan lulusan Sarjana Matematika tahun 2014 dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Hal ini pun menuai banyak komentar dari netizen, mereka menyayangkan sikap Rifaldy Fajar dan Prihantini yang mencoreng nama baik pendidikan Indonesia.

BACA JUGA:Adu Karier Dwi Sasetyaningtyas dan Irawati Puteri, Transformasi Alumni LPDP Jadi CEO

"Perbuatan ini bener bener mencoreng nama baik pendidikan Indonesia loh, pendidikan kita (khususnya kedokteran) udah dipandang sebelah mata, ditambah ada pemalsuan kelas dunia begini apa ga amsyong," tulis akun @txtdarigurugenz.

"Yang bikin sedih, kasus ini semakin memperburuk pandangan internasional terhadap pendidikan kedokteran Indonesia. Banyak mahasiswa & dokter muda yang berjuang dengan susah payah, tapi cuma gara-gara segelintir orang begini, semua jadi ikut tercoreng." komentar salah satu netizen.

"Kalau terbukti, blacklist aja pelakunya dari semua grant & konferensi. Jangan biarkan segelintir orang rusak nama baik ribuan peneliti Indonesia yang jujur."

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: