Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan
Ahmad Tholabi Kharlie - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Idul Adha sejatinya menjadi pengingat bahwa peradaban manusia hanya dapat bertahan apabila di dalamnya masih ada kesediaan untuk berkorban, berbagi, dan merasakan penderitaan sesama.-dok disway-
BACA JUGA:Timwas Haji DPR Temukan Dugaan Pungli Tawaf Lansia, Korban Diminta Rp7,5 Juta
Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab pernah menangis ketika mendengar tangisan anak-anak kelaparan di Madinah. Ia memikul sendiri gandum dari baitul mal dan memasakkan makanan bagi mereka. Umar memahami bahwa kekuasaan bukan kehormatan pribadi.
Kekuasaan adalah amanah untuk menghadirkan keadilan sosial. Spirit seperti itulah yang semakin dibutuhkan dunia modern.
Hari ini umat manusia membutuhkan tiga bentuk kurban besar. Pertama, kurban ego dan kebencian. Terlalu banyak hubungan rusak karena manusia ingin selalu menang sendiri. Terlalu banyak persahabatan hancur karena fanatisme politik dan kepentingan sesaat.
Kedua, kurban waktu dan perhatian. Dunia modern membuat manusia sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk mengejar pengakuan.
Banyak orang kehilangan waktu untuk keluarganya sendiri. Banyak anak tumbuh tanpa percakapan hangat di rumahnya.
Ketiga, kurban harta demi keadilan sosial. Di tengah budaya hidup mewah dan konsumtif, Idul Adha mengingatkan bahwa sebagian harta manusia sesungguhnya adalah hak orang lain.
Indonesia memiliki tradisi gotong royong yang sangat kuat. Nilai itu selama puluhan tahun menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat.
Akan tetapi, modernitas perkotaan perlahan mendorong masyarakat menjadi semakin individualistik. Relasi sosial menjadi lebih transaksional. Keberhasilan sering diukur melalui pencapaian material semata.
BACA JUGA:Timwas Haji Minta Pemerintah Tambah Psikolog dan Dokter Jiwa untuk Jemaah Lansia
Karena itu, Idul Adha penting dibaca bukan hanya sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai kritik sosial terhadap arah kehidupan modern yang kehilangan dimensi empati.
Demikian pula haji yang mabrur tidak berhenti pada gelar sosial. Ia harus tampak dalam akhlak. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut pula ia kepada manusia.
Hari ini dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia tidak kekurangan orang kaya. Dunia juga tidak kekurangan orang berkuasa. Dunia mulai kekurangan manusia yang rela berkorban demi sesamanya.
Mungkin dunia tidak akan langsung berubah hanya karena satu hari raya. Akan tetapi, peradaban besar selalu lahir dari hati-hati kecil yang masih mampu merasakan penderitaan orang lain. Dan barangkali, di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan dan kerakusan, pengorbanan adalah bahasa terakhir yang masih mampu menyelamatkan kemanusiaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: