Perjudian Besar

Perjudian Besar

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Kalau ada diskusi terbatas yang membahas apakah pasal 33 UUD 1945 masih relevan untuk diterapkan di zaman ini, saya mau hadir. Saya ingin menjadi pendengar aktifnya. Lalu menulis laporan dari diskusi itu untuk Disway.

Baiknya diskusi itu di kampus. Di fakultas ekonomi dan bisnis. Dua ahli bisa diminta jadi panelis: yang optimistis bahwa pasal itu masih relevan dan yang punya model alternatif untuk kemajuan Indonesia.

Secara psikologis, pasal 33 itu sangat memikat hati rakyat. Istilah ''asas ekonomi kekeluargaan'' di pasal itu juga sangat cocok dengan semangat solidaritas, kebersamaan, kerukunan, dan keadilan.

Tetapi perasaan dan pikiran tidak selalu sejalan. Perasaan menyangkut hati dan rasa. Pikiran menyangkut otak dan logika. Kadang perasaan lebih dimenangkan daripada otak. Ada pula kelompok yang lebih memenangkan otak daripada sebaliknya.

Saya tertarik pada "asbabun nuzul" –keadaan di saat pasal 33 itu dilahirkan. Iklim lahirnya pasal 33 itu adalah iklim penjajahan. Kebetulan penjajah kita adalah Belanda yang amat kapitalistis –Yahudinya bangsa Eropa.

Pada zaman itu kapitalisme sedang mendapat tantangan yang hebat dari sosialisme. Semacam ''aksi kapitalisme'' yang mendapat reaksi sosialisme. Di negara-negara jajahan, gerakan anti kapitalisme sangat tinggi. Kita punya tokoh sekaliber Tan Malaka –tokoh gerakan bawah tanah yang diakui sampai Malaysia, Burma, Kamboja, Vietnam, sampai Filipina. Tan Malaka, kelahiran Sumatera Barat, terus berkeliling negara-negara itu untuk menggerakkan sosialisme di mana-mana.

Di Indonesia tokoh-tokoh pemuda yang menggerakkan kebangkitan kemerdekaan harus diakui adalah mereka yang dari golongan kiri –kiri luar sosialis maupun kiri dalamnya.

Pasal 33 UUD 1945 lahir dari iklim gerakan pemikiran seperti itu. Kala itu masyarakat kita miskin luar biasa --termasuk miskin pengetahuan dan pandangan.

Masalahnya: kita belum pernah punya kesempatan mempraktikkan Pasal 33 itu secara utuh. Setelah merdeka di tahun 1945 perhatian kita habis untuk berjuang mendapat pengakuan internasional –Belanda dan sekutunya tidak mau mengakui kemerdekaan itu. Baru di tahun 1949 Belanda mengakui.

Setelah itu terjadi pemberontakan-demi pemberontakan. Lalu sibuk menyelenggarakan pemilu pertama di tahun 1955. Pemilunya dua kali pula. Tanggal 29 September pemilu untuk memilih anggota DPR. Tiga bulan kemudian, 15 Desember, pemilu lagi untuk memilih anggota Konstituante

Waktu itu kita punya UUD Sementara tahun 1950, yang mengamanatkan agar Indonesia punya Konstituante yang bertugas khusus untuk membentuk UUD Indonesia. Anggota Konstituante harus dipilih lewat Pemilu. 

Maka tahun 1955 itu kita melaksanakan dua pemilu. Hasilnya persis sama. Urutan perolehan suaranya: Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Bung Karno, Partai Masyumi (partai Islam modernis), Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sidang-sidang Konstituante sendiri mulai berlangsung tahun 1956 di Bandung. Yakni di gedung Asia Afrika. Di gedung inilah di tahun 1955 berlangsung KTT Asia Afrika yang terkenal itu.

Sidang-sidang Konstituante berlangsung alot selama hampir tiga tahun. Terjadi perang ideologi yang sangat keras antara agama, nasionalis, dan komunis. Akhirnya Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959: kembali pakai UUD 1945.

Pembahasan UUD baru belum sampai ke asas ekonomi. Pembahasan masih berkutat di dasar negara. Dengan Dekrit Presiden maka pasal 33 juga ikut diberlakukan kembali.

Pun setelah dekrit belum ada waktu untuk menerapkan pasal 33 itu. Penggagas pasal itu, Dr Mohammad Hatta, mengundurkan diri dari jabatan wapres. Hatta terlibat konflik dengan Bung Karno –yang dianggapnya otoriter.

Setelah itu perhatian nasional fokus ke merebut Irian Barat agar kembali ke pangkuan ibu pertiwi –seperti yang akan dilakukan Tiongkok atas Taiwan. Berhasil. Irian Barat kembali ke pangkuan. Tapi kita segera terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Asas ekonomi kita pun menjadi ekonomi terpimpin. Pasal 33 tidak juga dapat slot waktu untuk dicoba. 

Mendekati 1965 ekonomi Indonesia nyaris bangkrut. Kemiskinan meluas dan mendalam. Kelaparan di mana-mana sampai ke busung lapar.

Setelah 1965, di awal Orde Barunya Pak Harto ekonomi kita diam-diam berasaskan liberalisme dan kapitalisme. Kemiskinan berkurang drastis. Pangan cukup. Sandang berlebih. Kita seperti lupa ada pasal 33 yang harus dilaksanakan.

Pun setelah reformasi. Banyak pasal di UUD 1945 yang diubah, tapi pasal 33 tidak diubah, hanya ditambah dua ayat. Tidak ada juga perdebatan mengenai pasal itu. Seolah sikap pada umumnya: biarlah pasal 33 itu ada biar pun tidak pernah dilaksanakan.

Berarti sudah lebih 50 tahun kita ''melupakan'' pasal itu. Dalam 50 tahun itu keadaan berubah total. Pun kebiasaan dan pola pikir. Ekosistem yang terbentuk sudah kapitalistik liberal. Ada yang melebihkannya dengan neoliberal. Lengkap dengan ikutannya: individualistis, koruptif dan hedonists. 

Maka apakah mungkin pasal 33 bisa dilaksanakan ketika ekosistemnya sudah jauh berubah dibanding ketika pasal itu dilahirkan.

Sungguh menarik untuk didiskusikan secara dingin, jernih, tidak emosional, tidak baper, dan sepenuhnya berorientasi demi kemajuan Indonesia ke depan.

Pemaksaan ke pasal 33 bisa saja merupakan perjudian besar. Mungkin akan berhasil. Mungkin justru sebaliknya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 8 Juni 2026: Kanan Dalam

Udin Salemo

teman udin: "dikirain ekonomi akan lebih bagus dari yang dulu. eeehhh...kenyataannya omon-omon mbelgedhes." udin: "bersyukur aja ente masih kerja, masih ada yang menggaji." teman udin: "saya tiap hari bersyukur, din. kamu gak liat kenyataan ekonomi yang semakin sulit?" udin: "jangan karena saham yang kamu beli nyungsep, lalu menilai sama rata ekonomi makin sulit." teman udin: "lhaaa ela... din, diiin. saya beli saham pakai uang dingin. jadi saham itu mau nyungsep juga gak apa2 saat ini. kecuali dua atau tiga tahun lagi masih tetap nyungsep, ya, kebangetan. bisa ngamuk juga mungkin nanti, hehehe..." udin: "nah, lhoo...."

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KREATIF - KORUPTIF.. Birokrasi biasanya tidak kreatif. Birokrat di Kantor Imigrasi ada yang kreatif. Bukan untuk bekerjanya, tapi untuk korupsinya. Uang korupsi sebesar Rp 366 M ternyata disimpan dan ditampungnya di rekening OB dan staf cleaning service. Jangan ada yang ikutan. Dosa berlapis-lapis..

Wilwa

Kelas menengah tak bisa tumbuh dengan sendirinya. Harus ada campur tangan pemerintah. Sejarah Tiongkok terkini membuktikannya. Program “sosial” pengentasan dari kemiskinan ekstrem yang memerlukan waktu 4 dekade. USA juga berhasil membuat kelas menengah “meledak” awal 1950-an sampai akhir 1960-an berkat berbagai program “sosial” yang dilakukan Franklin Delano Roosevelt awal 1930-an yang berpuncak pada program “social security” yang terkenal itu. Namun sejak awal 1970-an hingga kini, kelas menengah USA secara bertahap menyusut. Mengapa? Karena di akhir 1960-an muncul wacana bahwa era “social democrat” harus berakhir. Berpuncak pada program “tax cut” yang menguntungkan kelas kaya dan membebankan “tax” itu kepada kelas menengah di USA. Itu kalau Anda cukup jeli melihat sejarah USA dari persepsi “social democrat”. Dan ironisnya Partai Demokrat di USA kini ikut arus Partai Republik. Tak lagi “social”. Membuat lebih dari separuh rakyat USA terpuruk dalam kemiskinan. Walau secara angka, USA memiliki pendapatan per kapita yang tinggi namun income per capita itu hanya dinikmati segelintir kelas kaya yang sekitar 10%. Kelas menengah USA telah menyusut secara persentase bila dibandingkan tahun 1960-an. Dan persentase itu terus menyusut, menjadi kelas miskin. Sebaliknya, Tiongkok makin membesar kelas menengahnya, dan kemiskinan ekstrem telah diberantas. Berkat campur tangan government. Melalui pembangunan infrastruktur yang masif. Termasuk subsidi perumahan yang luar biasa. Duh text limit

Muh Nursalim

Purbaya. Ingat saat awal dilantik. Dengan joke-joke yang menarik. Gebrak ngalirkan duit pemerintah di himbara. Gimana hasilnya. Saya belum punya data terbaru. Teorinya bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Faktanya, belum terasa." Aqidah" menteri ekonomi harus kuat. Aliran apapun dia. Harus bisa buktikan bahwa teorinya benar. Maka kalau Chatib Basri benar nggantikan Purbaya. Nda apa-apa. Buktikan bahwa aliran pasar bebas itu lebih baik. Rakyat ndak peduli aliran ekonomi sang menteri.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SPPG, MARKET PLACE, DAN BEBAS ONGKIR.. A: Saya punya uang Rp1,8 miliar. Cukup gak ya buat beli 2 titik SPPG? B: Kalau di Pulau Jawa, katanya cukuplah. A: Syukurlah. Tapi saya tidak punya teman yang menawarkan titik. B: Cari saja di market place. A: Benar? Ada di market place? B: Ya... begitu katanya. A: Wah, kalau begitu saya beli sekarang. Mumpung lagi ada promo bebas ongkir. B: Hah? Apanya yang di-"kir"?

Tivibox

"Pengusaha besar tidak usah dibantu, yang penting jangan diganggu" Beberapa kali Abah menulis demikian. Saya tak tahu entah ini ada hubungannya dengan dolar 18k dan kebakaran IHSG. Siapa tahu sekarang ada sedikit diantara mereka itu yang sudah mulai merasa terganggu.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

STRATEGI DAN PROGRAM ANDALAN PAK PRABOWO, SALAH DUANYA ADALAH MBG DAN KDM.. Di awal pemerintahannya, terlihat Pak Prabowo tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Ia juga mencoba menentukan dari mana pertumbuhan itu dimulai. Dua program yang paling menonjol adalah MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. 1) Yang satu menggerakkan konsumsi. 2) Yang satu menggerakkan produksi, distribusi, dan perdagangan di tingkat desa. Bila dicermati, arahnya menarik. Pertumbuhan tidak dimulai dari lantai atas gedung pencakar langit. Tetapi dari dapur, sekolah, sawah, peternakan, warung, dan koperasi. Dari bawah ke atas. ### Strategi seperti ini mengingatkan pada Deng Xiaoping di Tiongkok pada akhir 1970-an. Saat itu Tiongkok masih miskin. Deng tidak langsung membangun raksasa-raksasa industri. Ia lebih dulu menghidupkan ekonomi pedesaan. Pertanian diperkuat. Usaha desa diberi ruang tumbuh. Pendapatan rakyat bawah dinaikkan. Konsumsi ikut bergerak. Hasilnya luar biasa. 1) Kelas menengah Tiongkok tumbuh. 2) Pasar domestik membesar. 3) Pertumbuhan ekonomi melesat selama puluhan tahun. Tentu Indonesia bukan Tiongkok. Tetapi logikanya mirip. Jika rakyat bawah memiliki daya beli, usaha kecil hidup. Jika usaha kecil hidup, kelas menengah bertambah. Pertumbuhan tinggi akhirnya bukan hanya angka di laporan. Melainkan terasa sampai ke meja makan rakyat. Semoga implementasinya makin dan semakin baik.

Nico Gunawan

Benci tapi rindu tulisan disway.saya juga kena sindrom benci tapi rindu , benci praktek lapangan ekonomi hari ini yang bikin sedih tapi masih rindu janji indah ekonomi terbang dahulu. berharap perubahan kearah baik tanpa kerusuhan. kabinet kapal besar sangat susah belok nahkoda yang dibilang paling kuat dan berani masih belum berani efisienkan menterinya sendiri. setidaknya sudah waktunya menyapih para timses dalam kabinet biarkan benar benar orang kompeten yang jalankan supaya mudah diarahkan walaupun akan menyinggung dalangnya politik tapi sumpah jabatan kepada 280juta orang harusnya lebih penting . karena nasib bangsa ini ditentukan oleh presidennya maka hanya bisa berdoa agar diberi hidayah

Juve Zhang

Bursa saham ambrol kata kata Menkeu dengan beresnya DSI 1 Juni maka Bursa akan Moncer ke langit. ....alih alih mencret ke jurang....untung org desa gak beli saham....kalau beli banyak yg masuk sumur stress.....wkqkw....bank bank Kapal Induk BBCA BBRI ambruk bagaikan kapal induk kehilangan Kapten.... kesimpulan prof JZ sangat mumpuni ilmu ekonomi makro nya DSI gak ada hubungan sama Bursa Saham....ini bantahan Berkelas profesor dari Rawa bebek....ingat baca ulang bantahan Prof JZ waktu menku bilang DSI sudah Jalan saham akan moncer keatas....saya bantah ini keliru....dan terbukti sekarang DSI sudah jalan aman damai sejak 1 Juni.....tapi bursa masih dibantai habis oleh Fund managers yg jual sahamnya dan beli Valas balik sementara ke Negara nya sehingga ungkapan Sell Indonesia memggema di email Fund managers....ini biang kerok bursa ambruk sesuai analisa prof JZ....termyata kuliah gak usah jauh jauh di Rawa bebek pun analisa nya Ciamiik mematahkan yg kuliah di Amerika di ruko pinggir jalan.....wkqqk

MULYADI PEGE

Hampir setengah jam saya memperhatikan gambar ilustrasi tangga yg abah tampilkan di muka CHDI hari ini. Miskin, setengah miskin, dan kaya. Berkali-kali saya zoom. Apaaaa artinya ini?!?! Setelah lama berpikir, mohon maaf ini menurut versi saya. MISKIN. Di Indonesia, loe kalau sudah miskin, ya sudah, miskin aja loe. Ngga usah. Berharap negara akan peduli sama loe. Boleh banget sih loe menghayal jadi setengah miskin, ngga dilarang kok. Asal jangan menghayal jadi orang kaya, berat brooo. Yang ada loe malah bakal pindah alam. Hidup itu kan seperti minum kopi!!? Kopi itu pahit, kalau loe biasa minum kopi manis, tapi yg biasa pahit, zooss khan!?! saya, adalah homo sapiens yang masih sangat yakin, bahwa salah satu jalan toll untuk merubah hidup, agar lebih baik, adalah dengan pendidikan. Lah ini, apa peduli pemerintah kita dengan dunia pendidikan!?!! Kalau istilah jalanan "peduli setan, loe mau sekolah kek, ngga kek, itu urusan loe" SETENGAH MISKIN. nah ini nih, posisi setengah enak, tapi banyakan ngga enaknya. Loe boleh menghayal jadi orang miskin, tapi yakin loe ngga mau. Sedangkan. Berharap jadi orang kaya. Udah putus harapan loe. Lah gimana ngga putus, la wong loe udah terjebak ama rutinitas hidup tiap hari. Boro-boro bisa nikmati hidup, tau-tau, loe sudah tua, sakit dah, terus?!?! Maaaati. Saya paling kasihan sama homo sapiens yg berada di posisi ini. Aturan pemerintah yg berlaku tuk orang kaya, berlaku juga Untuknya.

Tivibox

Saya koreksi sedikit. Kalau yang dimaksud Abah itu adalah pemain gelandang kanan Portugal berarti yang benar itu Luis Figo, bukan Luis Vigo. Luis Vigo itu nama anak tetangga saya, dia tergila-gila sama tim Portugal jaman dulu dan fans berat Figo dan Rui Costa. Tapi dia salah tulis waktu daftar di capil untuk akta lahir anaknya. Saking semangatnya, mungkin.

hoki wjy

Pagi ini IHSG kembali anjlok parah turun 3,5% dan Rupiah tembus 18.142. ini adalah hari berkabung bagi para pemain saham.tapi si Raja Boros tetap saja boros luar biasa kemarin kumpulin Em Be Ge lover sampai ribuan tentu itu menghabiskan dana yg tdk sedikit. ada kata kata mutiara yg berbunyi ujian terberat bagi rakyat konoha bukanlah bencana alam tapi ujian terberat bagi rakyat konoha adalah mendapatkan pemimpin yg Bod#h.

Jokosp Sp

Pak Presiden jelas harus evaluasi menteri yang bersangkutan, mau membiarkan ekonomi ini bangkrut atau sekaligus kepercayaan kepemimpinan merosot di mata warga negaranya. Indikatornya sudah jelas Rp 18.000,-/1US$, mau apalagi?. Gantilah secepat-cepatnya. Kasusnya kok jadi sulit ganti kalau dari titipan lurah yang dulu sama dari partai pendukung?. Rakyat sudah kebanyakan diberi omon-omon kosong. Minta bukti apalagi?. Katanya orang kuat?, tapi tidak ada keberanian....amsiong lagi.

Jokosp Sp

Abah harus wawancarai prof ferry ratuhihin. Sang pendukung team ekonominya yg akhirnya keluar, karena semua sarannya di tolak om wowo. Prediksi dolar akan ke 18.000 terbukti benar, karena mbg dan kmp. Itu duwid hutang harus dibayar dolar, tetapi belum akan mengasilkan income. Ini jelas masuk ke jurang ekonomi. Rakyat miskin perlunya pekerjaan, bukan dololoh makan terus dibuang ke lubang wc.

Captain Bejo

dalam edisi CHD kapan itu , abah pernah cerita tentang makan prakgtis sewaktu perjalanan dikereta. cukup masukkan air kedalam mangkuk, masukkan bahan makananya trus tunggu 10 menit, sudah siap dimakan. Akhirnya kemarin bisa incip incip jenis makanan siap saji seperti ini tapi beda tempat saja, kalo abah di China saya di Sidoarjo ;) . pas tak baca di kemasan untuk tahu dimana pabriknya, ooh sudah ada pabriknya di Sidoarjo.

Saiful Bahri

Kelas bawah atau kelas menengah atau kelas tinggi. Untuk saat ini penting dilakukan kebijakan pemerintah adalah turunkan dan stabilkan harga kebutuhan pokok warga masyarakat. Saya merasakan hal itu bisa menjadi jebakan bagi Prabowo, sbb kalau ditimbang beban mayoritas warga negara adalah sebagai kelas bawah yang mencapai 60℅ dari jumlah warga negara RI. Ayolah pak Presiden jangan terlambat melangkah...

Bahtiar HS

Ada satu strategi dari 36 strategi Tiongkok kuno (Thirty-Six Stratagems) yakni "Pura-pura Meminjam Jalan untuk Menyerang Guo" (Jiǎ dào fá Guó / 假道伐虢). Ada yg mengaitkan ini dg The Art of War dari Sun Tzu. Siasat ini intinya menggunakan dalih meminjam jalur/sumber daya dari A dengan alasan ingin mendapat B. Siasat serupa itu mungkin ini: "Membuat Suara di Timur, Menyerang di Barat" (Shēng dōng jī xī) — Mengalihkan perhatian musuh ke target palsu sebelum menyerang target asli. Kalau di Jawa mungkin mirip "Nabok nyilih tangan". Tulisan CHD pagi ini sy tangkap pesan di balik selimutnya spt itu. Seakan mendorong CB utk dijadikan Menkeu dg menunggang isu (ride by the wave), padahal maunya sebenarnya spt tersirat di paragraf ke-2 dari belakang: Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Terutama perhatikan petikan terakhir. Itu artinya: Pendekar Tua ini siap turun gunung, meski mati2an gak mau, tp demi negara yg hrs diselamatkan, siap gak siap hrs SIAP. Kalau itu terjadi, entah mengapa: saya kok mendukung sekali ya? :))

Sulaspin

Tak terbayangkan. Bagaimana seorang SMI menjadi Menkeu di era tiga presiden yg berbeda. Selama 20 tahun lebih. Ia bisa mengerti selera SBY. Dia bisa memahami keinginan Jokowi. Ia juga bisa memaklumi kemauan Prabowo. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yg dimiliki. Diakhir jabatannya kejadian tragis menimpanya. Rumahnya dijarah ratusan orang. Entah siapa yang menjarah. Lalu Purbaya ditampilkan di panggung. Membawa harapan, semangat dan optimisme baru. Rakyat membuncah. Membumbung tinggi akan hari depan yang lebih baik. Namun itu hanya seumuran jagung. Kondisi pahit dialami bangsa ini. Nilai tukar rupiah rontok berkeping-keping. IHSG ambruk berantakan. Ekonomi hancur lebur. Tak ada lagi yang tersisa. Apa lagi yang mau diharapkan. Siapa lagi yg bisa diharapkan. Untuk memperbaiki dan membalikkan situasi yang terjadi saat ini. Tak ada yang tahu. Hanya Alloh Tuhan yang maha kuasa yang mengetahui segalanya. Coba kita tanya "pada rumput yang bergoyang".

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@mbah Mars.. Saya salah satu yang sibuk "ngurus" CHDI tiap jam 4 pagi. Hanya agak saya kurangi, kalau pas cucu yang sekarang usianya 6 tahun, lewat atau akan lewat. Karena dia pura-pura tidak liat HP saya. Tapi begitu dia melirik, dan tertangkap "tertangkap tangan", dia akan teriak: "Yangti..!! Yangkung sibuk nulis komentar di DISWAY..!!". Gawat kan..??

Bahtiar HS

@mbah Mars, Ini hampir sama dengan komentar bbrp waktu lalu. Ada suami yg begitu hoby dengan mobil. Lalu dipaido sama istrinya. Makan dia bilang, "Ma aku cuman hoby mobil. Bukan hoby wanita." Sejak itu sang istri pilih diam saja lihat suaminya main mobil. :))

Herry Isnurdono

Selevel Abah DI aja kemakan hoax.... jekas2 Mensekneg Prasetyo sudah membantah adanya pergantian Menkeu Purbaya dan pergantian Gub. BI. Sudah ada pertemuan antara Purbaya dgn Gub. BI dan Dasco (Wakil Ketua DPR) mengatasi serta upaya2 utk mengembalikan nilai rupiah serta anjlognya IHSG di BEI. Kenapa Abah DI tidak mengulik rencana Purbaya ke Tiongkok cari hutang2, yaitu menawarkan bond/obligasi ke Pemerintah Tiongkok. Sepertinya Abah DI sebagai seorang pengusaha kelas atas sangat terpukul dan merasakan turunnya nilai rupiah dan turunya harga saham. Kalau pembaca Disway atau perusuh sih aman2 aja. Orang2 tetap ramai di pasar. Orang2 tetap ramai di kafe2 dan warkop. Apalagi Abah DI yg bolak balik ke LN. Beli dollar USD dan bawa ke LN utk bekal jalan2 di LN. Tapi Abah DI sebagai pengusaha sangat merasakan utk impor bahan baku. Kalau Abah DI sebagai eksporter atau pengusaha dan pemilik kebun coklat dll, joget2 karena naiknya USD. Sekarang saatnya Abah DI bangun dari mimpi. Chatib Basri tidak akan dilantik jadi Menkeu. CB masih di USA jadi Dosen Tamu di Harvadh University. Senin hari ini Presiden PS melantik Ketum Partai Buruh jadi Penasehat Presiden Urusan Tenaga Kerja. Jadi 2 tokoh buruh sudah masuk istana, sebelum sudah jadi Menteri LH, kapan Abah DI masuk istana ? seperti dulu disuruh benahi masalah listrik........

Lekas Jaya

Abah menyoroti isu paling kritikal dari transisi ekonomi kita: penyelamatan bantalan konsumsi nasional. Masuknya sosok 'kanan dalam' seperti Chatib Basri bukan sekadar ganti figur, tapi sinyal kalibrasi antara ambisi populis (seperti MBG) dan realitas disiplin fiskal. Dari kacamata makroekonomi, tergerusnya 8 juta kelas menengah adalah alarm bahaya. Jika rumor ini benar, Purbaya di BI dan Chatib di Kemenkeu bisa menciptakan bauran kebijakan (fiskal-moneter) yang solid. Namun, tantangan terberat Kemenkeu nantinya bukanlah sekadar meracik angka, melainkan memanajemen ekspektasi dan 'selera belanja' Presiden. Seperti analogi Johan Cruyff, Kemenkeu butuh playmaker yang berani mendikte tempo pengeluaran, memastikan capital flight mereda, dan APBN tidak overheating. Pasar butuh kepastian kalkulator, bukan sekadar retorika. Harapannya, 'kanan dalam' ini berani mengintervensi inefisiensi demi menghindarkan kita dari jebakan kelas menengah.

Ulil Abshor

Chatib Basri biar jadi obrolan orang2 pintar dan kaya. Saya curhat tentang PLN saja. Barusan Nemu di X, ada org cerita rumahnya di datangi orang PLN katanya mau cek meteran. Di tanya knp di cek? Di jawab meteran ga sesuai. Saat di tanya ada surat tugas apa tidak dan minta d tunjukkan, awalny ga mau nunjukin dan setelah di tunjukkan ternyata bukan dari PLN tapi dari pihak ke-3. Yang punya ngotot ga mau akhirnya mereka pergi. Ga lama ada rumah lain di komplek perumahan itu yg mau di cabut katanya melanggar BLA BLA. Adah DI...SAYA MENGALAMI SENDIRI CERITA TSB 2 TAHUN LALU. GA ADA ANGIN GA ADA HUJAN TIBA2 ORG PLN BILANG ALAT APA GITU DI RUMAH SAYA KADALUARSA DAN HARUS DI GANTI. SETELAH DI GANTI LISTRIK JADI NGGEJLEK2 DAN SOLUSI DARI MEREKA HARUS TAMBAH DAYA!!! SE BANGSAT ITUKAH PLN EX TEMPAT ANDA ITU?

Sugi

hukum besi ekonomi yang saya dapat dari artikel abah hari ini: pengabdian untuk menyelamatkan keuangan negara berpotensi menggerogoti fisik dari luar dan dalam kepada menteri yang mau mencoba terjun ke dalamnya, siapa pun dia. Semoga para menteri keuangan diberi-Nya segala kekuatan lahir dan batin. Aamiin.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KELAS MENENGAH YANG HILANG.. Bagi saya, bagian paling penting dari tulisan Pak Dahlan bukan soal siapa Menteri Keuangan berikutnya. Bukan pula soal kurs rupiah atau IHSG. Yang paling mengganggu justru satu angka: delapan juta orang keluar dari kelas menengah. Ini seperti cerita sebuah keluarga. Gajinya masih ada. Rumahnya masih berdiri. Motornya masih di garasi. Dari luar terlihat baik-baik saja. Tetapi tabungan menipis. Liburan hilang. Anak mulai berpikir dua kali untuk kuliah di tempat yang diinginkan. Itulah yang sering tidak tertangkap oleh angka pertumbuhan ekonomi. Karena yang menentukan kekuatan sebuah negara bukan jumlah orang kaya. Melainkan tebal-tipisnya lapisan kelas menengahnya. Orang kaya bisa membeli seratus mobil. Tetapi tidak bisa minum seratus gelas kopi sehari. Ekonomi bergerak karena jutaan keluarga kelas menengah belanja, makan di warung, naik kereta, membeli buku, dan menyekolahkan anak. Kalau kelas menengah menyusut, mesin ekonomi sebenarnya sedang kehilangan oli. Karena itu, siapa pun Menteri Keuangannya nanti, ukuran keberhasilannya sederhana saja: apakah lima tahun lagi jumlah kelas menengah bertambah atau justru makin banyak yang turun kelas.



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 152

  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • Bayung Lembayung
    Bayung Lembayung
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Liam Then
    Liam Then
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Bayung Lembayung
      Bayung Lembayung
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Liam Then
    Liam Then
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • Warok Ponorogo
    Warok Ponorogo
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Warung Faiz
    Warung Faiz
    • Liam Then
      Liam Then
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Warung Faiz
      Warung Faiz
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Liam Then
      Liam Then
  • Jok Khian Bundarto
    Jok Khian Bundarto
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
  • Liam Then
    Liam Then
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
    • mario handoko
      mario handoko
  • Muin TV
    Muin TV
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • hoki wjy
    hoki wjy
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
    • Liam Then
      Liam Then
  • Wilwa
    Wilwa
    • Liam Then
      Liam Then
  • my Ando
    my Ando
  • my Ando
    my Ando
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
    • Liam Then
      Liam Then
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • DeniK
    DeniK
  • Tivibox
    Tivibox
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
    • Ahmed Nurjubaedi
      Ahmed Nurjubaedi
    • Wilwa
      Wilwa
  • DeniK
    DeniK
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
    • Gerring Obama
      Gerring Obama
  • Irfan Arief
    Irfan Arief
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Wilwa
      Wilwa
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Liam Then
      Liam Then
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Liam Then
      Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Eko Darwiyanto
    Eko Darwiyanto
  • Liam Then
    Liam Then
    • Wilwa
      Wilwa
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Liam Then
      Liam Then
  • Sulaspin
    Sulaspin
  • Liam Then
    Liam Then
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
    • siti asiyah
      siti asiyah
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • WASITH channel
    WASITH channel
  • Lekas Jaya
    Lekas Jaya
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Em Ha
      Em Ha
  • hanya yotup
    hanya yotup
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Motor Listrik
    Motor Listrik
  • alasroban
    alasroban
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Nimas Mumtazah
      Nimas Mumtazah
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Lekas Jaya
      Lekas Jaya
    • Abu Faiz
      Abu Faiz
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺