Synology Luncurkan ActiveProtect Manager 2.0, Perkuat Ketahanan Siber dan Manajemen Data Enterprise
ActiveProtect Manager 2.0 juga dapat terintegrasi dengan antivirus pihak ketiga untuk memindai backup dari malware, sehingga hanya versi data yang bersih dan terverifikasi yang tersedia untuk proses recovery.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Synology mengumumkan pengembangan terbaru untuk membantu organisasi menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan data enterprise.
Pengumuman ini disampaikan dalam press event global Synology yang digelar dalam rangkaian Computex 2026 di Taipei, Taiwan, di mana Synology memaparkan arah pengembangan platform datanya untuk mendukung kebutuhan AI dan ketahanan siber enterprise.
BACA JUGA:2 Porsche Silmy Karim Disita KPK: Tak Tercatat di LHKPN
Seiring meningkatnya pemanfaatan AI dan semakin kompleksnya ancaman siber, perusahaan kini membutuhkan infrastruktur data yang tidak hanya mampu menyimpan dan melindungi informasi, tetapi juga membantu data digunakan secara lebih aman, terkontrol, dan siap dipulihkan ketika terjadi insiden.
Melalui roadmap generasi berikutnya dari DiskStation Manager (DSM) dan pembaruan ActiveProtect Manager 2.0, Synology memperkuat pendekatan untuk mendukung organisasi dalam mengelola data sebagai aset strategis.
Pengembangan ini mencakup pemanfaatan AI secara privat di lingkungan on-premise, pengelolaan infrastruktur dalam skala besar, serta perlindungan data yang bergerak dari pemulihan reaktif menuju pertahanan yang lebih proaktif.
BACA JUGA:Momen Teddy Telepon Said Iqbal Malam-Malam, Kasih Kabar Dilantik sebagai Penasihat Presiden Hari Ini
“Adopsi AI di enterprise kini bukan lagi tantangan utama. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana organisasi tetap memiliki kendali penuh atas data mereka,” ujar Philip Wong, Chairman dan CEO Synology.
“Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Synology terus mengembangkan platform yang siap mendukung kebutuhan AI, sekaligus menjaga agar data tetap berada dalam lingkungan yang aman, terkelola, dan berada dalam kendali organisasi,” jelasnya.
Menjaga Kendali Data di Tengah Percepatan Adopsi AI
Banyak perusahaan telah memiliki data internal yang sangat bernilai, mulai dari dokumen kerja, catatan operasional, log sistem, hingga metrik infrastruktur.
Namun, data tersebut sering kali tersebar di berbagai sistem dan belum sepenuhnya mudah dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas, otomatisasi, maupun pengambilan keputusan.
BACA JUGA:Profil dan Biodata Said Iqbal, Bos Partai Buruh yang Bakal Dilantik Jadi Penasihat Presiden
Di sisi lain, penggunaan layanan AI berbasis cloud dapat menimbulkan pertimbangan baru terkait privasi, biaya, tata kelola, dan kepatuhan.
Generasi berikutnya dari DSM dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan membawa sistem operasi penyimpanan Synology menjadi platform data cerdas yang mendukung alur kerja AI secara privat di lingkungan lokal.
Dengan pendekatan ini, organisasi dapat membangun knowledge base privat dari data yang telah mereka miliki, sehingga AI dapat membantu mengolah informasi internal tanpa harus memindahkan data sensitif ke luar lingkungan perusahaan.
Synology Office Suite AI Assistant turut memberikan cara yang lebih praktis bagi tim untuk meningkatkan produktivitas melalui dukungan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Untuk kebutuhan AI yang lebih intensif, Synology juga menghadirkan dukungan melalui server rack GPU dan appliance AI khusus, sehingga proses inferensi dapat dilakukan secara lokal.
BACA JUGA:20 Korporasi Berprestasi Raih Penghargaan Indonesia Corporate Media Impact Awards 2026
Sementara itu, Bie-i Chu, Executive Vice President of Synology NAS Group, menjelaskan bahwa DSM generasi berikutnya dibangun untuk menjawab kebutuhan AI sekaligus tuntutan operasional enterprise.
“Platform ini memungkinkan organisasi menjalankan alur kerja AI secara privat, dengan tata kelola yang jelas, manajemen infrastruktur dalam skala besar, serta kontrol keamanan yang dibutuhkan tim IT untuk memenuhi tuntutan regulasi dan kepatuhan,” jelasnya.
Mengurangi Kompleksitas Pengelolaan Infrastruktur
Selain mendukung pemanfaatan AI, Synology juga memperkuat otomatisasi dan pengelolaan infrastruktur dalam skala besar.
Fitur DSM Agent membantu tim IT menjalankan berbagai tugas administrasi lintas sistem melalui pengalaman terpandu, sekaligus mendukung pengaturan workflow yang lebih kompleks.
Dengan guardrail dan kontrol governance bawaan, organisasi tetap memiliki visibilitas terhadap bagaimana AI mengakses dan menggunakan data internal.
Untuk organisasi yang mengelola banyak sistem Synology, Cluster Manager menyatukan pengelolaan infrastruktur dalam satu antarmuka terpusat.
BACA JUGA:Trenggono Resmi Mundur dari TNI Usai Ditunjuk Jadi Wakil Kepala BGN
Layanan penyimpanan dan aplikasi juga dikemas sebagai workload terisolasi berbasis container, sehingga organisasi dapat melakukan migrasi workload lintas sistem, menerapkan Quality of Service atau QoS, serta menjalankan kebijakan perlindungan data secara lebih fleksibel di seluruh fleet.
Active Insight turut menghadirkan fitur Mass Deployment untuk mempercepat provisioning dan konfigurasi sistem baru, terutama di lingkungan yang tersebar.
Dari sisi keamanan dan kepatuhan, DSM generasi berikutnya memperluas Role-Based Access Control atau RBAC agar pengaturan akses dapat dilakukan dengan lebih granular.
Log Center yang diperbarui juga menyatukan log operasional dan aplikasi dalam satu tampilan untuk kebutuhan monitoring dan audit, serta mendukung export data native ke platform observability berstandar industri.
Untuk lingkungan dengan kebutuhan keamanan yang lebih ketat, DSM juga dilengkapi secure element bawaan dan proses sertifikasi FIPS 140-3 yang sedang berjalan.
Memperluas Perlindungan Data di Berbagai Lingkungan Bisnis
Di tengah infrastruktur enterprise yang semakin tersebar, perlindungan data tidak lagi hanya berfokus pada satu lokasi atau satu platform.
BACA JUGA:Fakta MINIPACK Lion Parcel, Solusi Kirim Paket Ringan Ongkir Murah
Workload kini dapat berada di cloud, virtualisasi, maupun aplikasi SaaS, sehingga organisasi membutuhkan strategi backup dan recovery yang lebih menyeluruh.
Melalui ActiveProtect Manager 2.0, Synology memperluas dukungan backup dan recovery ke berbagai platform utama, termasuk Azure Virtual Machines, Amazon EC2, Nutanix AHV,
Proxmox VE, dan Google Workspace. Dengan cakupan ini, organisasi dapat melindungi workload di berbagai lingkungan dengan pendekatan yang lebih terpadu.
ActiveProtect Manager 2.0 juga memberikan fleksibilitas pemulihan yang lebih besar. Instance VM kini dapat dipulihkan lintas platform, baik ke lingkungan cloud maupun on-premise, sehingga organisasi memiliki lebih banyak pilihan dalam menjalankan disaster recovery dan redeployment sistem.
Dukungan backup copy ke Azure Blob Storage juga tersedia, termasuk kemampuan restorasi data cloud-to-cloud dari destinasi backup copy langsung ke lingkungan VM produksi untuk membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi biaya operasional.
BACA JUGA:Gempa M 7,8 Guncang Mindanao, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak
“AI telah membuat ancaman siber berkembang semakin cepat dan semakin sulit diimbangi oleh enterprise. Kondisi ini mendorong organisasi untuk mencari perlindungan data yang tidak hanya andal, tetapi juga mudah diterapkan,” ujar Philip Wong.
Jia-Yu Liu, Executive Vice President of Synology Data Protection Group, menambahkan bahwa ActiveProtect Manager 2.0 memperluas cakupan perlindungan ke berbagai platform cloud, hypervisor, dan SaaS utama, sekaligus menghadirkan deteksi ancaman berbasis AI.
“Dengan kemampuan ini, perlindungan data dapat bergerak dari pendekatan pemulihan yang reaktif menuju pertahanan yang lebih proaktif.”
Memastikan Data yang Dipulihkan Tetap Aman dan Bersih
Dalam menghadapi serangan siber, keberhasilan restorasi data tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat data dapat dipulihkan, tetapi juga apakah data tersebut benar-benar aman untuk digunakan kembali.
Jika organisasi memulihkan data dari backup yang telah terinfeksi atau terkompromi, proses restorasi dapat berisiko memperpanjang dampak serangan.
ActiveProtect Manager 2.0 menghadirkan deteksi anomali berbasis machine learning yang menganalisis versi backup historis untuk mendeteksi pola tidak wajar sejak dini.
BACA JUGA:Apa Penyebab Gempa Filipina M7.8 Picu Potensi Tsunami? BMKG Tegaskan Bukan Aktivitas Megathrust
Sistem ini dapat mengidentifikasi perubahan data yang abnormal, penghapusan massal, hingga indikasi aktivitas berbahaya.
File yang terdeteksi terdampak akan dikarantina secara otomatis agar data yang berpotensi terkompromi tidak ikut dipulihkan.
ActiveProtect Manager 2.0 juga dapat terintegrasi dengan antivirus pihak ketiga untuk memindai backup dari malware, sehingga hanya versi data yang bersih dan terverifikasi yang tersedia untuk proses recovery.
Fitur Auto Fallback turut melengkapi perlindungan ini dengan secara otomatis mengarahkan pemulihan ke versi backup terbaru yang bebas dari kerentanan ketika periode restorasi yang terkompromi terdeteksi.
Dengan demikian, organisasi dapat memulihkan sistem dari baseline data yang lebih aman, bersih, dan tervalidasi.
Ketersediaan
Fitur-fitur dalam roadmap DSM generasi berikutnya akan diperkenalkan secara bertahap melalui rilis DSM mendatang. ActiveProtect Manager 2.0 dijadwalkan tersedia pada kuartal ketiga 2026.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: