Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan
Ahmad Tholabi Kharlie - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Idul Adha sejatinya menjadi pengingat bahwa peradaban manusia hanya dapat bertahan apabila di dalamnya masih ada kesediaan untuk berkorban, berbagi, dan merasakan penderitaan sesama.-dok disway-
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah simbol perjuangan manusia melawan ego dan keterikatan duniawi. Allah tidak membutuhkan darah Ismail.
Allah sedang mendidik Ibrahim agar tidak ada sesuatu yang lebih dicintai selain Allah sendiri. Karena itu, inti kurban bukan terletak pada darah dan daging hewan, tapi nilai-nilai ketakwaan. (Qs. Al-Hajj: 37)
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa hakikat kurban adalah menghadirkan penghambaan total kepada Allah. Imam al-Nawawi menempatkan ibadah kurban sebagai manifestasi solidaritas sosial yang menghadirkan kebahagiaan bagi kaum fakir dan mereka yang membutuhkan.
Kurban memiliki tiga dimensi besar yang membentuk kesempurnaan makna ibadah dalam Islam. Pertama, dimensi tauhid.
BACA JUGA:Catat! Tak Ada Pembagian Daging Kurban di Masjid Istiqlal pada Iduladha 2026
Kurban melatih manusia untuk menempatkan Allah di atas ego, ambisi, dan kepentingan duniawi. Dalam kehidupan modern, “penyembelihan” yang paling berat sering kali bukan terhadap hewan kurban, melainkan terhadap kesombongan, kerakusan, hawa nafsu, dan keinginan untuk selalu menang sendiri.
Hari ini manusia hidup dalam budaya yang terus mendorong pencapaian personal. Media sosial membentuk ruang kompetisi yang tidak pernah selesai. Banyak orang merasa harus selalu terlihat sukses, kaya, bahagia, dan unggul di hadapan publik.
Di tengah budaya “flexing” dan pencitraan semacam itu, Idul Adha mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan. Pengorbanan tidak selalu berarti kehilangan materi. Pengorbanan sering kali berarti kesediaan menahan ego demi menjaga kemanusiaan.
Kedua, dimensi sosial. Islam tidak menghendaki kebahagiaan hanya berputar di kalangan orang-orang mampu. Di hari raya ini, kaum miskin harus ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
Anak-anak yatim harus ikut tersenyum. Mereka yang jarang menikmati makanan layak harus merasakan perhatian saudaranya.
BACA JUGA:TelkomGroup Dukung Menkomdigi, Ciptakan Ruang Digital Aman Bagi Anak Melalui PP Tunas
Kurban mengajarkan bahwa harta tidak boleh berhenti sebagai simbol kemewahan pribadi. Harta harus menjadi jalan menghadirkan kasih sayang sosial. Sebab di tengah kehidupan yang semakin individualistik, agama hadir untuk menghidupkan kembali kepedulian antarsesama.
Spirit ini menjadi sangat penting bagi Indonesia hari ini. Ketimpangan sosial masih terasa di banyak tempat. Budaya konsumtif tumbuh cepat di ruang digital. Sebagian masyarakat berlomba mempertontonkan kemewahan, sementara sebagian lain berjuang memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
Di tengah realitas itu, Idul Adha mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan pada apa yang berhasil ia kumpulkan, melainkan pada apa yang berhasil ia berikan.
Ketiga, dimensi kemanusiaan universal dan ekologis. Rasulullah Saw. melarang penyiksaan terhadap hewan dan memerintahkan penyembelihan dilakukan dengan penuh kelembutan. Islam dibangun di atas rahmat dan penghormatan terhadap kehidupan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: